Konten Media Partner
Berhaji di Usia 104 Tahun, Begini Kisah Kakek Fatahula Selama di Tanah Suci
7 Juli 2025 6:36 WIB
·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Berhaji di Usia 104 Tahun, Begini Kisah Kakek Fatahula Selama di Tanah Suci
Fatahula La Aba (104), merupakan jemaah haji tertua Debarkasi Surabaya tahun ini. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Seorang pria tua namun masih kokoh jalannya, duduk di antara ratusan jemaah haji kloter 75 lainnya saat di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Ia adalah Fatahula La Aba (104), merupakan jemaah haji tertua Debarkasi Surabaya tahun ini. Pria kelahiran 14 Desember 1920 ini berasal dari Desa Gunung Sari, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur.
Menariknya, di usia yang sudah senja ini, Fatahula masih sehat dan kuat. Hanya pendengarannya agak terganggu.
“Alhamdulillah, seumur hidup saya belum pernah opname di rumah sakit. Saya juga tidak punya penyakit seperti darah tinggi, kolesterol maupun diabetes,” terangnya.
Ketika ditanya tentang bagaimana caranya supaya tetap sehat, dia mengaku tidak memiliki tips khusus.
“Saya rasa ini merupakan karunia yang Allah SWT berikan untuk saya,” terang kakek yang memiliki 12 anak ini.
Ia pun berangkat ke tanah suci tanpa pendamping, sang istri sudah wafat mendahuluinya.
“Saya mendaftar haji tahun 2019. Alhamdulillah dapat berangkat tahun ini karena program prioritas lansia. Anak saya sebenarnya mau mendampingi, akan tetapi karena masa pendaftaran haji belum 5 tahun, jadi belum bisa berangkat tahun ini,” ungkap lansia yang dulunya berprofesi sebagai nelayan ini.
Menurut rekan sesama jemaah haji yang juga teman sekamar Fatahula selama di tanah suci, Arifin Daeng Ahmad (60 tahun), Fatahula dapat melakukan rangkaian ibadah haji dengan lancar.
“Alhamdulillah, beliau dapat melakukan tawaf tanpa bantuan kursi roda bahkan di sana beliau membantu mendorong rekan jemaah yang memakai kursi roda. Beliau setiap hari ikut tawaf,” kenang Arifin.
Menurut Arifin, mengingat usia Fatahula yang sudah 100 tahun lebih, teman-teman serombongan tidak selalu mengajak Fatahula ke Masjidil Haram ketika di Kota Makkah untuk mencegah kelelahan fisik karena jarak hotel yang jauh dari Masjidil Haram.
“Ketika tahu dirinya tidak diajak, beliau biasanya marah karena merasa masih mampu,” tuturnya.
Selama rangkaian ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), Fatahula dapat melakukan dengan lancar dan tidak mengikuti skema murur.
Murur adalah skema dalam ibadah haji di mana jemaah haji, setelah wukuf di Arafah, tidak bermalam di Muzdalifah secara konvensional, melainkan hanya melintasinya dengan bus (tanpa turun) menuju Mina. Skema ini diterapkan untuk mempercepat dan mempermudah pergerakan jemaah, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau kondisi kesehatan tertentu.
Untuk makanan, karena Fatahula masih sehat, ia makan menu yang telah disiapkan untuk jemaah haji pada umumnya, bukan menu lansia.
Fatahula berharap semoga perjalanan hajinya diterima Allah SWT dan pulang menjadi haji mabrur.
