Konten Media Partner

Dampak Tak Sepele dari Fenomena Bediding yang Sedang Melanda Surabaya

17 Juli 2025 6:24 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Dampak Tak Sepele dari Fenomena Bediding yang Sedang Melanda Surabaya
Meski tampak alami, ia mengingatkan bahwa perubahan iklim global bisa memperparah siklus bediding di masa depan. #publisherstory #beritaanaksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Ilustrasi cuaca dingin. Foto: Dok. Basra
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cuaca dingin. Foto: Dok. Basra
Cuaca dingin menusuk di malam hingga pagi hari belakangan ini, atau yang dikenal dengan istilah bediding. Fenomena ini dirasakan warga Surabaya beberapa hari terakhir. Di balik langit cerah dan suhu yang menjebak, tersembunyi potensi gangguan serius bagi kesehatan manusia dan keseimbangan lingkungan.
Fenomena ini dijelaskan oleh Wahid Dianbudiyanto ST MSc, pakar Teknik Lingkungan Unair, sebagai penurunan tajam suhu udara di malam hari akibat hilangnya penutup awan selama musim kemarau.
“Permukaan bumi kehilangan panas lebih cepat karena tidak ada awan yang menahan radiasi balik ke atmosfer,” jelas Wahid dalam keterangannya seperti dikutip Basra, Kamis (17/7).
Penyebab utama lainnya adalah hembusan angin muson timur dari Australia yang tengah mengalami musim dingin. Massa udara dingin dan kering masuk ke Indonesia bagian selatan akibat perbedaan tekanan antara benua Asia dan Australia.
“Inilah mengapa suhu malam hari bisa turun hingga 17 derajat Celsius, bahkan lebih rendah di dataran tinggi,” tambahnya.
Fenomena ini diperkirakan akan berlangsung hingga September, mengikuti pola puncak musim kemarau. Meski tampak alami, ia mengingatkan bahwa perubahan iklim global bisa memperparah siklus bediding di masa depan.
Penurunan suhu yang drastis tak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tapi juga berdampak nyata.
“Suhu dingin dapat memicu penyakit pernapasan seperti flu dan asma. Bagi peternakan dan pertanian, suhu ini bisa mengganggu produktivitas dan menyebabkan kematian ternak,” ujarnya.
Meski belum ada laporan signifikan, Wahid menyebut risiko akan meningkat jika fenomena berlangsung lebih lama dari biasanya.
Ia menegaskan, masyarakat perlu mewaspadai efek jangka pendek yang sering diabaikan.
“Bukan hanya tubuh yang menggigil, tapi juga ketahanan tubuh yang menurun," ingatnya.
Tak ada rekomendasi kebijakan khusus, namun edukasi publik perlu ditingkatkan.
“Minimal, masyarakat perlu rutin memantau prakiraan cuaca, memakai pakaian hangat saat malam, dan menjaga daya tahan tubuh lewat pola makan sehat dan vitamin,” imbaunya.
Fenomena bediding bukan bencana, namun bila terus diabaikan bisa berubah jadi peringatan dari alam tentang pentingnya kesiapsiagaan lingkungan.
Trending Now