Konten Media Partner

Salah Kaprah Orang Indonesia dalam Menangani Anak Berkebutuhan Khusus

13 Juli 2025 8:49 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Salah Kaprah Orang Indonesia dalam Menangani Anak Berkebutuhan Khusus
Menurutnya, banyak kesalahan tidak sengaja yang dilakukan orang dalam memperlakukan ABK. Salah satunya, cara menuntun anak ABK. #publisherstory #beritaanaksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Pakar pendidikan dukungan anak disabilitas (special needs education) dari Jepang, Ukai Saito
zoom-in-whitePerbesar
Pakar pendidikan dukungan anak disabilitas (special needs education) dari Jepang, Ukai Saito
Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) hadir di antara kita. Selama ini kita memperlakukan mereka dengan cara alami dan sebisanya. Tentu ini sangat tidak memadai. Sebab negara maju, seperti Jepang, telah menggunakan metode ilmiah untuk berinteraksi dan membimbing mereka.
Pakar pendidikan dukungan anak disabilitas (special needs education) dari Jepang, Ukai Saito, mengingatkan bahwa penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) harus ditangani dengan benar. Di Jepang tercatat puluhan ribu kasus orang tua bunuh diri gara-gara putus asa memiliki keturunan ABK dan khawatir tidak mampu merawat, sepeninggalannya. Untuk itu dirinya berharap pemerintah Indonesia juga mau memberi prioritas terhadap penanganan ABK.
Dalam acara Kuliah Pakar di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) belum lama ini, Ukai berbagi cara mendidik ABK dengan memperkenalkan modul Japannese Seven Key Point (J*sKeps).
"Metode ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga profesional dalam menangani ABK yang telah diadopsi di beberapa negara," ujarnya.
Dipaparkan tujuh langkah kunci mulai dari proses asesmen, pelibatan orang tua, penyesuaian lingkungan, hingga cara memberi penilaian atas perkembangan siswa ABK.
Menurutnya, banyak kesalahan tidak sengaja yang dilakukan orang dalam memperlakukan ABK. Salah satunya, cara menuntun anak ABK.
"Kita biasanya menuntun anak dengan cara tangan kita menggenggam pergelangan anak lalu mengajaknya berjalan. Itu tidak tepat, karena itu berarti kita yang mendominasi dan menguasai anak," terangnya.
Kemudian Ukai Saito mengoreksinya. Cara yang benar adalah kita mengulurkan tangan, kemudian membiarkan tangan anak yang meraih dan menggenggam jari-jari kita. Dengan demikianlah si anak yang memegang kendali.
Dalam kesempatan itu dirinya juga mengajak peserta kuliah pakar untuk mempraktikkan cara memegang pensil, memegang gunting, hingga cara mewarnai pakai crayon sehat (berbahan dasar beras). Tetapi Ukai Saito tidak sedang memberi pelajaran keterampilan dan seni rupa, melainkan tentang cara mengembangkan motorik anak.
Bahkan cara menggunting kertas pun ditunjukkan. Tangan kanan memegang gunting dan tangan kiri memegang kertas. Ternyata cara menggunting kertas yang benar adalah menggunting sedikit pinggir kertas untuk jalan gunting, kemudian gunting ditempelkan ke kertas dalam posisi terbuka menganga, siap memotong.
"Bukan guntingnya yang digerak-gerakkan. Tetapi justru tangan kiri yang menarik kertas sampai kertasnya terpotong sendiri," katanya.
Kemudian dilanjutkan dengan praktik mewarnai gambar segitiga yang terbagi dalam beberapa bidang. Terbukti banyak peserta kuliah pakar tersebut yang salah dalam mengerjakannya. Ukai Saito pun meluruskan dengan mengatakan, seharusnya yang diwarnai terlebih dahulu adalah bidang yang paling besar, baru dilanjutkan ke bidang yang lebih kecil, hingga akhirnya bidang yang paling kecil.
Penjelasannya, anak mulai melatih motorik halusnya di atas bidang besar dulu, karena lebih mudah. Kemudian bertahap pindah mewarnai bidang berukuran kecil yang tentunya membutuhkan koordinasi motorik tangan yang lebih sulit dan butuh konsentrasi tinggi.
Trending Now