Konten Media Partner

Sering Terjadi Kecelakaan di Perlintasan KA, Dosen di Surabaya Beri Solusi Ini

20 Maret 2025 10:04 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Sering Terjadi Kecelakaan di Perlintasan KA, Dosen di Surabaya Beri Solusi Ini
Dosen asal Surabaya ini mengembangkan model antrean berbasis data guna menganalisis dampak frekuensi kereta api terhadap lalu lintas jalan raya. #publisherstory #beritaanaksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Prof Ir Hera Widyastuti MT PhD. Foto: Humas ITS
zoom-in-whitePerbesar
Prof Ir Hera Widyastuti MT PhD. Foto: Humas ITS
Penumpukan sejumlah kendaraan ketika ada penutupan palang pintu di perlintasan kereta api menjadi masalah yang sering dihadapi di Indonesia. Hal itu mendorong Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ir Hera Widyastuti MT PhD memperkenalkan Model of Queuing in the Railway Level Crossings untuk mengatasi penumpukan kendaraan pada perlintasan sebidang jalur kereta api.
Guru Besar Departemen Teknik Sipil ITS ini memaparkan, penutupan pintu perlintasan kereta api yang terlalu lama kerap membuat pengguna jalan menjadi resah. Utamanya pada lintasan jalur ganda yang memiliki frekuensi kereta melintas lebih sering dibandingkan jalur tunggal, sehingga waktu penutupan pun lebih sering.
β€œHal tersebut dapat menyebabkan penumpukan pada antrean kendaraan yang akan lewat,” jelas perempuan kelahiran 1960 itu, Kamis (20/3).
Berdasarkan permasalahan tersebut, dosen asal Surabaya ini mengembangkan model antrean berbasis data guna menganalisis dampak frekuensi kereta api terhadap lalu lintas jalan raya.
Hera menjelaskan, untuk memperhitungkan durasi penutupan palang yang optimal perlu mempertimbangkan dua faktor baru. β€œKedua faktor tersebut ialah kecepatan dan panjang rangkaian kereta api,” paparnya.
Menurut Hera, kecepatan dan panjang rangkaian kereta api turut mempengaruhi durasi penutupan pintu perlintasan. Kereta yang melaju lebih cepat akan mempersingkat waktu penutupan, sementara rangkaian kereta yang lebih panjang akan memperlama waktu penutupan. Apabila palang tertutup saat antrean masih panjang, maka penumpukan kendaraan tidak dapat terhindarkan.
Selain itu, Hera juga melibatkan aspek sosial dengan meneliti harapan pengguna jalan terhadap durasi penutupan perlintasan. Dari hasil penelitiannya, Hera menyimpulkan bahwa durasi 30 detik sebelum dan sesudah kereta api lewat palang pintu perlintasan merupakan durasi paling ideal untuk dilakukan penutupan.
β€œDengan begitu, waktu tunggu sebelumnya bisa lebih tepat,” tutur Co-lead Infrastructure Cluster Australian Indonesian Center (AIC) periode 2014 - 2018.
Untuk mewujudkan transportasi yang nyaman dan efektif, Hera menekankan pentingnya optimalisasi jalur ganda. Menurutnya, seringnya kereta yang melintas pada jalur ganda juga harus diimbangi dengan headway (selang waktu) antarkereta yang tepat agar tidak memperburuk penumpukan ketika terjadi penutupan palang.
β€œDari hasil penelitian, headway yang baik adalah ketika memiliki durasi lebih dari 2,5 menit,” ungkap Hera.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa apabila headway antarkereta pada jalur ganda selama 3 menit, ketika terjadi penutupan dengan waktu 23 detik hasilnya tidak akan terjadi penumpukan apabila jumlah kendaraan kurang dari 80 persen kapasitas jalan.
Sebaliknya, pada penutupan berdurasi 152 detik dapat menyebabkan kemacetan jika volume kendaraan melebihi 10 persen dari kapasitas jalan. β€œOleh karena itu, pengaturan headway harus dioptimalkan,” tegasnya.
Terakhir, Kepala Laboratorium Transportasi dan Material Perkerasan Departemen Teknik Sipil ITS tersebut mengungkapkan bahwa riset ini juga membantu pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) 11 tentang Sustainable Cities and Communities. Hera berharap penelitiannya ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dalam meningkatkan kapasitas lintas jalur kereta api.
β€œSemoga dengan riset ini juga dapat mengurangi kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang kereta api di Indonesia,” pungkasnya.
Trending Now