Konten Media Partner
Jamasan Pusaka, Tradisi Memandikan Keris di Malam 1 Suro
30 Juni 2025 6:20 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Jamasan Pusaka, Tradisi Memandikan Keris di Malam 1 Suro
Pelanggan jamasan pusaka ini datang dari Singapura dan Malaysia. #publisherstoryBASRA (Berita Anak Surabaya)

Peringatan 1 Muharam tidak hanya dilakukan dengan pawai obor dan kegiatan peribadatan umat muslim lainnya. Akan tetapi peringatan tahun baru Islam 1 syawal 1447 H ini juga diperingati sebagai Malam 1 Suro bagi sejumlah budayawan untuk mengenang leluhurnya.
Salah satu tradisi yang kerap dilakukan pada peringatan 1 Suro adalah Jamasan Pusaka. Kegiatan ini merupakan bentuk pensucian pusaka atau tosan aji dengan cara dimandikan dengan air bunga setaman dan diolesi minyak khusus agar pusaka atau keris tersebut kembali berkilau.
โYang bisa melakukan jamasan pusaka ini adalah orang dengan kategori khusus, yaitu minimal usia diatas 40 tahun. Mengapa demikian? karena di usia tersebut manusia dianggap sudah matang atau dewasa dalam menerima sebuah tradisi turun temurun dari leluhur, serta memahami setiap detail runtutan prosesinya hingga bacaannya. Kalau sekedar mencuci biasa semua orang yang mempunyai keris bisa saja tetapi untuk mengembalikan pamornya belum tentu semua bisa,โ ujar Firman saat melakukan jamasan keris di kediamannya.
Selain itu Firman Hidayat, Founder dari Griya Pusaka Surabaya juga menjelaskan kegiatan jamasan ini adalah sebagai bentuk upaya pelestarian benda peninggalan sejarah pada zaman dahulu yang sudah turun-temurun generasinya. Berbagai macam keris buatan baru atau terdahulu yang dimiliki oleh para kolektor juga perlu perawatan khusus.
โModel pusaka atau keris saat ini sudah bervariasi, ada yang dilapisi emas dibeberapa bagiannya itu juga perlu perhatian yang khusus saat memandikannya. Kalau pusaka yang terdahulu lebih mudah karena bentuk dari lekukan bilah masih mudah untuk dibersihkan, tetapi nilai magisnya sangat kuat. Ini ada contoh keris lama ada bekas darah dan sulit dibersihkan atau dihilangkan karena terlihat dari coraknya berbeda dengan karatan,โtukasnya sembari mencermati keris pelanggannya yang dianggap magis tersebut.
Menurut Firman, perihal semacam ini jangan disalah artikan sebagai aliran yang menyimpang, karena ini merupakan bagian bentuk dari menjaga dan merawat benda pusaka leluhur. Oleh karena itu, perpaduan agama dan kebudayaan ini dapat terus diwariskan ke generasi berikutinya sebagai identitas bangsa.
Penikmat benda pusaka di Surabaya mengalami peningkatan yang cukup pesat setiap tahunnya. Ini terlihat dari pelanggan Griya Pusaka Surabaya yang baru lima bulan bergabung memiliki ketertarikan hingga memiliki beberapa pusaka untuk dikoleksi.
โBentuk ukiran keris ini unik dan proses membuatnya tidak sembarang orang, ini menjadi perhatian minat saya untuk mempunyainya. Saat ini sudah tiga keris yang saya miliki dengan baru lima bulan bergabung di dunia tosan aji, dan malam suroan ini waktunya untuk dibersihkan dan tukar pikiran terkait benda sejarah ini,โ ujar Febri Wijaksana.
Tahun ini Griya Pusaka Surabaya menerima 150 pusaka dari berbagai pelanggan di Surabaya, bahkan terdapat juga pelanggan dari Singapura dan Malaysia yang turut mengirim kerisnya untuk dijamasi. Sedangkan tarif untuk membersihkan pusaka dengan segala kerumitannya berkisar diantara Rp 150.000 hingga Rp 200.000.(Dipta Wahyu)
