Konten Media Partner

Konferensi Arsitektur Digelar di Surabaya, Bahas Tantangan Arsitek Indonesia

3 Oktober 2025 16:18 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Konferensi Arsitektur Digelar di Surabaya, Bahas Tantangan Arsitek Indonesia
Konferensi ini diharapkan menjadi wadah untuk berbagi ide, penelitian, dan solusi inovatif yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. #publisherstory #beritaanaksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Konferensi Internasional oleh Prof. Heng Chye Kiang dari National University of Singapore.
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi Internasional oleh Prof. Heng Chye Kiang dari National University of Singapore.
Di tengah meningkatnya tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga bencana alam, kebutuhan akan bangunan yang tangguh dan adaptif menjadi sangat mendesak. Menjawab isu krusial ini, Architecture Petra Christian University (PCU) kolaborasi dengan SENVAR (Sustainable Environment Architecture) menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya dalam konferensi internasional bertajuk 6th ICEA-Senvar 2025 dengan tema "Resilient Architecture".
Aris Budhiyanto, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku ketua acara menyatakan tema “Resilient Architecture” sengaja dipilih sebab hidup di Indonesia ini secara nyata mengalami ancaman lingkungan mulai dari perubahan iklim, bencana alam, hingga keterbatasan sumber daya yang berdampak pada kehidupan manusia.
Aris menambahkan, arsitektur perlu beradaptasi dan bertahan menghadapi tantangan. Maka dari itu dibutuhkan pendekatan desain berkelanjutan, pemanfaatan material canggih, dan penerapan teknik konstruksi inovatif.
“Kita perlu merancang bangunan dan lingkungan yang bisa bertahan, beradaptasi, dan tetap berfungsi di tengah berbagai tantangan tersebut," ujarnya, Jumat (3/10).
"Konferensi ini diharapkan menjadi wadah untuk berbagi ide, penelitian, dan solusi inovatif yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal dan ruang hidup yang aman, nyaman, dan berkelanjutan,” kata Aris lagi.
Konferensi internasional dua tahunan ini menghadirkan para pakar arsitektur dan konstruksi yang ternama. Antara lain Prof. David Sanderson (University of New South Wales Sydney), seorang pakar dalam bidang disaster management, Prof. Sri Nastiti N Ekasiwi (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), profesor dengan kepakaran di bidang desain dan penghawaan bangunan, Prof. Heng Chye Kiang (National University of Singapore), ahli dalam bidang sustainable urban design and planning serta Dr. Rully Damayanti (Petra Christian University), peneliti yang banyak mengkaji perkembangan kampung sebagai pola hidup masyarakat Indonesia.
Para narasumber ini akan mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip desain berkelanjutan dan teknologi canggih dapat diintegrasikan guna menciptakan lingkungan binaan yang tidak hanya tahan lama, tetapi juga menjamin kesejahteraan masyarakat dan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Prof. David Sanderson akan bicara mengenai bagaimana ketahanan kota terhadap bencana. Yang menjadi pusat perhatian adalah manusia atau masyarakat. Contohnya, di Indonesia, terutama kota-kota besar yang sering kena banjir atau gempa, harus melibatkan warga dalam persiapan dan pemulihan bencana agar bantuan dan solusi yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Prof. Sri Nastiti membahas mengenai desain bangunan di iklim tropis seperti Indonesia harus bisa menyesuaikan dengan panas dan lembap tanpa menghabiskan banyak energi. Misalnya menggunakan sistem pendinginan alami (seperti ventilasi silang) atau alat pendingin yang hemat energi bisa membuat rumah dan gedung lebih nyaman dan ramah lingkungan.
Tak kalah menariknya, Prof. Heng Chye Kiang bicara bagaimana merancang kota yang tahan bencana mulai dari lingkungan sekitar sampai skala besar. Misalnya memperhatikan tata ruang yang menghubungkan antarkampung, kawasan, dan kota agar saat terjadi banjir atau gempa, dampaknya bisa diminimalisir dan warga tetap aman.
Dr. Rully Damayanti menambahkan bahwa waktu dan perubahan juga penting dalam membangun ketahanan kota dan bangunan. Di Indonesia, kondisi iklim dan sosial terus berubah, jadi desain yang fleksibel dan bisa beradaptasi dari pengalaman nyata dan eksperimen akan membantu kota tetap kuat menghadapi tantangan masa depan.
Kegiatan yang terbuka untuk para akademisi, praktisi arsitektur, pemerintah, dan masyarakat ini menjadi wadah penting untuk mengubah cara merancang atau memastikan bahwa arsitektur tidak hanya berumur panjang, tetapi juga menjamin kesejahteraan dan keamanan masyarakat.
Selain seminar internasional, juga terdapat pameran material, tugas mahasiswa serta ada talkshow dan demo dari alumni yang juga anggota Urban Sketcher.
Workshop ini menyoroti bahwa kehidupan itu perlu “ruang”. Seperti yang kita tahu, ruang kota makin sesak dan ruang itu mahal harganya padahal perekonomian lagi sulit. Para mahasiswa yang mengikuti demo diminta memikirkan ruang yang mahal itu berpihak pada manusia.
“Jadi bagaimana seorang arsitek kreatif mampu mendesain kios UMKM yg hemat ruang agar tetap ramah ekonomi tapi unik,” tambah Christine Wonoseputro, S.T., M.ASD., selaku PIC acara workshop. (
Trending Now