Konten Media Partner
Kisah Pahit Anak-anak dengan HIV/AIDS, Terusir dari Sekolah dan Dikucilkan Warga
4 Desember 2025 8:08 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Kisah Pahit Anak-anak dengan HIV/AIDS, Terusir dari Sekolah dan Dikucilkan Warga
Perjalanan pahit anak-anak yang terkena HIV/AIDS terekam dalam panggung teater 'Aira, Ijinkan Aku Menjadi Manusia'. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Perlakuan buruk masih harus dialami orang yang terkena HIV/AIDS, tak terkecuali mereka yang berusia anak-anak. Mereka harus terusir dari sekolahnya, dikucilkan warga hingga harus rela pindah ke kota lain demi membangun hidup yang baru. Padahal mereka masih belum mengetahui apa itu HIV/AIDS, apalagi mereka banyak tertular dari orang tuanya.
Perjalanan pahit anak-anak yang terkena HIV/AIDS terekam dalam panggung teater 'Aira, Ijinkan Aku Menjadi Manusia' yang dipentaskan oleh komunitas HIV/AIDS di Surabaya pada Rabu (3/12) malam. Berkisah tentang perjuangan gadis cilik bernama Aira, pentas teater itu diangkat dari kisah nyata.
"Cerita yang kami tampilkan ini dari kisah nyata. Di luar sana masih ada stigma diskriminasi (bagi penderita HIV/AIDS), baik di sekolah maupun di lingkungan pekerjaan saat dia dewasa," ungkap Koordinator KDS SBS Michael Yudhianto, saat ditemui Basra, disela pementasan.
"Kami sebagai pendamping ODIV (orang dengan HIV) itu sering menemukan cerita-cerita diskriminasi itu. Dan pada momen peringatan Hari AIDS Sedunia ini kami mengangkat isu anak," sambungnya.
Michael menuturkan anak-anak dengan HIV/AIDS masih belum mengetahui tentang penyakitnya. Mereka juga tidak mengetahui bagaimana mereka bisa terkena penyakit itu.
"Mereka tidak mengetahui tentang penyakitnya, mereka juga tidak tahu bagaimana bisa tertular. Tapi mereka sudah mendapatkan perlakuan diskriminasi. Padahal mereka tertular dari orang tuanya sendiri, seperti dalam kisah yang kami pentaskan ini," terangnya.
Michael mengungkapkan dengan adanya pementasan teater yang digelar di Balai Pemuda ini masyarakat dapat melihat fakta di lapangan, bahwa masih ada stigma buruk terhadap orang dengan HIV/AIDS, tak terkecuali anak.
"Masih ada lho kesusahan (yang dialami ODIV) karena stigma buruk. Kami berharap jangan pernah membeda-bedakan seseorang karena kondisi kesehatannya. Karena HIV ini tidak mudah menular," tegasnya.
Selain diangkat dalam pementasan teater, kisah pilu anak-anak dengan HIV/AIDS di Jawa Timur juga terekam dalam puluhan karya foto yang dipamerkan malam itu.
Dalam deretan-deretan foto itu terungkap harapan anak-anak dengan HIV untuk mendapat perlakuan yang layak.
"Ayah..ibu, bisakah aku menjadi seorang dokter di masa depan?" demikian bunyi salah satu curahan hati anak dengan HIV yang terekam dalam salah satu foto.
"Ada sekitar 55 foto yang kami tampilkan tapi tidak kami perlihatkan anaknya. Dalam foto itu mereka (anak-anak dengan HIV) mengungkapkan isi hatinya," tutur Michael.
