Konten Media Partner

Sejak Kecil Suka Wayang, Dyah Ayu Pilih Menjadi Pedalang Perempuan

19 November 2025 5:47 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Sejak Kecil Suka Wayang, Dyah Ayu Pilih Menjadi Pedalang Perempuan
Gelaran wayang kulit ini semalam suntuk hingga pagi, jadi ceritanya harus tegas sesuai naskah dan harus kuat “melekan”. #publisherstory
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Dyah Ayu Kusumaning Tyas, mahasiswi semester satu jurusan Bahasa Daerah Universitas Negeri Solo (UNS) Jawa Tengah. Foto-foto : Dipta Wahyu
zoom-in-whitePerbesar
Dyah Ayu Kusumaning Tyas, mahasiswi semester satu jurusan Bahasa Daerah Universitas Negeri Solo (UNS) Jawa Tengah. Foto-foto : Dipta Wahyu
Tidak mudah bagi generasi muda saat ini jatuh cinta pada kesenian tradisional. Budaya populer seperti K-POP, Harajuku, maupun anime, sudah lebih dulu menjadi favorit di kalangan anak muda saat ini.
Dari yang sedikit anak muda menekuni budaya tradisional, ada nama Dyah Ayu Kusumaning Tyas, mahasiswi semester satu jurusan Bahasa Daerah Universitas Negeri Solo (UNS) Jawa Tengah, yang mengabdikan dirinya di dunia pewayangan sebagai dalang wayang kulit perempuan.
“Saya selalu suka dengan kesenian, khususnya yang diajarkan oleh orang tua saya, mereka penggiat seni tradisional wayang kulit dan penari. Jadi, segala seluk beluk tentang dunia pewayangan sudah menjadi santapan sehari-hari sejak saya sekolah TK. Dan kebetulan saya tidak berminat dengan budaya anak muda saat ini, seperti K-pop atau sejenisnya," ujarnya.
Dyah Ayu Kusumaning Tyas, asal Madiun Jawa Timur yang menekui dunia wayang kulit sejak usia Taman Kanak-Kanak.
Selain itu, ia juga mengutarakan pewatakan karakter di dalam setiap tokoh pewayangan mempunyai tingkat kesulitan dalam mempraktikan. Tidak hanya itu, memeragakan setiap pola tingkah lakunya pun juga menjadi persoalan, khususnya untuk Ayu sebagai dalang perempuan.
“Teknik sabetan atau gerakan dalam cerita pewayangan saat bertarung masih menjadi sedikit kendala, awalnya susah tetapi seiring waktu dan jam terbang perlahan membaik tetapi belum maksimal jika dibandingkan dengan gaya sabetan dalang pria,” imbuhnya saat hadir dalam kompetisi Festival Dalang Muda 2025 di Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya.
Perempuan asal Madiun, Jawa Timur tersebut juga berpendapat tentang eksistensi dalang wayang kulit perempuan yang masih jarang ditemui di pagelaran atau pentas. Penguatan mental dalam membangun ciri khas yang berbeda dengan pria menjadi karakter seorang dalang dalam menjalankan cerita pewayangan.
“Gelaran wayang kulit ini semalam suntuk hingga pagi, jadi ceritanya harus tegas sesuai naskah dan harus kuat melekan. Dulu sewaktu kecil saya ikut bapak pagelaran diberikan waktu jadi pembuka sebelum beliau tampil, saat ini sering full kalau ada undangan, itu butuh latihan dan konsistensi, karena jadi dalang tidak mudah, apalagi perempuan,” imbuh perempuan 19 tahun yang mengidolakan dalang Ki MPP Bayu Aji putra mendiang dalang ternama Ki Anom Suroto tersebut.
Ika Wiwidya (kiri) ibu dari Dyah saat menata riasan sebelum tampil di Festival Dalang Muda 2025.
Disisi lain, Ki Yogi “Bagong” yang merupakan ayahnya memberikan dukungan penuh kepada putrinya tersebut. Di setiap pentas yang ia jalani peran kedua orang tuanya selalu ada di sampingnya, menyiapkan wayang, merias, mendoakan sebelum naik panggung agar tidak gugup dan lupa jalan cerita.
“Saya bersama ibunya selalu mengenalkan apa yang kami lakukan dalam dunia kesenian, khususnya pewayangan dan tari. Kami tidak memaksa Ayu (sapaan akrab Dyah) untuk berkecimpung dalam wayang kulit, jika tertarik dan suka kita arahkan untuk belajar yang lebih baik. Tidak mudah menjadi seorang dalang perempuan karena kesempatannya belum banyak untuk pentas-pentas besar,” ujarnya.
Dyah Ayu bersama keluarganya menghadiri kegiatan Festival Dalang Muda 2025 di Taman Budaya Jawa Timur. Kegiatan yang diikuti 30 dalang wayang kulit dari berbagai kota di Jawa Timur rentang usia 17 tahun hingga 40 tahun terlihat sangat antusias. Acara tersebut merupakan rangkaian Hari Wayang Nasional 2025 dengan menampilkan beberapa pagelaran dan pameran wayang kulit yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI). (Dipta Wahyu)
Trending Now