Konten Media Partner

Aksi Nyata Mahasiswa Surabaya Melawan Sampah Plastik Lewat Edible Plastic

23 November 2025 8:57 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Aksi Nyata Mahasiswa Surabaya Melawan Sampah Plastik Lewat Edible Plastic
Edible plastic, adalah inovasi kemasan ramah lingkungan yang terbuat dari bahan alami dan dapat dikonsumsi bersama makanan. #publisherstory #beritaaanaksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Edible plastic yang dibuat mahasiswa Surabaya.
zoom-in-whitePerbesar
Edible plastic yang dibuat mahasiswa Surabaya.
Sampah plastik, salah satu jenis limbah yang memiliki waktu paling lama untuk bisa terurai secara alami. Kantong plastik misalnya, membutuhkan waktu 10 hingga 1000 tahun dan botol plastik membutuhkan waktu sekitar 450 tahun.
Salah satu upaya untuk menekan penumpukan sampah plastik adalah dengan beralih menggunakan material berkelanjutan, seperti botol minum tumbler dan tas kain, sebagai pengganti produk plastik sekali pakai. Tapi bagaimana dengan produk makanan/minuman yang masih menggunakan kemasan plastik? Edible plastic jawabannya.
Edible plastic, adalah inovasi kemasan ramah lingkungan yang terbuat dari bahan alami seperti pati, gelatin, agar-agar, atau protein susu, dan dapat dikonsumsi bersama makanan. Kemasan ini berfungsi sebagai alternatif pengganti plastik konvensional untuk mengurangi limbah plastik dan sering kali aman serta mengandung nutrisi tambahan.
Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM Petra Christian University (PCU) melalui Kampung Binaan Mahasiswa (KBM) IX mengajak para warga Kelurahan Siwalankerto untuk membuat edible plastic. Workshop ini dipandu langsung oleh Dr. Renny Indrawati, S.TP., M.Nat.Sc., M.Si., dan Yosinta Christie Setiabudi, S.T.P., M.Sc. Keduanya merupakan dosen Food Technology PCU.
Dibagi menjadi dua sesi, total ada 43 kelompok berisi masing-masing tiga mahasiswa yang berpartisipasi. Dalam setiap tim, satu warga ikut belajar bersama mereka untuk membuat edible plastic.
โ€œMahasiswa dan warga saling belajar langkah demi langkah proses pembuatan edible plastic secara sederhana, yaitu dengan mencampurkan bahan-bahan alami seperti tepung tapioka, gliserol, dan air, kemudian dipanaskan hingga membentuk lembaran plastik yang dapat terurai dan bahkan aman untuk dikonsumsi,โ€ urai Marcell Nathaniel Julian selaku Ketua Panitia, Minggu (23/11).
Mahasiswa dan warga juga bisa langsung menggunakan edible plastic itu untuk menaruh teh, kopi, dan gula, lalu menyeduhnya.
Melalui workshop ini, baik warga maupun mahasiswa tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya inovasi dan gaya hidup yang bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Selain belajar mengenai edible plastic, KBM IX juga mengajak para mahasiswa untuk memberikan dampak nyata kepada warga, yakni dengan membuat ecobricks.
Sejumlah 33 tim mahasiswa membuat ecobricks dengan mengisi botol plastik bekas menggunakan sampah plastik hingga menjadi padat. Setelah itu disusun menjadi pot atau wadah tanam. Bersama-sama, mereka saling menanam bibit cabai di dalamnya.
โ€œEcobricks tersebut kemudian diberikan kepada warga di Gang Pisang,โ€ imbuh Marcell.
Gang Pisang yang terletak di wilayah Siwalankerto, Surabaya, adalah kawasan permukiman padat penduduk dengan ruang terbuka hijau yang terbatas. Kondisi ini memberi peluang besar untuk pengembangan penghijauan yang lebih optimal, guna meningkatkan kualitas lingkungan dan kenyamanan warga.
Marcell berharap agar acara ini memberikan dampak yang nyata dan signifikan bagi warga.
โ€œKegiatan ini menjadi wadah bagi warga dan mahasiswa untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian ruang terbuka hijau serta pengelolaan sampah yang baik. Semoga setelah ini mereka juga bisa mempraktikkan pembuatan dan penggunaan edible plastic serta ecobricks dalam kehidupan sehari-hari,โ€ pungkasnya.
Trending Now