Konten Media Partner
Faktor Penyebab Seseorang Bisa Jadi Penyuka Sesama Jenis
24 Oktober 2025 8:00 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Faktor Penyebab Seseorang Bisa Jadi Penyuka Sesama Jenis
"Ia merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, genetik, hormonal, dan pengalaman lingkungan sejak awal kehidupan," ujarnya. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Penggerebekan pesta gay di Surabaya pada Minggu (19/10) dini hari cukup menghebohkan publik. Ini menunjukkan jika keberadaan komunitas penyuka sesama jenis (gay atau lesbian), memang ada di Surabaya. Namun, berbeda dengan eksistensi yang terbuka dan diakui secara legal di negara lain, komunitas ini di Surabaya sebagian besar bergerak secara tertutup dan sering menghadapi penggerebekan oleh pihak kepolisian.
Pakar psikologi Unair Dr. Ike Herdiana, M.Psi, mengungkapkan gay dan lesbian adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan orientasi seksual seseorang terhadap sesama jenis. Gay umumnya digunakan untuk menyebut laki-laki yang memiliki ketertarikan emosional, romantis, dan seksual terhadap laki-laki lain. Sedangkan lesbian, istilah yang digunakan untuk perempuan yang memiliki ketertarikan emosional, romantis, dan seksual terhadap perempuan lain.
"Istilah sexual orientation mencakup pola ketertarikan emosional, romantik, atau seksual yang konsisten terhadap orang dari jenis kelamin tertentu, serta keterlibatan dalam hubungan sosial dan pribadi yang terkait dengan ketertarikan tersebut. Penyebabnya adalah interaksi kompleks antara faktor biologis, genetik, hormonal, psikologis, dan sosial," terang Ike kepada Basra, Jumat (24/10.
Ike melanjutkan, orientasi seksual (termasuk gay dan lesbian) tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir, tetapi juga bukan hasil pilihan sadar.
"Ia merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, genetik, hormonal, dan pengalaman lingkungan sejak awal kehidupan. Penelitian modern menunjukkan bahwa tidak ada satu gen atau faktor tunggal yang βmenentukanβ seseorang menjadi gay atau lesbian. Namun, ada bukti kuat bahwa faktor biologis bawaan (nature) berperan penting dalam pembentukan orientasi seksual," jelasnya.
Ike menuturkan, orientasi seksual baik gay maupun lesbian tidak bisa diidentifikasi dari penampilan luar, cara bicara, atau gaya berpakaian. American Psychological Association (APA, 2021) menegaskan bahwa orientasi seksual adalah aspek internal dari identitas seseorang, yaitu kepada siapa ia merasa tertarik secara emosional, romantis, dan seksual, bukan bagaimana ia tampak di luar.
"Tentunya cirinya jelas, mereka memiliki ketertarikan secara emosional, romantis dan seksual pada sesama jenis," imbuhnya.
Ike menuturkan jika seseorang merasa dirinya bermasalah dengan memiliki ketertarikan kepada sesama jenis, maka yang bersangkutan dapat mencari bantuan dampingan profesional psikologis, psikiatris, medis atau lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.
"Yang bersangkutan juga dapat meminta pendampingan psikologis agar individu bisa menerima diri (self-acceptance), menghadapi tekanan sosial atau diskriminasi, dan menjalani hidup yang sehat, seimbang, dan bermartabat. Jika memang yang bersangkutan membutuhkannya ya," tandas Ike.
