Konten dari Pengguna

Natal dan Keluarga

Bernardus Agus Rukiyanto
Saya dosen teologi di Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Sanata Dharma. Saya lulusan S1 Filsafat STF Driyarkara, S1 Teologi di Universitas Gregoriana Roma, S2 di Loyola School of Theology, S3 di Weston Jesuit School of Theology, USA.
25 Desember 2025 13:00 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Natal dan Keluarga
Natal merupakan peristiwa iman yang menegaskan kehadiran Allah yang solider dengan kehidupan manusia, khususnya dalam konteks keluarga yang rapuh dan terluka. #userstory
Bernardus Agus Rukiyanto
Tulisan dari Bernardus Agus Rukiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Natal. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Natal. Foto: Shutter Stock
Pesan Natal 2025—yang disampaikan bersama oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)—mengambil tema ā€œAllah Hadir untuk Menyelamatkan Keluargaā€.
Tema ini menjadi relevan ketika direnungkan di tengah berbagai bencana banjir dan krisis ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.
Dalam situasi ketika rumah-rumah terendam, mata pencaharian terputus, dan keluarga-keluarga hidup dalam ketidakpastian, Natal tidak lagi terdengar sebagai perayaan yang jauh dan simbolik, tetapi sebagai pesan iman yang sangat konkret dan mendesak.

Solidaritas Allah

Natal mengimani Allah yang tidak tinggal jauh di balik langit, melainkan Allah yang memilih hadir di tengah rapuhnya kehidupan manusia. Kelahiran Yesus dalam keluarga sederhana Maria dan Yusuf di Nazaret menyingkapkan wajah Allah yang solider, Allah yang berbagi nasib dengan manusia.
Ilustrasi Tiga orang Majus. Foto: nito/Shutterstock
Dalam terang ini, pesan PGI–KWI—bahwa karya keselamatan Allah dialami dan diwujudkan di dalam keluarga—menjadi sangat relevan bagi keluarga-keluarga korban banjir di Sumatra.
Bencana alam selalu berdampak paling berat pada keluarga. Anak-anak kehilangan rasa aman, orang tua memikul kecemasan akan masa depan, dan lansia berada dalam posisi paling rentan.
Keselamatan—sebagaimana ditegaskan dalam pesan Natal PGI-KWI—tidak berhenti pada dimensi spiritual individual, tetapi menyentuh pemulihan relasi, martabat, dan harapan hidup keluarga secara utuh. Allah yang hadir menyelamatkan keluarga adalah Allah yang hadir di tengah tenda pengungsian, rumah sementara, dan dapur umum.
Keluarga Kudus Nazaret sendiri bukan keluarga yang bebas dari penderitaan. Injil mencatat bagaimana Maria dan Yusuf harus menghadapi ketidakpastian sosial, kecurigaan, bahkan pengalaman menjadi pengungsi ketika harus melarikan diri ke Mesir. Mereka mengenal rasa takut, keterbatasan, dan ancaman terhadap keselamatan anak mereka.
Patung ilustrasi peristiwa kelahiran Yesus. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Justru di situlah Keluarga Kudus menjadi teladan solidaritas: bertahan bersama, saling menopang, dan mempercayakan hidup pada Allah di tengah situasi yang tidak ideal. Teladan ini berbicara kuat kepada keluarga-keluarga yang hari ini bertahan di tengah bencana.
Pesan Natal PGI–KWI mengingatkan bahwa Allah yang menyelamatkan melibatkan keluarga manusia dalam karya keselamatan-Nya. Solidaritas menjadi bahasa iman yang paling otentik.
Di tengah-tengah bencana banjir di Sumatra, solidaritas bukan sekadar empati sesaat, tetapi keberpihakan nyata pada keluarga-keluarga yang terluka. Di sinilah iman diuji: Apakah Natal hanya berhenti pada perayaan, atau sungguh menjadi gerakan kasih yang menyentuh luka konkret sesama?
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Driyarkara yang menegaskan bahwa manusia menjadi manusia secara penuh dalam relasi. Bencana tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga mengoyak jaringan relasi yang menopang kemanusiaan.
Panitia Natal Nasional 2025 masih terus menyalurkan bantuan untuk warga terdampak banjir dan longsor di Sumatera Barat. Foto: Bakom RI
Maka, solidaritas pascabencana bukanlah tindakan tambahan, melainkan upaya memulihkan kemanusiaan itu sendiri. Ketika keluarga-keluarga korban banjir ditinggalkan tanpa pendampingan jangka panjang, yang terancam bukan hanya kesejahteraan mereka, melainkan juga martabat kemanusiaan bersama.
Bencana alam adalah pengalaman kolektif yang seharusnya mendidik bangsa ini tentang kepedulian, tanggung jawab ekologis, dan keadilan sosial. Namun, pelajaran ini hanya bermakna jika diterjemahkan dalam kebijakan publik yang berpihak pada keluarga korban bencana: tata ruang yang aman, perlindungan lingkungan yang serius, pemulihan ekonomi keluarga, dan layanan kesehatan mental yang memadai.
Paus Fransiskus—dalam Laudato Si’ (2015)—menegaskan bahwa krisis ekologis dan penderitaan manusia saling terkait. Kerusakan lingkungan selalu berdampak paling berat pada keluarga miskin dan rentan.
Banjir di Sumatra bukan sekadar peristiwa alam, melainkan juga cermin dari relasi manusia yang tidak adil dengan alam. Natal mengingatkan bahwa Allah hadir bukan hanya untuk menghibur korban, melainkan juga untuk mengajak manusia bertobat, secara ekologis dan sosial.

Solidaritas Kita Bersama

Ilustrasi misa Natal. Foto: Talukdar David/Shutterstock
Pesan Natal PGI–KWI 2025 menolak iman yang terpisah dari realitas. Allah yang solider dengan umat manusia memanggil kita semua untuk hadir secara nyata. Solidaritas lintas iman, lintas daerah, dan lintas kelas sosial menjadi kesaksian iman yang relevan bagi Indonesia yang majemuk. Penderitaan keluarga-keluarga di Sumatra adalah penderitaan kita bersama sebagai bangsa.
Natal menjadi perayaan harapan yang lahir di tengah puing-puing. Allah hadir bukan dengan janji kosong, melainkan dengan keberpihakan pada yang rapuh.
Keluarga Kudus Nazaret mengajarkan bahwa keselamatan tumbuh dari kebersamaan dan kepercayaan di tengah ketidakpastian. Dari keluarga-keluarga yang dipulihkan, harapan bagi masyarakat dan bangsa dapat kembali bertumbuh.
Di situlah Natal menemukan maknanya yang paling mendalam: Allah yang solider, manusia yang saling menopang, dan keluarga yang menjadi tanda keselamatan di tengah dunia yang terluka.
Trending Now