Konten dari Pengguna

Fenomena The Wellness Paradox: Dampak Kegiatan Yang Berlawanan Untuk Diri

Moehammad Bintang Aimar Andika
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
19 September 2025 11:47 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Fenomena The Wellness Paradox: Dampak Kegiatan Yang Berlawanan Untuk Diri
Artikel ini berusaha membahas tentang fenomena dimana suatu kegiatan dapar berdampak positif bagi fisik namun buruk bagi mental, dan sebaliknya. Hal ini kemudian disebut sebagai Paradoks Wellness
Moehammad Bintang Aimar Andika
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam beberapa tahun terakhir, kita dibombardir oleh banyak sekali tren kesehatan dan produktivitas. Dari diet ketat, program fitness yang ekstrem, hingga tantangan kerja marathon untuk meraih kesuksesan. Namun, di balik maraknya kegiatan ini, seringkali tersembunyi sebuah paradoks yang tidak terlihat. Apa yang baik untuk tubuh, belum tentu baik untuk jiwa, dan sebaliknya. Kita mungkin menemukan seorang pelaku diet yang fisiknya langsing tetapi mentalnya tersiksa oleh anxiety akan makanan. Atau seorang workaholic yang secara finansial sukses, tetapi mengalami burnout dan kehilangan makna hidup.
Ilustrasi dari fenomena Paradoks Wellness (Foto ini dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dari fenomena Paradoks Wellness (Foto ini dibuat oleh AI)
Fenomena ini menyebar cepat melalui media sosial dan budaya populer, seringkali tanpa pemahaman utuh tentang dampak multidimensinya. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan fenomena kontradiksi kesehatan ini, memberikan sebuah nama untuk mendefinisikannya, dan memberikan panduan untuk mengenali serta menyikapinya dengan lebih bijak.

Memetakan Fenomena: Empat Kuadran Kontradiksi

Untuk memvisualisasikan fenomena ini, kita dapat memetakan berbagai kegiatan dalam empat kuadran berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental.
Ilustrasi dari kuadran yang menguraikan Paradoks Wellness (Foto dibuat oleh penulis)
KUADRAN 1: SIMBIOSIS SEHAT
Pada kuadran ini, kegiatan yang dilakukan positif untuk fisik dan positif untuk mental. Contohnya seperti Yoga, Jalan-jalan di alam, Olahraga tim yang menyenangkan.
KUADRAN 2: KENIKMATAN BERMAKNA
Pada kuadran ini, kegiatan yang dilakukan biasanya positif untuk mental tetapi negatif untuk fisik. Sebagai contoh, ialah Makan comfort food secukupnya, Hari libur untuk rebahan & recovery, Melakukan hobi yang sederhana (menonton, membaca).
KUADRAN 3: PARADOKS WELLNESS
Pada kuadran ini, kegiatan yang dilakukan berdampak positif pada fisik, namun berdampak negatif pada mental. Kegiatan seperti Diet yang ekstrem dan menyiksa, Overtraining hingga cedera, Operasi plastik untuk mencapai standar kecantikan yang tidak realistis dapat disebut sebagai paradoks wellness.
KUADRAN 4: KERUSAKAN GANDA
Kemudian pada kuadran ini, kegiatan yang dilakukan dapat berdampak negatif pada fisik maupun mental. Contohnya ialah Substance abuse (narkoba, alkohol), Self-harm. Kegiatan ini sebisa mungkin harus dihindari sebagai kegiatan utama dalam kehidupan sehari-hari.
Fokus analisis pada artikel ini adalah pada Kuadran 3: Paradoks Wellness, di mana kegiatan yang secara lahiriah terlihat "sehat" untuk fisik justru memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental, dan sebaliknya (meski lebih jarang) pada Kuadran 2.

Mengurai Akar Penyebab Fenomena Ini

Penyebaran kegiatan dari Kuadran 3 ini tidak terjadi begitu saja. Beberapa faktor pendorong utamanya adalah:

Strategi Menghadapi dan Menyikapi The Wellness Paradox

Lalu, bagaimana kita menghindari jebakan ini? Fenomena dapat dihindari dengan melakukan hal-hal seperti:

Kesimpulan

Fenomena "The Wellness Paradox" (Paradoks Wellness) adalah cerminan dari dunia modern yang seringkali melihat kesehatan sebagai sesuatu yang terpisah-pisah, bukan sebagai satu kesatuan yang utuh. Penyebarannya dipercepat oleh budaya instan, media sosial, dan tekanan sosial.
Dengan memberi nama pada fenomena ini, kita telah mengambil langkah pertama untuk menyadarinya. Langkah selanjutnya adalah dengan secara kritis mengevaluasi setiap tren kesehatan yang kita ikuti, bukan hanya melihat manfaat fisiknya yang instan, tetapi juga mempertanyakan dampaknya terhadap kesejahteraan mental kita dalam jangka panjang.
Tujuan kita bukanlah untuk memiliki tubuh yang sempurna dengan jiwa yang sakit, atau sebaliknya. Tujuannya adalah untuk mencapai titik harmonis, di mana pilihan-pilihan kita untuk menjadi sehat justru membawa kedamaian, kebahagiaan, dan vitalitas pada seluruh aspek diri kita.
Trending Now