Konten dari Pengguna
Doxxing dan Konflik Horizontal: Ketika Kritik Mahasiswa Berubah Menjadi Cacian
24 Agustus 2025 12:31 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Doxxing dan Konflik Horizontal: Ketika Kritik Mahasiswa Berubah Menjadi Cacian
Artikel yang menjelaskan fenomena doxxing di kalangan organisasi dan kepanitiaan mahasiswa. Hal ini kemudian menimbulkan kehancuran di kalangan mahasiswa itu sendiriMoehammad Bintang Aimar Andika
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lingkungan kampus sejatinya adalah miniatur demokrasi yang semestinya menjadi ruang aman bagi tumbuhnya pemikiran kritis, inovasi, dan kolaborasi. Sebagai agent of change dan calon pemimpin bangsa, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan pendapat, memberikan kritik, dan berdebat secara sehat untuk membangun kegiatan yang lebih baik. Namun, belakangan ini, fenomena yang justru kontra-produktif mulai marak: doxxing yang dilakukan oleh akun-akun anonim Instagram yang mengincar individu dalam organisasi atau kepanitiaan.

Apa itu doxxing? Doxxing (berasal dari kata "dropping documents") adalah tindakan membongkar dan menyebarkan informasi pribadi, keburukan atau kekurangan seseorang ke ranah publik tanpa persetujuan, dengan maksud mengintimidasi, meneror, atau membalas dendam.
Aksi ini seringkali dibungkus dengan dalih "kritik". Namun, yang tersaji bukanlah evaluasi terhadap substansi program, melainkan serangan terhadap karakter pribadi, perkataan masa lalu yang diambil dari konteksnya, dan upaya sistematis untuk menjelek-jelekkan individu di mata publik. Alih-alih membangun, praktik ini justru melahirkan konflik horizontal yang dalam dan merusak sesama mahasiswa.
Dari Kritik Membangun menjadi Cacian Merusak
Tidak dapat dimungkiri, setiap kegiatan yang diselenggarakan mahasiswa pasti memiliki celah untuk dikritik. Mulai dari masalah teknis, konsep, hingga kesan eksklusivitas. Kritik yang sehat disampaikan dengan:
Yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kritik telah bergeser menjadi:
Dampak yang Merugikan Semua Pihak
Praktik doxxing dan kritik tidak sehat ini ibarat penyakit yang menggerogoti dari dalam. Dampaknya sangat luas:
Mahasiswa Sebagai Calon Pemimpin: Sudah Saatnya Berbenah
Sudah waktunya kita kembali merefleksikan nilai-nilai intelektual dan moral sebagai mahasiswa. Berdebat dan mengkritik adalah hal yang wajar, tetapi harus dilakukan dengan cara yang elegan dan cerdas.
Kesimpulan
Doxxing dan penyebaran kebencian oleh akun anonim bukanlah kritik, melainkan bentuk pengecutian digital (digital cowardice) yang justru menunjukkan ketidakdewasaan berpikir. Tindakan ini merendahkan martabat kita sebagai kaum intelektual yang seharusnya mampu menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang beradab.
Mari kita hentikan konflik horizontal yang tidak perlu. Kembalikan semangat kritik yang membangun, transparan, dan berorientasi pada solusi. Karena masa depan bangsa ini ditentukan oleh bagaimana kita, para mahasiswa, berlatih berdemokrasi dan memimpin hari ini. Jangan biarkan jejak digital kita diwarnai oleh aksi-aksi yang justru akan kita sesali di kemudian hari.

