Konten Media Partner

Tak Ingin Punah, Danar Dedikasikan Diri Membuat Wayang Kulit

7 November 2025 8:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Tak Ingin Punah, Danar Dedikasikan Diri Membuat Wayang Kulit
Untuk membuat wayang kulit tidak mudah. Selain harus memiliki seni dan bentuk yang presisi, bahan baku yang digunakan, yakni kulit kerbau, sulit dicari. #publisherstory #beritaanaksurabaya
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Proses pembuatan wayang kulit yang dilakukan Danar. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Proses pembuatan wayang kulit yang dilakukan Danar. Foto: Masruroh/Basra
Sebagai pecinta kesenian wayang, Danar Dwi Putra (35) mewujudkannya dengan mengoleksi wayang-wayang kuno. Sayangnya, sejumlah wayang kuno yang ia jumpai kondisinya cukup memprihatinkan, ada bagian-bagian wayang yang tak utuh. Dari sinilah pemuda Surabaya yang kesehariannya berprofesi sebagai illustrator digital ini mendedikasikan dirinya untuk membuat wayang.
"Sebenarnya saya ingin jadi dalang seperti leluhurnya saya, tapi oleh guru saya, saya disarankan untuk membuat wayang agar wayang tetap lestari," ungkap Danar saat ditemui Basra di kediamannya, (6/11).
Danar mulai mencoba membuat replika wayang dari koleksi wayang kuno miliknya pada 2019 silam. Tak sembarangan membuat, Danar memilih bahan dan cara pembuatannya yang sama persis dengan aslinya.
Ia menuturkan, untuk membuat wayang kulit tidak mudah. Selain harus memiliki seni dan bentuk yang presisi, bahan baku yang digunakan, yakni kulit kerbau, sulit dicari. Apalagi di perkotaan seperti Surabaya.
"Saya pakai kulit kerbau seperti bahan yang dipakai wayang kuno saya. Bahan ini memang paling bagus untuk membuat wayang kulit, tapi sangat susah dapatnya," ujarnya.
Meski cukup susah mendapatkan bahan untuk membuat wayang kulit, namun tak mematahkan semangat Danar. Di sela kesibukannya sebagai ilustrator digital, Danar selalu menyempatkan waktu untuk membuat wayang. Hingga kini Danar telah membuat 6 wayang kulit.
"Tapi yang sudah jadi (sampai tahap finishing) baru 2 ya, sisanya masih belum selesai pengerjaannya," imbuhnya.
Hebatnya, dua wayang buatan Danar telah dipamerkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada peringatan Hari Wayang Nasional tahun lalu.
Menurut Danar, jika bahan membuat wayang mudah didapat dan fokus pada pengerjaannya, maka waktu yang dibutuhkan untuk membuat 1 wayang kulit bisa 1 minggu.
"Bahan ya terutama yang sudah didapat sekarang ini. Dan saya juga kan ada kerjaan bikin (orderan) manga dan komik. Jadi tidak bisa cepet (bikin wayang)," terangnya.
Danar tetap berpegang teguh pada semangat pelestarian wayang. Ia mengaku selalu berusaha membuat wayang baru yang sedekat mungkin dengan koleksi wayang kunonya.
"Saya memilih wayang kuno, lalu saya pelajari dan duplikat semirip mungkin. Meskipun tangan manusia belum tentu 100 persen baik, tapi setidaknya ada jiwa yang tetap hidup di dalamnya," tegasnya.
Di momen Hari Wayang Nasional ini, Danar optimis dengan masa depan wayang sebagai warisan leluhur. Menurutnya, perkembangan teknologi seperti sekarang ini bukan menjadi ancaman bagi eksistensi wayang. Sebaliknya, dengan adanya digitalisasi justru memudahkan setiap orang terutama anak muda untuk mendapatkan informasi terkait wayang.
"Insyaallah saya yakin di era saat ini wayang bisa bertahan. Adanya internet justru membuat anak muda akan semakin paham apa itu wayang. Apalagi sekarang sudah ada sekolah perdalangan," pungkasnya.
Trending Now