Konten Media Partner
Konflik Orang Tua Siswa dan Guru Kerap Muncul, Komnas PA Sampaikan Imbauan Ini
24 Oktober 2025 16:17 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Konflik Orang Tua Siswa dan Guru Kerap Muncul, Komnas PA Sampaikan Imbauan Ini
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya Syaiful Bachri, menyoroti maraknya perseteruan antara guru dan orang tua siswa. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya Syaiful Bachri, menyoroti maraknya perseteruan antara guru dan orang tua siswa. Konflik muncul lantaran orang tua merasa tak terima guru menghukum siswa.
Syaiful menilai konflik antara guru dan orang tua siswa akibat kurangnya sinergi dan pemahaman bersama. Menurutnya, guru seharusnya fokus pada bimbingan di sekolah, sementara orang tua mendampingi di rumah.
"Kunci utamanya adalah komunikasi yang terbuka dan saling melengkapi antara kedua pihak demi kepentingan anak," ujar Syaiful kepada Basra, Jumat (24/10).
Syaiful menjelaskan, kolaborasi antara guru dan orang tua bertujuan membentuk karakter, meningkatkan prestasi, serta mengoptimalkan potensi anak. Namun, sering kali ketidakpahaman peran menyebabkan masing-masing pihak saling membenarkan diri tanpa melihat kebijakan dan SOP yang berlaku.
"Jangan sampai pendidikan dan pengasuhan semua diserahkan kepada pihak sekolah. Pendidikan karakter yang utama ada di pihak orang tua dan keluarga," tegasnya.
Ia mencontohkan kasus di Banten, di mana seorang kepala sekolah menampar siswa karena menemukannya merokok di lingkungan sekolah. โTindakan (merokok) tersebut jelas melanggar aturan, namun segala bentuk kekerasan juga tidak dibenarkan dan harus disikapi secara bijaksana,โ ungkapnya.
Komnas PA Surabaya merekomendasikan komunikasi terbuka antar pihak yang dijembatani oleh komite sekolah. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ruang dialog sehat dan menghindari kesalahpahaman antara guru, orang tua, serta pihak sekolah.
Selain itu, perlu adanya kesepakatan bersama terkait tata tertib dan pendidikan karakter di sekolah. Orang tua juga diharapkan terlibat dalam kegiatan sekolah melalui komite dan program parenting untuk menumbuhkan pola pengasuhan seimbang.
โPendekatan bersama diharapkan mampu menciptakan keharmonisan di lingkungan pendidikan. Dengan begitu, komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua menjadi wadah penyelesaian, bukan ajang saling lapor,โ ujarnya.
Ia menegaskan, konflik yang tidak diselesaikan dengan baik dapat berdampak pada psikologi anak. Karena itu, setiap masalah di sekolah perlu disikapi secara utuh dan menyeluruh.
Syaiful menyebut, Komnas Perlindungan Anak bersama jejaring nasional akan terus mendampingi anak-anak yang membutuhkan. โDukungan dari semua pihak sangat diperlukan agar tumbuh kembang anak tetap terjaga dengan baik,โ pungkasnya.
