Konten Media Partner
Gaun 'Dewi Athena' Karya Ibu dan Anak Melenggang di Surabaya Fashion Parade
15 November 2025 13:14 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Gaun 'Dewi Athena' Karya Ibu dan Anak Melenggang di Surabaya Fashion Parade
Dua fashion designer sekaligus ibu dan anak, Lisa Drupadi dan Bianca Drupadi, menghadirkan 11 karya couture eksklusif bertema “Goddess of Chaos”. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Setelah sepuluh tahun absen dari panggung mode, Drupadi Batik Couture kembali menunjukkan eksistensinya melalui Surabaya Fashion Parade 2025. Dua fashion designer sekaligus ibu dan anak, Lisa Drupadi dan Bianca Drupadi, menghadirkan 11 karya couture eksklusif bertema “Goddess of Chaos” sebuah interpretasi modern dari mitologi Yunani tentang Dewi Athena, simbol perebutan, kebijaksanaan, dan kekuatan perempuan.
"Koleksi ini menampilkan perpaduan etnik dan kemegahan modern, diwujudkan melalui proses handmade yang dikerjakan secara teliti dari bordir hingga detail payet pada setiap busana," ujar Lisa kepada Basra, Sabtu (15/11).
"Setiap karya menggambarkan keunikan manusia, ketekunan tangan, dan dedikasi terhadap keindahan, sebagaimana filosofi Drupadi Batik Couture yang selalu mengutamakan sentuhan personal dan autentik dalam setiap desainnya," sambung founder sekaligus creative director Drupadi Batik Couture ini.
Lisa melanjutkan, tema “Goddess of Chaos” merupakan refleksi dari perjalanan panjang dan penuh makna yang dialami label ini.
“Kembalinya kami ke panggung fashion setelah sepuluh tahun absen merupakan momen reflektif yang sangat berarti. Goddess of Chaos kami hadirkan sebagai simbol dari kekuatan dan keindahan yang lahir dari kekacauan. Setiap busana kami kerjakan dengan hati, karena bagi kami, karya couture bukan sekadar pakaian, tetapi representasi karakter dan jiwa perempuan yang berani berdiri dalam segala situasi," terangnya.
Warna-warna yang mendominasi seperti emas, hitam dan merah mampu memancarkan aura royal, berani, dan elegan. Beberapa model tampil dengan mahkota yang melambangkan kekuasaan serta karakter kuat seorang dewi. Bahan-bahan yang digunakan antara lain suede dan velvet impor, dipadu dengan cutting slimfit yang menonjolkan lekuk tubuh perempuan secara anggun.
Seluruh busana dirancang dengan teknik bordir dan payet penuh presisi. Salah satu gaun bahkan memiliki berat hingga 5 kilogram dan memerlukan waktu pengerjaan empat bulan, menjadikannya simbol dari kerja tangan, ketekunan, dan cinta terhadap seni.
Motif bordir bunga hadir sebagai benang merah visual, menciptakan kesan glamour namun tetap eksklusif, khas gaya Drupadi Batik Couture yang selalu mengedepankan keindahan dan kekuatan perempuan.
Bianca Drupadi, co-designer Drupadi Batik Couture, menambahkan bahwa koleksi ini juga menjadi pernyataan tentang keberanian perempuan untuk tampil autentik di tengah dinamika zaman.
“Koleksi ini adalah simbol bagaimana etnik dan modernitas bisa bersatu dalam harmoni. Kami ingin menunjukkan bahwa keindahan sejati tidak pernah lahir secara instan — setiap detail bordir, setiap payet, adalah hasil tangan dan waktu yang penuh cinta. Goddess of Chaos adalah selebrasi bagi setiap perempuan yang kuat, elegan, dan berani menjadi dirinya sendiri," jelas putri dari Lisa Drupadi ini.
Melalui Goddess of Chaos, Drupadi Batik Couture menegaskan kembalinya mereka ke dunia mode Indonesia dengan energi baru penuh keberanian, ketelitian, dan semangat untuk terus menghadirkan karya yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki makna dan jiwa.
