Konten Media Partner
Dosen Unusa Kenalkan 'Nabung Bocah' Sinergi Guru dan Ortu Bangun Karakter Anak
13 Desember 2025 8:06 WIB
·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Dosen Unusa Kenalkan 'Nabung Bocah' Sinergi Guru dan Ortu Bangun Karakter Anak
Program Digital “Nabung Bocah”, nara hubung antara guru dengan ortu, para guru dan ortu mendapatkan pelatihan Tim dosen Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Unusa. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Di tengah padatnya aktivitas ekonomi warga Wonokromo, Surabaya, masih ada harapan baru bagi anak-anak TK Swandayani. Melalui program Digital yang berjudul “Nabung Bocah”, yaitu nara hubung antara guru dengan orang tua. para guru dan orang tua mendapatkan pelatihan langsung dari Tim dosen Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Program ini muncul dari keprihatinan terhadap kondisi anak-anak di kawasan padat penduduk yang sering bermain tanpa pengawasan. Banyak di antara mereka yang terbiasa berkata kasar, mudah marah, bahkan menunjukkan perilaku menarik diri. Padahal, masa usia dini adalah fase penting dalam pembentukan karakter dan kemampuan sosial.
“Orang tua memiliki peran besar, tapi mereka juga butuh bimbingan. Banyak yang sibuk berdagang dan tidak tahu bagaimana menstimulasi emosi anak. Kami ingin memberikan solusi yang sederhana dan berkelanjutan,” ujar Firdaus, dosen Keperawatan Unusa, Sabtu (13/12).
Melalui pendekatan partisipatif, dosen Unusa memberikan pelatihan komunikasi efektif, pengelolaan emosi, dan cara menggunakan teknologi digital untuk memantau perkembangan anak. Orang tua diajak belajar berinteraksi positif dengan anak, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, memberi pujian yang tepat, serta mengenalkan emosi dengan permainan peran.
Selain itu, guru mendapatkan pelatihan strategi pembelajaran sosial emosional di kelas. Mereka diajak merancang aktivitas yang mendorong empati dan tanggung jawab, seperti permainan kelompok indoor dan outdoor.
Program ini juga memperkenalkan aplikasi digital “Nabung Bocah”, yang memungkinkan orang tua dan guru berkolaborasi secara daring. Melalui fitur laporan perkembangan, forum diskusi, dan pesan pribadi, komunikasi antara rumah dan sekolah menjadi lebih intensif.
“Dulu orang tua jarang tahu apa yang terjadi di sekolah. Sekarang mereka bisa membaca laporan dan memberi tanggapan langsung. Anak pun merasa lebih diperhatikan,” kata Firdaus, ketua tim pelaksana kegiatan.
Evaluasi program menunjukkan peningkatan signifikan: pemahaman konsep sosial emosional naik dari 28% menjadi 80%, dan kemampuan komunikasi efektif meningkat hingga 79%. Para peserta juga merasa lebih percaya diri menggunakan aplikasi digital dalam kegiatan sehari-hari.
Menurut Kepala TK Swandayani, Andini, program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan anak, tapi juga memperbaiki hubungan keluarga. “Sekarang orang tua lebih sering ngobrol dengan anak tentang perasaan mereka. Kami juga lebih mudah berkoordinasi soal perilaku anak,” ujarnya.
Program “Nabung Bocah” menegaskan pentingnya sinergi antara rumah dan sekolah. Pendidikan sosial emosional tidak cukup diajarkan di kelas, tetapi harus ditanamkan melalui keteladanan dan komunikasi hangat di rumah.
“Kami berharap setiap orang tua menyadari bahwa membangun karakter anak tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh kolaborasi, empati, dan kesabaran,” tutur Andini.
