Konten Media Partner

Cerita di Balik Sepiring Lontong Mi yang Melegenda di Surabaya, Ada Sejak 1970

12 Juli 2025 6:55 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Cerita di Balik Sepiring Lontong Mi yang Melegenda di Surabaya, Ada Sejak 1970
Bisa dihitung dengan jari kuliner lontong mi di Surabaya yang melegenda. #publisherstory #beritaaanksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Lontong Mie Babah Hoi. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Lontong Mie Babah Hoi. Foto: Masruroh/Basra
Surabaya memiliki sejumlah kuliner legendaris yang tidak hanya terkenal karena rasa makanan mereka, tetapi juga karena sejarah panjang yang menyertainya.
Salah satunya adalah Lontong Mie Babah Hoi. Lontong mie merupakan salah satu kuliner khas Surabaya. Di Surabaya ada sejumlah tempat makan yang menyediakan kuliner lontong mi, mulai dari warung kaki lima hingga restoran berbintang. Namun dari sekian banyak tempat tersebut, bisa dihitung dengan jari kuliner lontong mi di Surabaya yang melegenda. Lontong Mie Babah Hoi salah satu yang mencatatkan diri sebagai kuliner berbahan mi dan kecambah itu, yang melegenda di Kota Pahlawan.
Di balik eksistensi Lontong Mie Babah Hoi yang telah ada sejak tahun 1970, ada peran generasi ketiga di dalamnya. Dia adalah Liangga Sindu Bastian. Berkat tangan dingin pria yang kerap disapa Angga ini, Lontong Mie Babah Hoi saat ini telah memiliki 3 tempat makan di Surabaya.
"Babah Hoi itu nama ayah saya. Sedangkan lontong mi nya merupakan warisan resep dari nenek saya yang didokumentasikan oleh ayah saya," ujar Angga saat ditemui Basra di kedai Babah Hoi BG Junction, Jumat (11/7) sore.
Angga berkisah, dulunya sang nenek berjualan lontong mi secara asongan. Kala itu tak terbersit ide untuk membuka kedai makan. Hingga kelezatan lontong mi buatan nenek Angga mulai dikenal lewat mulut ke mulut.
Liangga Sindu Bastian, generasi ketiga Lontong Mie Babah Hoi
Hingga di tahun 2016, saat Angga menyuguhkan hidangan lontong mi kepada para murid tarinya, barulah muncul ide membuka sebuah kedai makan yang secara khusus menjual lontong mi.
"Murid-murid saya bilang lontong mi nya enak, kenapa nggak buka depot saja? Dari situ saya mulai kepikiran untuk buka depot," kenang Angga.
Meski demikian, kesabaran Angga mengolah resep warisan sang nenek harus di uji. Memiliki kedai makan bukan menjadi jaminan bagi Angga menerima banyak pembeli. Sebagai generasi ketiga yang menjual lontong mi tersebut, Angga mengaku di awal merintis kedai makan, tak banyak pembeli yang datang.
"Sepi pembeli, saya pun putar otak. Akhirnya kita jemput bola. Kita yang mendatangi pembeli. Kita blusukan ke pasar-pasar, keliling jualan lontong mi," kisah Angga.
Perlahan tapi pasti, kesabaran Angga mulai berbuah manis. Kedai makan miliknya yang terletak di kawasan Kapas Krampung mulai banyak pembeli.
Namun saat badai pandemi COVID-19 melanda, kesabaran Angga kembali diuji. Angga terpaksa menutup kedai miliknya karena adanya pembatasan sosial. 3 bulan lamanya Angga menutup kedai. Selama kedai tak beroperasi, Angga tak berpangku tangan. Ia memanfaatkan waktu dengan membuat kue tiram (ote-ote).
"Kan nggak bisa ke mana-mana ya waktu itu, akhirnya saya coba-coba bikin kue tiram. Resep saya dapatkan dari adik yang tinggal di Taiwan," ujar Angga.
Setelah tiga bulan menutup kedai secara total, Angga memutuskan bangkit kembali. Berjualan online dilakukan Angga demi tetap bertahan di tengah terpaan badai pandemi. Tak ketinggalan, Angga juga turut menjual kue tiram buatannya.
Respons positif didapat Angga. Kue tiram buatannya banyak diminati pembeli. Hal ini semakin memotivasi Angga melahirkan sejumlah inovasi menu-menu baru.
"Selain lontong mi dan kue tiram, sekarang saya juga punya menu lontong cap gomeh, mie kirin (mi kari Indonesia), hingga sego jahanam (nasi sambelan)," tuturnya bersemangat.
Meski memiliki beberapa menu baru, namun Angga tetap mempertahankan keotentikan lontong mi nya. Bagi Angga, resep peninggalan sang nenek menjadi harta yang tak ternilai harganya dan wajib dijaga keberadaannya.
"Saya tetap pertahankan keasliannya, misalnya tanpa petis, taburan udang kriuk sebagai topping lontong mi. Itu semua jadi ciri khas lontong mi di keluarga saya," pungkasnya.
Trending Now