Konten Media Partner

Mengenal El Nino, Fenomena Alam yang Bisa Sebabkan Kekeringan

4 Mei 2023 13:23 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Mengenal El Nino, Fenomena Alam yang Bisa Sebabkan Kekeringan
El Nino merupakan fenomena di mana air laut di samudera pasifik lebih panas dari pada suhu biasanya. #publisherstory #beritaanaksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Ilustrasi kekeringan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kekeringan. Foto: Pixabay
Belum lama ini, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan, mengungkapkan potensi terjadinya fenomena El Nino pada Agustus mendatang.
Menurutnya, El Nino dapat berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan yang cukup luas di beberapa daerah.
Lantas, apa sebenarnya fenomena El Nino?
Menjawab hal itu, pengamat lingkungan Universitas Airlangga (Unair), Wahid Dianbudiyanto ST MSc, menjelaskan, El Nino merupakan fenomena di mana air laut di samudera pasifik lebih panas dari pada suhu biasanya.
El Nino juga adalah bagian dari fenomena yang lebih besar yaitu El-Nino-Southern Oscillation (ENSO), dan bagian lainnya adalah La Nina.
β€œJika El Nino merupakan peristiwa memanasnya suhu air di luar batas kewajaran di kawasan Samudera Pasifik, maka La Nina merupakan peristiwa pendinginan air di luar batas kewajaran di area tersebut,” jelas Wahid, Kamis (4/5).
Terkait penyebab terjadinya El Nino dan La Nina, Wahid mengungkapkan fenomena ini terjadi karena Southern Oscillation, yaitu perubahan tekanan udara pada laut tropis Samudera Pasifik.
Di mana saat air laut di sisi tropis samudera pasifik memanas, maka atmosfer di atasnya menurun tekanannya. β€œDisaat inilah terjadi perubahan pola tiupan angin yang dapat menyebabkan perubahan pola iklim yang cenderung menghasilkan iklim yang cukup ekstrem,” ungkap Dosen Teknik Lingkungan.
Perubahan pola tersebut akhirnya meningkatkan potensi dampak El Nino dan La Nina di Indonesia. Permukaan air yang lebih hangat dapat meningkatkan kemungkinan hujan lebih tinggi.
Hal itu dikarenakan perpindahan panas melalui media air dan udara meningkat, sehingga peristiwa presipitasi atau turunnya air dari atmosfer ke bumi juga ikut meningkat.
β€œHal ini berdampak pada meningkatnya intensitas hujan di Amerika Selatan seperti Peru dan Ekuador. Dilain sisi, Indonesia dan Australia mendapatkan kekeringan dari peristiwa tersebut,” tuturnya.
Guna meminimalisir dampak yang akan timbul, Wahid mengatakan, bahwa pemerintah dapat melaksanakan adaptasi dengan berkolaborasi. Seperti melakukan edukasi dan kampanye.
Selain itu, teknologi modifikasi hujan juga dapat dilakukan sehingga dapat membantu saat Indonesia dilanda kekeringan panjang.
β€œMisalkan pada tahun ini, El Nino akan datang ke Indonesia pada bulan Agustus. Maka bisa dikampanyekan untuk menyimpan sebanyak-banyaknya air pada reservoir-reservoir yang ada. Delapan tahun lalu, Indonesia kurang siap sehingga dampaknya cukup berat,” tukasnya.
Diketahui, El Nino merupakan fenomena yang cukup sering terjadi. Tercatat peristiwa El Nino pada tahun 1982-1983 dan 1997-1998 merupakan yang paling intens pada abad ke-20. Bahkan peristiwa tahun 1997-1998 menyebabkan ketidakstabilan kondisi di dunia, termasuk kekeringan di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Trending Now