Konten dari Pengguna

HUT ke-80: Teknologi yang Melesat atau Kebijakan yang Menghambat

Moehammad Bintang Aimar Andika
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
17 Agustus 2025 12:17 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
HUT ke-80: Teknologi yang Melesat atau Kebijakan yang Menghambat
Artikel yang membahas 80 tahun indonesia merdeka, telah menorehkan berbagai prestasi dan melesat dalam teknologi, namun terhambat oleh kebijakan dan politik populis dari dalam birokrasi
Moehammad Bintang Aimar Andika
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Delapan dekade berlalu sejak Proklamasi 1945 bergema. Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaan dengan pencapaian teknologi yang menggema hingga antariksa. Satelit mengorbit, startup unicorn bermunculan, inovasi digital merambah desa. Namun, di balik kemilau kemajuan ini, di daratan politik, pertanyaan filosofis mendesak: Apa hakikat "merdeka" yang sesungguhnya hari ini? Apakah kita telah benar-benar bebas, atau justru terjebak dalam bentuk penjajahan baru yang lebih halus oleh politisi dan kebijakan sendiri?
Ilustrasi perkembangan teknologi dengan kebijakan politik populis yang berdampingan (Foto dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perkembangan teknologi dengan kebijakan politik populis yang berdampingan (Foto dibuat oleh AI)

Merdeka: Bukan Sekadar Bebas Bendera Asing

Para pendiri bangsa memaknai merdeka jauh melampaui lepasnya belenggu fisik penjajah. Bung Karno pernah mengatakn dengan berapi-api: "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Peringatan ini terasa menusuk ketika melihat fenomena politik kontemporer. Tan Malaka, sang pemikir revolusioner, mengingatkan: "Tujuan perjuangan kita bukan untuk mengganti tuan kulit putih dengan tuan kulit coklat." Apakah elit politik kita hari ini telah menjadi "tuan kulit coklat" baru?

Fenomena Politik: Populisme, Militerisme, dan Substansi yang Hilang

Realitas politik Indonesia pasca-Reformasi, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, diwarnai tren yang mengkhawatirkan:

Terjajah oleh Politisi Sendiri? Refleksi Pahit

Inilah titik refleksi paling krusial. Apakah bangsa ini, 80 tahun setelah mengusir penjajah asing, justru mengalami bentuk "penjajahan baru"? Penjajahan oleh keserakahan elit, oligarki politik-ekonomi, kebijakan yang tidak pro-rakyat kecil, dan sistem yang mempertahankan ketimpangan. Ketika kebijakan dibuat untuk mengamankan kekuasaan dan menguntungkan segelintir kelompok alih-alih memajukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesejahteraan bersama, bukankah itu penjajahan gaya baru? Ketika suara rakyat yang kritis disisihkan, bukankah kemerdekaan berpikir dan berpendapat sedang dijajah?

Teknologi & Sains: Mercusuar Kemerdekaan Sejati?

Di tengah kabut politik ini, kemajuan di bidang Teknologi dan Sains justru menjadi cahaya harapan dan cermin idealisme kemerdekaan yang sesungguhnya:
Namun, kemajuan tekno-sains ini bisa terhambat jika kebijakan politik tidak mendukung. Anggaran riset yang masih rendah, birokrasi yang berbelit, dan ketergantungan pada impor teknologi tinggi adalah tantangan besar. Kebijakan populis jangka pendek sering mengabaikan investasi jangka panjang di bidang riset dan pendidikan sains yang fundamental.

Merdeka yang Diimpikan Para Pendiri: Kembali ke Substansi

Merayakan 80 tahun kemerdekaan bukan hanya seremoni. Ini adalah momen untuk merefleksikan kembali pesan dasar para founding fathers. Kemerdekaan sejati adalah ketika kebijakan dibuat dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan (Sjahrir), bukan emosi atau pencitraan populis. Kemerdekaan adalah ketika kekuasaan digunakan untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan kemiskinan (Tan Malaka), bukan memperbudaknya dengan utang atau kebijakan yang tidak berpihak. Kemerdekaan adalah keberanian berpikir kritis dan membangun peradaban berbasis ilmu (Soekarno: "Beri aku 10 pemuda, akan kuguncang dunia").
Di orbit teknologi, Indonesia sedang menuju kemerdekaan sejati. Tetapi di bumi politik, kita masih terjebak dalam permainan kekuasaan yang sering mengabaikan substansi kemerdekaan itu sendiri. Tantangan ke-80 tahun ini adalah menyelaraskan kedua orbit ini: memastikan kemajuan tekno-sains yang gemilang didukung oleh kebijakan politik yang berintegritas, berkelanjutan, dan benar-benar memerdekakan akal budi serta kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Hanya dengan itu, "Indonesia Merdeka" bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang hidup dan bernafas.
Trending Now