Konten Media Partner
Kisah Mantan Begal di Surabaya yang Kini Dipercaya Jadi Petugas Keamanan
28 Agustus 2023 8:49 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Kisah Mantan Begal di Surabaya yang Kini Dipercaya Jadi Petugas Keamanan
Tindak kriminal sebagai begal juga dilakukan Genta saat hidup di jalanan hingga mengantarnya menjadi penghuni Lembaga Rutan Klas 1 Surabaya, Medaeng Sidoarjo. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Lima tahun lamanya Genta (bukan nama sebenarnya) menjalani kerasnya hidup di jalanan sebagai pengamen. Tindak kriminal sebagai begal juga dilakukan Genta saat hidup di jalanan hingga mengantarnya menjadi penghuni Rutan Klas 1 Surabaya, Medaeng Sidoarjo.
"Satu tahun setengah (di penjara), ya gara-gara jadi begal," tutur pemuda berusia 22 tahun ini kepada Basra, Senin (28/8).
Genta mengaku awal mula hidup di jalanan karena ajakan temannya. Apalagi kondisi perekonomian keluarganya yang serba pas-pasan. Perempatan lampu merah hingga pasar menjadi tempat Genta mengamen.
"Ngamennya di lampu merah, di pasar. Kalau di kampung atau komplek perumahan itu enggak pernah. Awalnya ikut teman (ngamen)," ujarnya.
Keasyikan mengamen di jalanan membuat Genta rela meninggalkan bangku sekolah saat SMP. Hal ini sempat ditentang kedua orang tuanya. Namun Genta tak menggubris nasehat orang tuanya untuk berhenti menjadi anak jalanan.
"Nggak ngreken omongan orang tua, sing penting aku iso seneng, nyekel duwek (tidak menghiraukan omongan orang tua, yang penting saya senang bisa dapat uang)," kenangnya.
Seiring berjalannya waktu, Genta mulai terseret melakukan tindak kriminal sebagai begal. Genta nekat menjadi begal karena tergiur hasil yang diperoleh.
"Dadi begal mbak, njupuk barang e wong nang dalan-dalan (jadi begal mbak ambil barang orang di jalan-jalan)," tukasnya.
Hingga suatu hari, aksi begal Genta berhasil dihentikan warga. Genta pun sempat menjadi sasaran amuk warga. Akibat perbuatannya Genta harus merasakan dinginnya sel penjara. Selama satu tahun setengah Genta harus mendekam di penjara Medaeng.
Usai menjalani hukuman penjara, Genta mengaku kapok tak melakukan tindak kriminal lagi. Hanya saja kehidupan sebagai pengamen jalanan tak ditinggalkannya.
Hingga takdir mengubah jalan hidup Genta lewat pertemuannya dengan Hendra Aksana Putra, Koordinator lapangan Komunitas Gemes (Gerakan Mengajak Sedekah). Hendra mengajak Genta untuk melanjutkan sekolah yang telah ditinggalkannya.
"Diajak sekolah tapi aku nggak mau. Nggak mau sekolah lagi," tukasnya.
Namun kegigihan Hendra yang kerap mendatangi Genta meluluhkannya. Hingga Genta memutuskan untuk melanjutkan sekolah di bangku SMK.
"Ikut mas Hendra sekolah SMK. Mas Hendra iku sering marani aku, yo akhire aku gelem (Mas Hendra itu sering mendatangi saya, ya akhirnya saya mau sekolah)," tuturnya sumringah.
Genta mengaku bersyukur bisa bergabung dengan Komunitas Gemes yang akhirnya mengubah jalan hidupnya. Kini Genta dipercaya bekerja sebagai petugas keamanan. Profesi ini telah dijalani Genta sejak 6 bulan terakhir.
"Alhamdulillah mbak sudah bisa kerja, bisa bantu orang tua, padahal dulu aku mesti nyusahkan orang tua," lirihnya.
Saat melintas di jalanan dan bertemu dengan anak-anak pengamen, Genta selalu berdoa dalam hati agar mereka mau meninggalkan profesi itu.
"Aku nggak berani ngomong sama mereka karena anak jalanan itu hanya bisa berubah kalau ada dorongan dari dirinya sendiri. Wis aku ndungo ae (Aku hanya bisa berdoa saja)," tandasnya.
