Konten dari Pengguna

Efek Lingkungan Digital Pada Memori dan Komitmen Gen-Z

Moehammad Bintang Aimar Andika
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
16 September 2025 11:50 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Efek Lingkungan Digital Pada Memori dan Komitmen Gen-Z
Artikel ini membahas fenomena sosial tentang Gen Z yang tumbuh dalam lingkunugan digital. Gen Z dan lingkungan digital kemudian menciptakan sebuah pola perilaku baru dalam tatanan sosial
Moehammad Bintang Aimar Andika
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Generasi Z (lahir 1997-2012) yang kini mendominasi bangku perkuliahan menunjukkan pola perilaku unik dalam berorganisasi dan berkomitmen. Berbeda dengan generasi sebelumnya, mereka cenderung menghindari keterikatan jangka panjang dan lebih memilih kegiatan yang bersifat spontan, menarik, dan memberikan kepuasan instan. Fenomena ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan digital yang membentuk cara mereka berpikir, bersikap, dan berinteraksi. Artikel ini akan membahas bagaimana paparan konten digital pendek dan cepat telah memengaruhi kemampuan Gen Z dalam mempertahankan komitmen, serta bagaimana mereka lebih memilih hal-hal yang sesuai dengan minat dan kondisi emosional mereka sesaat.
Ilustrasi Gen Z yang menyelami dunia digital (Foto ini dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gen Z yang menyelami dunia digital (Foto ini dibuat oleh AI)
Gen Z merupakan generasi digital native yang sejak kecil telah terbiasa dengan internet, gawai, dan media sosial. Hidup mereka selalu terhubung dengan layar, baik untuk belajar, berkomunikasi, mencari hiburan, maupun membentuk opini. Karakter mereka khas: cepat menyerap informasi, kritis, berani, tapi juga rentan pada hoaks, impulsif, dan haus pengakuan sosial. Validasi sering diukur lewat jumlah like, komentar, atau views di media sosial. Pola ini yang kemudian memengaruhi cara mereka dalam berorganisasi dan berkomitmen.

Digital Environment dan Pola Kognitif Gen Z

Konsumsi konten digital yang berlebihan telah menyebabkan fenomena yang disebut sebagai "brain rot" atau pembusukan otak. Istilah ini dipilih sebagai Oxford Word of the Year 2024 dan mengacu pada penurunan kemampuan kognitif dan kelelahan mental yang dialami individu, terutama remaja dan dewasa muda, karena paparan berlebihan terhadap materi online yang trivial dan tidak menantang. Gejalanya termasuk menghabiskan berjam-jam di depan layar, kecemasan ketika jauh dari perangkat mobile, dan melemahnya kemampuan untuk memusatkan perhatian pada aktivitas yang berharga. Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata remaja 17-19 tahun menghabiskan sekitar 6 jam per hari pada perangkat digital (Manwell et al., 2022). Paparan ini mengubah volume materi abu-abu dan putih di otak, meningkatkan risiko gangguan mental, dan mengganggu akuisisi memori dan pembelajaran.
Platform seperti TikTok dengan algoritma "For You Page"-nya mendorong putaran konsumsi tanpa akhir yang dapat mendorong pengurangan respons emosional dan rentang perhatian yang dipersingkat. Konten yang terlalu merangsang ini pada akhirnya menyebabkan seseorang kesulitan mengonsumsi konten yang lebih panjang dan tidak terpotong, dan lebih jauh mengurangi keterlibatan bermakna dalam pengalaman kehidupan nyata.
Dalam fenomena ini, masalah yang dihadapi Gen Z bukanlah juga bukan sekedar kapasitas memori yang buruk, melainkan adaptasi kognitif terhadap lingkungan yang penuh dengan informasi. Mereka cepat menyaring konten dan mencari informasi yang relevan daripada berusaha mempertahankan segalanya.

Manifestasi Perilaku: Menghindari Komitmen Jangka Panjang

Dalam konteks hubungan, Gen Z menunjukkan ketakutan akan komitmen yang tercermin dari popularitas istilah seperti "situationship", "talking stage", dan "roster". Mereka lebih memilih untuk "melihat bagaimana kelanjutannya" daripada menentukan status yang jelas. Hal ini disebabkan oleh persepsi bahwa komitmen berarti menutup diri dari opsi lain, sementara dunia digital menawarkan begitu banyak pilihan yang bisa dijelajahi hanya dengan menyentuh layar.
Dalam konteks organisasi, kecenderungan serupa juga terlihat. Gen Z enggan terikat dengan organisasi yang membutuhkan komitmen jangka panjang. Mereka lebih memilih kegiatan yang bersifat ad-hoc, project-based, atau yang memberikan kepuasan serta pengakuan instan.
Gen Z mendekati karier dengan pola pikir transaksional. Hanya sedikit dari Gen Z yang mengatakan mereka berinvestasi dalam pekerjaan mereka untuk jangka panjang. Kebanyakan generasi ini berencana meninggalkan pekerjaan mereka dalam waktu setahun, dan setengah dari mereka siap pergi kapan saja. Bahkan beberapa Gen Z mulai menjadi perhatian khusus bagi pengusaha karena fenomena "ghosting" majikan atau berhenti tanpa pemberitahuan atau penjelasan telah terjadi di beberapa kesempatan.

Dinamika Psikologis dan Sosial di Balik Perilaku Gen Z

Fenomena FOMO memainkan peran penting dalam perilaku Gen Z. Mereka sangat peka terhadap tren dan keramaian. Mereka tidak ingin tertinggal atau ketinggalan momen, apalagi ketika teman-teman sebaya mereka sudah ada di sana, mendahului. Dorongan sederhana, seperti takut dianggap tidak gaul, tidak solid, atau tidak berani kemudian dapat mendorong mereka turun ke jalan, bukan karena memahami isu, melainkan karena takut tersisih.
Dalam teori Uses and Gratifications (U&G), Gen Z mencari kepuasan sosial dari media: identitas, rasa memiliki, dan pengakuan dari kelompok sebaya. Kehadiran mereka dalam aksi atau demonstrasi menjadi salah satu jalan aktualisasi diri untuk mendapatkan validasi, meski berisiko. Narasi "semua orang ada di sana, maka aku pun harus hadir" mendorong partisipasi tanpa pemahaman mendalam tentang isu yang dihadapi.
Gen Z terbiasa dengan istilah dopamine-driven feedback loops yang diberikan oleh platform digital. Maksudnya adalah setiap notifikasi, like, atau komentar memberikan kepuasan instan yang memicu pelepasan dopamin. Hal ini menciptakan lingkaran keterlibatan abadi di mana otak menjadi kecanduan pada kepuasan sesaat yang datang dari informasi baru.
Kebiasaan ini kemudian terbawa dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Gen Z cenderung mengejar hal-hal yang langsung memberikan kepuasan dan menghindari ketidaknyamanan yang membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan. Mereka lebih memilih meninggalkan situasi yang tidak nyaman daripada berusaha memperbaikinya, sebagaimana terlihat dalam kecenderungan mereka untuk "ghosting" dalam hubungan kerja maupun personal.

Kesimpulan

Gen Z menghadapi paradoks modern: terhubung secara digital tetapi terkadang terputus secara emosional dan kognitif dari komitmen jangka panjang. Pola ketidaktertarikan mereka pada organisasi dengan komitmen jangka panjang dan preferensi untuk pengalaman langsung dan berapi-api merupakan adaptasi terhadap lingkungan digital yang membentuk mereka.
Daripada mengutuk atau menyalahkan Gen Z, kita perlu memahami akar penyebab perilaku ini dan mengembangkan strategi untuk mendukung mereka dalam membangun ketahanan kognitif dan kapasitas untuk komitmen yang berarti. Dengan melakukan itu, kita dapat membantu mengubah energi dan kreativitas mereka yang luar biasa menjadi kekuatan positif untuk perubahan sosial dan inovasi yang berkelanjutan.
Lembaga pendidikan, perusahaan, dan masyarakat luas perlu beradaptasi dengan realitas baru ini dengan menciptakan struktur yang lebih fleksibel, memberikan umpan balik yang sering dan bermakna, serta memperkuat tujuan dan nilai-nilai yang relevan dengan generasi digital native ini. Dengan pendekatan yang tepat, ketidaktertarikan pada komitmen jangka panjang bukanlah akhir dari keterlibatan, tetapi mungkin merupakan awal dari bentuk baru partisipasi sosial dan profesional nantinya.
Trending Now