Konten Media Partner
Kisah Yasi, Pernah Hidup di Panti dan Berjualan Kue Sejak Usia 6 Tahun
26 September 2025 6:14 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Kisah Yasi, Pernah Hidup di Panti dan Berjualan Kue Sejak Usia 6 Tahun
Di usianya yang masih 16 tahun, Yasi harus berjuang keras menyambung hidup dengan berjualan roti. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Kerasnya kehidupan di Kota Surabaya harus dijalani Muhammad Nur Yasi. Di usianya yang masih 16 tahun, Yasi harus berjuang keras menyambung hidup dengan berjualan roti.
Setiap hari Yasi menjajakan dagangannya mulai pukul 6 sore hingga 11 malam. 100an roti dijajakan anak keempat dari 7 bersaudara itu setiap harinya.
"Jualan keliling kampung, kadang ke warkop (warung kopi)," ujar Yasi saat dijumpai Basra di pintu masuk parkiran motor salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya, Kamis (25/9) malam.
Yasi berjualan roti yang dikulak sang ibu dari temannya. Setiap roti dijual seharga Rp 5 ribu. Roti-roti dagangan Yasi diletakkan pada sebuah kotak keranjang plastik. Keranjang tersebut lantas disunggih Yasi saat berjualan roti keliling kampung di kawasan pusat kota.
Berjualan sudah dilakoni Yasi sejak usia 6 tahun. Terlahir dari keluarga kurang mampu, Yasi memang harus banting tulang demi menyambung hidup.
"Jualan dari sejak usia 6 tahun, sejak tinggal di panti," tuturnya.
Ya, Yasi memang sempat merasakan hidup di panti asuhan. Memiliki banyak anak, membuat kedua orang tua Yasi nekat menitipkannya ke panti asuhan. Yasi mengaku baru dijemput kedua orang tuanya saat berusia 10 tahun.
"Dulu tinggal di panti karena bapak dan ibu tidak punya uang. Baru dijemput pas umur 10 tahun," kenangnya.
Baru beberapa tahun merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya, Yasi harus merasakan kemalangan. Pada 2023 silam sang ayah meninggal dunia karena penyakit komplikasi.
Kini Yasi tinggal bersama ibu dan kedua adiknya. Sedangkan terkait kakak-kakaknya, Yasi tak mengetahui secara pasti keberadaannya.
"Ndak tahu pasti, katanya ada di Surabaya, tapi ada yang di Jakarta juga," imbuhnya.
Selain kurang beruntung terkait kondisi ekonomi keluarga, Yasi juga terbilang kurang beruntung dari segi pendidikan. Saat teman sebayanya sudah menjejak bangku SMA, Yasi justru masih harus mengenyam pendidikan SMP.
"Sekarang saya kelas 2 SMP, ikut kejar paket B," ujar remaja berpawakan kurus ini.
Tak ada hal muluk yang diinginkan Yasi, dia hanya ingin diberikan kesehatan agar dapat terus membantu sang ibu mengais rezeki.
"Ya semoga tetap sehat supaya bisa terus bantu ibu cari uang," simpulnya seraya tersenyum.
