Konten Media Partner
Pemuda Surabaya Koleksi Puluhan Wayang Kuno, Ada yang Berusia Hampir 100 Tahun
7 November 2025 7:55 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Pemuda Surabaya Koleksi Puluhan Wayang Kuno, Ada yang Berusia Hampir 100 Tahun
Hingga kini Danar telah mengoleksi sekitar 85 wayang kuno. Dari puluhan koleksi wayang kuno miliknya, ada yang dibuat tahun 1932. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Hari Wayang Nasional diperingati Indonesia setiap tanggal 7 November setiap tahunnya. Hari Wayang Nasional ini diperingati karena Wayang merupakan salah satu pilar utama seni budaya bangsa Indonesia yang di akui dunia. Pada tanggal 7 November 2003 UNESCO menetapkan wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Di Surabaya ada seorang pemuda yang sangat mencintai kesenian wayang. Dia adalah Danar Dwi Putra (35). Rasa cinta Danar pada wayang tak hanya diwujudkan dengan rutin menonton pagelaran wayang, tapi juga mengoleksi wayang. Bukan sembarang wayang dikoleksi pemuda yang tinggal di kawasan Plampitan ini, melainkan wayang kuno.
Hingga kini Danar telah mengoleksi sekitar 85 wayang kuno. Dari puluhan koleksi wayang kuno miliknya, ada yang dibuat tahun 1932. Artinya wayang tersebut saat ini sudah berusia 93 tahun, hampir 100 tahun.
"Ini terlacak tahun pembuatannya karena yang jualan tahu bagaimana sejarah wayang itu," ujar Danar seraya menunjukkan dua wayang yang dibuat tahun 1932 itu, kepada Basra, (6/11).
Kedua wayang itu berupa wayang suami istri, Batara Guru dan Batari Durga. Menurut Danar, Batara Guru adalah pemimpin para dewa di kahyangan, sementara Batari Durga pada awalnya adalah Dewi Uma, permaisuri Batara Guru, yang dikutuk menjadi raksasa karena menolak permintaan suaminya. Akibat kutukan itu, Batari Durga kemudian tinggal di Setra Gandamayit dan menjadi ratu makhluk halus.
Danar mengungkapkan tak semua koleksi wayang kunonya diketahui tahun pembuatannya. Namun dari bahan yang dipakai untuk membuatnya bisa diketahui kisaran tahun berapa wayang tersebut dibuat.
Ada pun koleksi wayang kuno milik Danar mayoritas dibuat sebelum tahun 1990, hanya satu dua wayang yang dibuat di awal tahun 2000an.
"Bisa diketahui dari bahan dan pewarna yang dipakai pada wayang. Kalau wayang zaman dulu kebanyakan bahan yang dipakai dari kulit kerbau, dan memakai cat khusus yang sekarang sudah tidak diproduksi lagi, masih ada hanya saja harganya sangat mahal, karena itu tadi sudah tidak diproduksi. Sedangkan wayang yang baru-baru memakai cat sintetik," terang Danar.
Ketertarikan Danar terhadap wayang bermula pada tahun 2019. Saat itu, alumnus Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Unesa 2014 itu menghadiri pameran wayang di Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya.
"Waktu saya datang mau lihat pentas wayang dan di sana ada penjual wayang, saya pengen beli. Tiba-tiba ada dalang muda yang bilang, 'Mas, lek beli wayang mbok yo beli sing bagus sekalian lek onok duit.' (Mas, jika mau beli wayang ya beli yang bagus sekalian jika ada duitnya)," kenang pemuda yang sempat bercita-cita menjadi dalang ini.
Dari situlah Danar mulai tertarik berburu wayang-wayang kuno. Dari 'perburuannya' akan wayang-wayang kuno, Danar juga kian memahami karakteristik khas wayang Jawa Timur yang membedakannya dari wayang Solo. Ia pun tertarik mendalami jenis wayang Jawa Timur-an atau yang biasa disebut wayang Jek Dong, sebab selain sudah langka juga khas Jawa Timur.
"Kalau wayang Solo wajahnya hitam, sedangkan wayang Jawa Timur cenderung merah," ujarnya.
Puluhan wayang kuno tersebut tersimpan rapi di kamar Danar. Pemuda yang kesehariannya berprofesi sebagai illustrator digital ini secara khusus menyimpan wayang tersebut dan tak memajangnya.
"Kalau dipajang harus cari tembok atau dinding yang benar-benar kering karena kalau tidak wayang rentan berjamur. Jadi lebih baik ditumpuk jadi satu dengan posisi yang paling sedikit ukirannya diletakkan paling bawah," tuturnya.
"Seminggu sekali wayang-wayang diangin-anginkan agar tidak lembab. Saat diangin-anginkan jangan sampai terkena sinar matahari langsung," sambungnya.
