Konten Media Partner

Kisah Faiq Berdayakan Ibu-ibu Pelosok Bangkalan Olah Tali Kapal Jadi Tas Etnik

17 September 2025 7:54 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Kisah Faiq Berdayakan Ibu-ibu Pelosok Bangkalan Olah Tali Kapal Jadi Tas Etnik
Berawal dari aktivitasnya sebagai relawan di organisasi non-pemerintah (NGO), Faiqotul Himmah sukses memberdayakan para perempuan di pelosok desa Bangkalan. #publisherstory #beritaanaksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Faiqotul Himmah, pemilik UMKM Daun Agel. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Faiqotul Himmah, pemilik UMKM Daun Agel. Foto: Masruroh/Basra
Berawal dari aktivitasnya sebagai relawan di salah satu organisasi non-pemerintah (NGO), Faiqotul Himmah sukses memberdayakan para perempuan di pelosok desa di Kecamatan Kokop, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, menjadi pengrajin tas etnik. Menariknya bahan yang digunakan merupakan serat daun agel yang awalnya dibuat sebagai tali kapal.
"Di desa tersebut awalnya daun agel hanya diolah menjadi tali kapal oleh warga setempat. Pelan-pelan saya ajak mereka terutama kalangan ibu-ibu untuk mengolahnya menjadi berbagai kerajinan tangan etnik, seperti tas, topi, hingga karpet," ujar perempuan yang kerap disapa Faiq ini saat ditemui Basra disela kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2025, akhir pekan kemarin.
Faiq menuturkan, orang Madura menyebut daun agel sebagai daun pocok atau daun kobel. Daun ini dari tanaman gebang. Gebang sendiri merupakan sejenis tanaman palem yang tumbuh subur di desa tersebut. Tinggi tanaman bisa mencapai 15 sampai 20 meter. Sebagaimana tanaman palem pada umumnya, daun dari tanaman gebang bentuknya melingkar seperti kipas dan berukuran besar.
Daun gebang yang muda awalnya oleh warga setempat sudah sejak lama diolah menjadi tali agel untuk tali dan jaring kapal. Namun berkat tangan dingin Faiq lewat usaha UMKM Daun Agel yang mulai dirintis tahun 2008, serat daun agel diolah menjadi aneka kerajinan tangan berupa tas, dompet, topi hingga home decoration.
Faiq mengungkapkan mayoritas para ibu yang terlibat mengolah daun agel sejatinya adalah para pengungsi dari Sambas, Kalimantan Barat. Mereka, saat itu, merana setelah tempat tinggalnya dilanda konflik besar, horizontal, akibat isu SARA.
"Ya itu bagian dari cerita masa lalu ya. Alhamdulillah mereka bisa berproses dan sekarang justru bisa berdaya sendiri," tutur Faiq bangga.
Ada sekitar 100 warga desa tersebut yang bergabung bersama UMKM Daun Agel. Mayoritas dari mereka adalah para ibu. Masing-masing dari mereka ada yang fokus memilin tali agel, ada pula yang merajut menjadi produk jadi. Setiap pekan, para pengrajin itu turun gunung ke pasar tradisional di Kokop untuk menyetorkan hasil pilinan.
Sistem setoran ini membantu mereka tetap bisa bekerja dari rumah tanpa harus meninggalkan keluarga.
Pengolahan serat daun agel sendiri hingga kini masih dilakukan secara tradisional dan ini yang terus dipertahankan Faiq sebagai ciri khas produknya.
"Masih tradisional pengolahannya dan ini yang membuat tali agel yang dihasilkan lebih kuat," tukasnya.
Trending Now