Konten Media Partner
Ada 20 Juta Lebih Penderita Diabetes di Indonesia, Mayoritas Tak Terdeteksi
29 April 2025 8:55 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Ada 20 Juta Lebih Penderita Diabetes di Indonesia, Mayoritas Tak Terdeteksi
Data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) menunjukan jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 20,4 juta jiwa. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat. Data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) menunjukan jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 20,4 juta jiwa. Hal ini menjadikan Indonesia berada di posisi keempat negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia.
"Laporan terbaru di tahun 2025 dari IDF menunjukkan penderita diabetes di Indonesia mencapai 20,4 juta orang. 20 juta lebih ya. Ini tentunya menjadi masalah," ujar Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, K-EMD, FINASIM, FACP - Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Surabaya, saat ditemui Basra disela acara #SejutaJari #PunyaDia yang menjadi bagian dari kampanye ‘Stand by You’ yang digelar Kalbe Nutritionals di Surabaya, (27/4).
Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula di dalam darah. Di masyarakat, penyakit ini lebih dikenal dengan nama kencing manis.
Adi mengungkapkan, jumlah penderita diabetes yang terus meningkat menjadi masalah tersendiri. Pasalnya, hal ini akan mempengaruhi produktivitas masyarakat hingga beban biaya pengobatannya yang harus ditanggung pemerintah.
"Kalau (diabetes) tidak ditangani dengan baik akan menimbun komplikasi, sehingga beban biaya pengobatan semakin tinggi," imbuhnya.
Sementara itu berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, penderita diabetes di Surabaya diperkirakan mencapai 2,5 persen dari total penderita diabetes di Indonesia.
"Ada 2,5 persen atau lebih dari 70 ribu penderita diabetes di Surabaya," imbuh Adi.
Yang memprihatinkan, lanjut Adi, dari 20 juta lebih penderita diabetes di Indonesia sebanyak 70 persen tak menyadari jika mengalami diabetes. Artinya diabetes itu baru diketahui setelah sakit.
"70 persen dari penderita diabetes itu tidak tahu kalau dia kena diabetes. Artinya dia tidak menjalani skrining atau deteksi dini. Dia baru tahu kalau kena diabetes karena sakit. Seperti itulah gambaran penderita diabetes di Indonesia. Setelah sakit baru ketahuan kalau diabetes," terangnya.
Adi menegaskan jika tidak ditangani dengan baik, maka Indonesia akan tetap berada pada 10 besar negara penyumbang pasien diabetes terbanyak di dunia.
“Diabetes bukan penyakit yang hanya mengintai usia lanjut. Saat ini, siapa pun bisa berisiko—tanpa memandang usia atau latar belakang. Bahayanya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka sudah berada dalam kondisi prediabetes. Perlu dukungan dari berbagai pihak untuk selalu membuka akses lebih luas terhadap edukasi dan tindakan pencegahan yang sangat dibutuhkan, terutama di kota besar seperti Surabaya," tukasnya.
Adi menuturkan, prediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tetapi belum cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes. Kondisi ini sering disebut juga sebagai borderline diabetes atau prediabetes.
"Prediabetes merupakan tanda awal diabetes tipe 2, dan jika tidak ditangani dengan benar, dapat berkembang menjadi diabetes melitus," tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Hermawan Susanto, SpPD, K-EMD, FINASIM, Healthcare Expert, menekankan pentingnya skrining untuk menemukan diabetes secara dini bagi masyarakat yang berisiko menderita diabetes melitus (DM).
"Ketika kita melakukan skrining atau deteksi secara dini, maka masalahnya akan lebih mudah karena belum berat, kemudian kita akan melakukan upaya tata laksananya lebih baik karena (diabetes) belum berat," tukasnya.
