Konten Media Partner
Program Musim Panas, Mahasiswa Asia Belajar Bikin Lemper dan Wayang di Surabaya
16 Juli 2025 11:57 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Program Musim Panas, Mahasiswa Asia Belajar Bikin Lemper dan Wayang di Surabaya
Tahun ini program tersebut diikuti 100 mahasiswa dari tujuh negara di Asia. #publisherstory #beritaanaksurabayaBASRA (Berita Anak Surabaya)

Liburan musim panas dimanfaatkan mahasiswa di berbagai negara di Asia mengikuti Asia Summer Program (ASP) 2025 yang digelar di Petra Christian University (PCU) Surabaya. Mengusung tema One Asia, Many Stories Celebrating Diversity, program tahunan ini digelar mulai 14 Juli hingga 1 Agustus mendatang.
"Program ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang keragaman Asia sekaligus menyoroti kekayaan budaya Indonesia," ujar Liem Satya Limanta, Ketua Pelaksana ASP 2025, Rabu (16/7).
Liem melanjutkan, tahun ini program tersebut diikuti 100 mahasiswa dari tujuh negara di Asia, yakni Jepang, Korea Selatan, Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan India. Dari jumlah tersebut, 32 adalah mahasiswa internasional dan 68 adalah mahasiswa PCU.
Liem mengungkapkan, selain kegiatan akademik, peserta juga terlibat dalam aktivitas non akademik yang mengeksplorasi warisan budaya, keindahan alam, dan tradisi unik Indonesia.
Selama tiga minggu, program ini menawarkan berbagai mata kuliah dalam bahasa Inggris, mencakup bidang-bidang seperti ekonomi, sastra, bahasa, pengajaran, film, elektro-energi berkelanjutan, desain, pariwisata, kuliner, nutrisi, dan kesehatan.
Mahasiswa dapat mengambil hingga dua mata kuliah, masing-masing setara dengan tiga Sistem Kredit Semester (SKS), yang dapat diakui oleh universitas asal mereka.
Aspek non-akademik program ini mencakup 13 kegiatan budaya dan olahraga yang dijadwalkan setiap sore. Salah satunya adalah lokakarya daun pisang dan origami.
Dalam kegiatan tersebut, peserta belajar membungkus lemper dan klepon dari daun pisang, serta menghias tampah berisi jajanan pasar tradisional.
Melalui lokakarya membungkus lemper dan klepon dengan daun pisang, peserta tidak hanya belajar tentang sejarah kue tradisional Indonesia, tetapi juga memahami pentingnya kearifan lokal dalam penggunaan bahan alami, keberlanjutan budaya kuliner.
"Selain mempelajari kue tradisional Jawa, peserta juga dilatih keterampilan tangan yang unik dan presisi dalam seni membungkus makanan tradisional," terang Aniendya Christianna, Penanggungjawab lokakarya daun pisang dan origami.
Kegiatan budaya lainnya adalah lokakarya Eco Wayang pada 28 Juli mendatang, di mana peserta akan membuat wayang dari daun kelapa (janur). Dalam kegiatan ini peserta juga akan diperkenalkan pada kesenian wayang yang merupakan seni pertunjukan tradisional populer di Indonesia.
