Konten dari Pengguna
Bocor Alus Politik Kampus: Narasi Tanpa Wajah yang Menggerus Budaya Kritik
3 Desember 2025 12:04 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Bocor Alus Politik Kampus: Narasi Tanpa Wajah yang Menggerus Budaya Kritik
Menjelaskan tentang fenomena bocoralus kampus dengan model seperti Tempo, namun dengan anonimitas total yang pada akhirnya menjadi penggiringan persepsi publik yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Moehammad Bintang Aimar Andika
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam beberapa tahun terakhir, platform media sosial seperti Twitter dan Instagram diramaikan oleh kemunculan akun-akun yang menyebut diri sebagai "bocoran halus" atau "bocor alus" politik kampus. Akun-akun ini kerap menyajikan informasi, gosip, hingga analisis politik internal perguruan tinggi dengan gaya yang sensasional dan penuh misteri. Meski banyak yang mengklaim membawa "suara mahasiswa", pada hakikatnya, fenomena ini lebih menyerupai mesin propaganda yang dirancang untuk menggiring opini publik tanpa bisa dipertanggungjawabkan.

Narasi yang Dirakit, Opini yang Digiring
Ciri utama akun-akun ini adalah anonimitas total. Kita tidak pernah tahu siapa pengelola di baliknya, kepentingan apa yang mereka bawa, atau atas dasar data dan verifikasi apa informasi mereka disusun. Narasi yang dibangun ialah entah tentang pertarungan elit organisasi, kebijakan rektorat, atau isu sensitif kampus. Hal ini didesain untuk memancing reaksi emosional, seperti kemarahan, ketidakpercayaan, atau dukungan buta.
Tanpa identitas yang jelas, akun-akun ini lepas dari tanggung jawab publik. Jika ada informasi yang salah, fitnah, atau hasutan, tidak ada pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Ini sangat berlawanan dengan tradisi jurnalisme yang sehat, di mana setiap tulisan melekat pada nama penulis dan lembaga yang siap dikritik, diklarifikasi, atau bahkan digugat jika melanggar etika.
BocorAlus vs. Lembaga Pers Mahasiswa: Dua Kutub yang Berseberangan
Ironisnya, di hampir semua perguruan tinggi telah berdiri Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) atau sejenisnya, yang secara konstitusional dan etik memiliki fungsi serupa: menyampaikan informasi, melakukan kontrol sosial, dan menjadi ruang dialektika mahasiswa. Bedanya, LPM dibangun di atas prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Setiap artikel di media pers mahasiswa mencantumkan nama penulis atau redaksi. Pembaca bisa melacak track record-nya, mengajukan kritik, atau melakukan diskusi produktif. Proses kerja jurnalistik yang mereka terapkan mulai dari verifikasi data, klarifikasi sumber, dan checks and balances redaksional kemudian menjadi jaminan minimal atas kredibilitas informasi. LPM hadir bukan sebagai penggiring opini belaka, tetapi sebagai pilar demokrasi kampus yang terbuka dan bertanggung jawab.
Bandingkan dengan "bocor alus" yang justru mengubur prinsip-prinsip itu. Mereka menawarkan kritik tanpa wajah, opini tanpa dasar yang jelas, dan sensasi tanpa substansi. Jika mengacu pada contoh media profesional seperti Tempo, setiap tulisan dilengkapi dengan identitas penulis yang jelas. "Bocor alus" ala Tempo pun tetap berada dalam kerangka pertanggungjawaban publik yang dinaungi oleh Tempo, bukan di balik kedok anonimitas yang steril dari kritik.
Lantas, Mengapa Ini Berbahaya?
Langkah ke Depan: Bangun Kembali Kepercayaan pada Media yang Bertanggung Jawab
Sudah saatnya setiap agen kampus, seperti mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas academica bersikap kritis dan bijak. Daripada memberi panggung dan legitimasi pada akun-akun tanpa wajah, mari alihkan perhatian dan dukungan kepada Lembaga Pers Mahasiswa dan kanal-kanal diskusi yang transparan.
Bantu LPM untuk lebih gencar, kreatif, dan responsif dalam meliput dinamika kampus. Kembangkan literasi media di kalangan mahasiswa untuk membedakan antara jurnalisme yang bertanggungjawab dan propaganda terselubung. Kampus harus menjadi tempat di mana kebenaran diperjuangkan dengan terbuka, bukan disebarkan secara diam-diam dari balik layar.
Fenomena "bocor alus politik kampus" bukan simbol kebebasan berekspresi, melainkan gejala erosi dan rusaknya budaya intelektual yang bertanggung jawab. Mari jaga marwah perguruan tinggi sebagai ruang dialektika yang sehat, berintegritas, dan berani tampil atas nama sendiri. Karena kritik yang paling berharga adalah yang disampaikan dengan terang, bukan dengan bisik-bisik di kegelapan.

