Konten Media Partner
Eksis Sejak 1980, Kampung Lontong di Surabaya Produksi Ribuan Lontong Per Hari
9 Juli 2025 7:35 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Eksis Sejak 1980, Kampung Lontong di Surabaya Produksi Ribuan Lontong Per Hari
Dinamakan Kampung Lontong karena mayoritas warganya berprofesi sebagai pembuat lontong. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Ada banyak kampung di Kota Surabaya yang terhimpun dalam 154 kelurahan, terkelompok di bawah 31 wilayah administrasi kecamatan. Beberapa kampung tersebut bahkan memiliki julukan yang unik. Salah satunya adalah Kampung Lontong.
Terletak di kawasan Banyu Urip Lor, Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, dinamakan Kampung Lontong karena mayoritas warganya berprofesi sebagai pembuat lontong.
Lontong adalah makanan yang dibuat dari beras, dibungkus dengan daun pisang, kemudian direbus sampai matang.
Pengawas Koperasi Sentral Lontong Mandiri Joko Prasetyo mengungkapkan, awalnya kampung tersebut dikenal sebagai kampung tempe karena adanya warga yang membuat dan berjualan tempe. Namun seiring berjalannya waktu tepatnya di tahun 1980an, muncul aktivitas pembuatan lontong di kawasan padat penduduk tersebut.
"Dulu di sini produksi tempe. Lalu beralih ke produksi lontong,โ ujar Joko saat ditemui Basra, Selasa (8/7) sore.
Joko menuturkan pelopor pembuat lontong di kampung tersebut adalah Ramiah. Di tahun 1980an, Ramiah membuat dan menjual lontong ke pasar-pasar tradisional di Surabaya.
Berkat keuletannya, Ramiah sukses menjadi produsen lontong dan menginspirasi warga sekitar untuk juga mulai membuat lontong.
Menurut Joko, kini ada sekitar 100an kepala keluarga (KK) yang tersebar di 6 Rukun Tetangga (RT) yang membuat lontong.
Kampung lontong ini pun dikelola dalam sebuah paguyuban, hingga di tahun 2009 terbentuk koperasi Sentral Lontong Mandiri yang menjadi sistem pendukung yang bisa menjaga stabilitas bahan baku pembuatan lontong serta memperluas jangkauan pasar penjualan lontong.
โKami ingin pemberdayaan warga di sini melalui koperasi. Perajin atau pembuat lontong yang tergabung ke koperasi sekitar 45 kepala keluarga. Kemudian dibantu salah kampus di Surabaya, kami juga sedang merintis wisata edukasi,โ terangnya.
Joko mengungkapkan, kampung lontong mampu memproduksi ribuan lontong setiap harinya.
"Rata-rata per KK bisa bikin 750 sampai 1.000 lontong, paling banyak 2.500 lontong per hari," imbuhnya.
Joko menuturkan, proses membuat lontong membutuhkan waktu cukup lama. Mulai dari pembuatan tempatnya dari daun pisang. Kemudian memasukkan beras dan memasak yang memakan waktu sekitar lima sampai enam jam.
Untuk setiap satu lontong dijual dengan harga mulai Rp 2.000 - Rp 3.500.
