Konten dari Pengguna

Bahasa Portugis Masuk Kurikulum Sekolah: Peluang Lusofonia bagi SDM Indonesia

Bilqis Oktaviani Putri
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
18 November 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bahasa Portugis Masuk Kurikulum Sekolah: Peluang Lusofonia bagi SDM Indonesia
Kebijakan Bahasa Portugis di Kurikulum Sekolah Indonesia menjadi Peluang SDM Indonesia di negara-negara Lusofonia
Bilqis Oktaviani Putri
Tulisan dari Bilqis Oktaviani Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Presiden Prabowo Subianto (kanan) bersama Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva (kiri) menyampaikan keterangan kepada wartawan usai melakukan pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto (kanan) bersama Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva (kiri) menyampaikan keterangan kepada wartawan usai melakukan pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
Pada akhir Oktober 2025 Presiden Prabowo Subianto mengumumkan arahan agar bahasa Portugis dimasukkan ke dalam pelajaran di sekolah-sekolah Indonesia. Keputusan itu disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Negara, Jakarta, pada 23 Oktober 2025. Dalam pembicaraan tersebut Prabowo menyatakan keyakinannya terhadap potensi kerja sama kedua negara dan mengarahkan agar bahasa Portugis diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia sebagai langkah memperkuat hubungan diplomatik dan kerja sama praktis.
"Karena pentingnya hubungan ini, saya sudah putuskan bahwa bahasa Portugis menjadi bahasa prioritas di pendidikan kita" Tegas Prabowo.
Selain bahasa Portugis, perlu diketahui bahwasanya telah banyak bahasa prioritas lainnya yang sudah lama masuk dalam kurikulum sekolah Indonesia, seperti bahasa Arab, bahasa Mandarin, bahasa Jepang, bahasa Korea, bahasa Perancis, bahasa Jerman, hingga bahasa Rusia.
Dari penerapan kebijakan baru ini, Indonesia dengan ini memindahkan relasi Indonesia dan Brasil dari sekadar kerja sama ekonomi menjadi kemitraan berbasis pemahaman budaya. Selaras dengan Mark (2009), dalam penjelasannya mengenai language diplomacy sebagai mekanisme untuk membangun jembatan sosial dan politik.

Bahasa Portugis dan Perluasan Peluang di Lusofonia

Bahasa Portugis adalah bahasa resmi di sejumlah negara lintas benua. Organisasi negara-negara Lusophone, Community of Portuguese Language Countries (CPLP), memiliki 9 negara anggota penuh, yaitu Brasil, Portugal, Angola, Mozambik, Timor-Leste, Guinea-Bissau, Cabo Verde, São Tomé and Príncipe, Equatorial Guinea. Secara total dunia Lusofon diperkirakan menjangkau ratusan juta penutur dengan angka populasi gabungan sekitar 250–270 juta orang. Dengan ini, mempelajari bahasa Portugis bukan hanya mempererat hubungan diplomasi dengan Brazil dalam skema South-South Cooperation.
Selain itu, memperkuat hubungan dengan Brasil melalui bahasa juga memperluas jalur akses Indonesia ke jaringan ekonomi BRICS, terutama dalam agrikultur, energi, dan teknologi. BRICS sebagai Blok Ekonomi Alternatif mewakili lebih dari 30% PDB global dan mempromosikan tatanan ekonomi multipolar.

Lebih dari Belajar Bahasa, Akses Peluang Pendidikan dan Lapangan Pekerjaan

Bendera Brasil. Foto: REUTERS/Ueslei Marcelino
Secara praktis, memasukkan bahasa Portugis sebagai mata pelajaran pilihan di dapat menjadi jalur pengenalan bahasa yang murah dan strategis. Namun dalam jangka panjang, kemampuan bahasa ini akan bermanfaat untuk membuka akses bagi yang tertarik melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri. Dengan kata lain, bahasa Portugis mempu menjadi gateway language ke ekosistem pendidikan dan pasar kerja global Lusofon.
Luasnya beasiswa ilmu agrikultur, kehutanan, dan teknologi terapan di Brasil dan Portugal bisa menjadi fokus strategis dalam pengembangan kerjasama ini. Sebagai negara anggota Uni Eropa, Portugal juga memiliki daya tarik melalui beasiswa Erasmus+ yang prestisius.
Dalam perluasan kesempatan kerja di dunia global, Angola dan Mozambik yang kaya akan minyak dan gas turut terbuka. Peluang profesi teknik, energi, dan konstruksi cukup luas karena proyek LNG di Mozambik merupakan yang terbesar di Afrika dalam dekade terakhir. Portugal pun juga dapat menjadi pintu masuk menuju pasar tenaga kerja Eropa. Portugal juga menarik karena Tech Scene yang ada di Lisbon dan Porto merupakan hub startup di Eropa.
Peningkatan kemampuan bahasa Portugis di Indonesia dapat mempererat hubungan kita dengan Timor-Leste. Kolaborasi pendidikan di kawasan Asia Tenggara menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi destinasi pendidikan tinggi mahasiswa Timor-Leste.
Optimalisasi Kebijakan di Masa Depan
Dari hanya sekedar menetapkan kebijakan bahasa prioritas, Indonesia dapat memulai merangkai beberapa program strategis dalam tindak lanjut kebijakan ini, seperti (1) Pelaksanaan pilot project kurikulum di beberapa provinsi yang memiliki hubungan ekonomi aktif dengan negara Lusofon; (2) Kerja sama langsung dengan universitas terbaik Brasil dan Portugal untuk pelatihan guru; (3) Program mobilitas mahasiswa dan tenaga profesional ke pasar energi Afrika–Lusofon dan industri Brasil. (4) Integrasi riset Indonesia–Brasil khususnya di bidang agrikultur, pangan, dan kehutanan.
Jika diimplementasikan dengan baik, kebijakan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi linguistik generasi muda, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam arsitektur global yang semakin multipolar dan terhubung melalui jaringan BRICS–Lusofon.
Trending Now