Konten dari Pengguna
Agama & Cinta: Poros Mistika Kehidupan Manusia
17 Juli 2025 9:03 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Agama & Cinta: Poros Mistika Kehidupan Manusia
Usaha dalam menjelaskan bagaimana cinta dan agama menempati ranah mistik dalam pikiran kita, serta mengapa keduanya perlu dilengkapi oleh logika.Moehammad Bintang Aimar Andika
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah keberlangsungan hidup, terdapat dua kekuatan yang seringkali menjadi sandaran untuk manusia. Cinta yang menghangatkan hati dan agama yang meneguhkan keyakinan. Dalam Madilog (1943), Tan Malaka menyebut keduanya sebagai “pelabuhan terakhir” atau tempat kita berlabuh ketika akal tak lagi mampu menjadi tumpuan langkah. Dalam meromantisasi hal tersebut, artikel ini akan menggali bagaimana cinta dan agama menempati ranah mistik dalam pikiran kita. Serta sebuah anjuran bagi keduanya untuk tetap dilengkapi oleh logika.

Agama & Cinta: Dua Wajah Logika Mistika
Dalam pisau analisis Madilog, logika mistika adalah cara berpikir yang menggantikan pembuktian yang bersifat material dengan sebuah keyakinan absolut tanpa proses dialektika. Agama dan cinta yang ketika diasingkan dari ranah nalar/logika kemudian dapat menjelma menjadi dua manifestasinya:
Kedua hal tersebut seringkali dipakai oleh manusia karena menawarkan pelarian cepat. Sebuah kepastian instan, kenyamanan emosional, dan rasa aman batin tanpa harus berpikir panjang. Akan tetapi, Tan Malaka mengingatkan untuk jangan membiarkan agama dan cinta menutupi akal pikiran. Keduanya perlu diimbangi oleh logika seperti mengajukan pertanyaan, menuntut bukti, dan melihat realita di balik pesona mistis agar kita tidak terperangkap oleh ilusi.
Mengapa Manusia Mengagungkan Cinta & Agama?
Agama seringkali dianggap sebagai jawaban dari kegelisahan soal eksitensial. Sementara itu, cinta merupakan penghibur dari keterasingan manusia di dunia. Madilog mengekspresikan ini sebagai "selimut penghangat di malam pikiran yang menggigil". Ketika logika tidak lagi bisa menjawab "Mengapa aku menderita?", kemudian agama menjawab bahwasannya "ini adalah ujian tuhan" dan disambung oleh cinta yang berbisik "kau belum menemukan pasangan hidupmu".
Apakah mungkin cinta dan agama menjadi pelarian untuk sebuah "Revolusi yang Gagal"? Mungkin saja, karena bukan sebuah kebetulan jika mistika agama dan cinta merajalela di tengah masyarakat yang terjajah. Keduanya seringkali menjadi sebuah peralihan untuk hasrat akan perubahan. Daripada memberontak pada sebuah penindasan, manusia sibuk memikirkan sekaligus mengejar surga dan pujaan hati.
Cinta dan agama juga seringkali menjadi sebuah ilusi untuk mengontrol kehidupan. Agama dapat menawarkan sebuah ritual yang dapat mengamankan akhirat. Sementara itu, cinta menjadi landasan untuk memiliki hati seseorang. Keduanya kemudian menjadi mesin penghasil kepastian yang semu di tengah dunia yang kelabu.
Titik Bahaya: Ketika Iman & Asmara Membunuh Logika
Bagaimana agama dapat menjadi sebuah marabahaya? Agama yang dianut sebagai kebenaran absolut, alat legitimasi kekuasaan, dan pemusnah nalar kolektif dapat menjadi sebuah ancaman. Keseimbangan harus tetap terjaga agar keyakinan tersebut kemudian tidak menghilangkan pertanyan kritis, menjadi pembenaran akan sebuah penindasan, dan memiskinkan nalar karena janji akan surga.
Sedangkan bagaimana cinta menjadi akar konflik untuk manusia? Cinta memberikan sebuah ilusi akan kehidupan bahagia. Cinta dalam logika mistika dapat menjadi sebuah sumber masalah ketika hubungan menjadi sebuah takdir ilahi yang tidak boleh diubah, pengorbanan buta dianggap sebagai bukti kesucian, pasangan diagungkan hingga sisi kemanusiannya hilang. Hal-hal tersebut kemudian membangun sebuah permasalahan jika tidak dapat diseimbangkan oleh akal pikiran.
Jalan Tengah Madilog: Menyeimbangkan Logika dengan Cinta dan Agama
Tan Malaka tidak menolak agama maupun cinta. Dalam Madilog, ia justru membantu untuk membuat sebuah jembatan konseptual yang menghubungkan iman, rasa, dan nalar. Ia menggambarkan tiga lapis eksistensi manusia sebagai Langit (transendensi agama), Samudra (kedalaman cinta), dan Bumi (materialitas & logika). Diantaranya kemudian mengalir dua arus bolak-balik akan keyakinan yang meneguhkan serta pertanyaan yang menuntun. Sehingga ketiganya bisa saling mendukung ketimbang terjebak dalam mistika semata.
Prinsip pertama di jembatan ini adalah Uji Material. Untuk ranah agama, Tan Malaka menantang kita menanyakan: “Apa bukti duniawi dari ajaran spiritual ini?” Ia mengingatkan bahwa khotbah atau doa tanpa jejak nyata dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menjadi akidah tanpa akar. Demikian pula dalam cinta, ia mengajak kita mencecar: “Apa dasar konkret dari ikatan ini selain gejolak hati?” Jika cinta hanya berdiri di atas gelombang perasaan, tanpa dialog terbuka, komitmen nyata, atau bukti kerja sama, maka ia mudah goyah kala badai konflik datang.
Prinsip kedua adalah Dialektika Abadi. Bagi agama, terdapat sebuah urgensi untuk mengkritisi tafsir dan menolak doktrin yang menindas. Karena iman yang sehat justru tumbuh dari pertanyaan dan syarat rasional. Dalam ranah cinta, ia menyarankan agar setiap konflik menjadi pijakan pematangan, bukan kutukan. Jika perselisihan dianggap sebagai ujian bersama, bukan stigma kegagalan, maka cinta akan berkembang dari kontradiksi menuju keindahan yang lebih dewasa.
Dengan memahami analogi Langit, Samudra, dan Bumi melalui Uji Material dan Dialektika Abadi, Madilog membantu memberikan kita formula untuk merajut cinta dan beragama tanpa meninggalkan jejak mistis yang membelenggu nalar. Pada akhirnya, agama dan cinta ketika dilengkapi oleh logika bukan lagi sebuah ‘pelabuhan terakhir’ atau 'pelarian', melainkan perjalanan bersama menuju kebebasan berpikir dan kedewasaan nurani.
Dari Mistika Menuju Merdeka
Agama dan cinta bukanlah musuh dari sebuah kemajuan, keduanya adalah sungai yang mengaliri peradaban. Akan tetapi, dapat menjadi sebuah masalah ialah ketika sungai itu dibiarkan banjir tanpa dikendalikan bendungan nalar. Di Indonesia yang religius sekaligus romantis, mari kita melakukan revolusi untuk cara berpikir. Beribadahlah seolah kau akan mati besok, tapi bekerjalah seolah kau hidup seribu tahun lagi. Kemudian, mencintalah seolah dunia akan kiamat esok, tapi bicarakalah seolah kau punya waktu abadi. Sebab ketika berada titik seimbang itulah, manusia bukan lagi hamba doktrin agama atau budak asmara, melainkan insan merdeka yang berjalan di bumi sambil menatap keindahannya.
Tinjauan Pustaka
Malaka, T. (1943). Madilog.
Malaka, T. (1948). Pandangan hidup. Jakarta: Komunitas Bambu.
Malaka, T. (1949). Islam dalam tinjauan Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Jakarta: Widjaja.

