Konten Media Partner
Penyebab Anak Alami Speech Delay
7 April 2022 10:52 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Penyebab Anak Alami Speech Delay
Belajar berbicara merupakan salah satu fase penting dalam proses tumbuh kembang anak. #publisherstory BASRA (Berita Anak Surabaya)

Belajar berbicara merupakan salah satu fase penting dalam proses tumbuh kembang anak. Biasanya, perkembangan ini dimulai pada usia 3 bulan di mana anak bereaksi terhadap ekspresi orang di sekitarnya.
Namun, dalam beberapa kasus masih terdapat anak-anak yang kesulitan untuk menyampaikan apa yang diinginkannya dalam bentuk lisan walaupun sudah menginjak usia hampir 2 tahun.
Kondisi ini biasa disebut dengan keterlambatan bicara atau speech delay.
Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dr Dewi Retno Suminar MSi Psikolog mengatakan, speech delay adalah kondisi keterlambatan bicara dilihat dari waktu perkembangan yang seharusnya.
Menurutnya, ciri-ciri speech delay dapat dilihat ketika anak pada saat perkembangannya sudah mampu berbicara, namun anak tersebut belum mampu melakukannya.
βBisa juga bisa berbicara namun kata-katanya tidak dapat dimengerti atau sulit dipahami,β ucapnya, Kamis (7/4).
Terkait penyebabnya, Dr Dewi mengatakan bahwa kondisi speech delay dapat dideteksi dari dua aspek yakni aspek klinis dan aspek pengasuhan.
βAspek klinis dimulai dari anak dalam kandungan sampai awal kelahiran. Misalnya, adanya gangguan selama kehamilan, kelahiran prematur, mengalami kejang atau berat badan lahir bayi kurang, dan lain-lain,β ungkapnya.
Kondisi-kondisi klinis itu, dapat menyebabkan anak tidak dapat tumbuh optimal dan menyerang area bicara dalam otak. Dalam kasus tersebut, akan ada kemungkinan diikuti dengan gangguan perkembangan lainnya seperti autisme, retardasi mental, dan ADHD.
Selain itu, Dr Dewi menegaskan bahwa pada aspek pengasuhan dapat saja terjadi karena kurangnya stimulasi bicara selama proses pengasuhan.
Terkadang, orang tua atau pengasuh cenderung memberikan gadget atau membiarkan anak menonton televisi sendirian agar si anak tetap diam.
βDalam kondisi ini, bahasa ekspresif anak menjadi lambat karena anak paham bahasa namun tidak mampu mengekspresikan bahasa melalui berbicara,β pungkasnya.
