Konten dari Pengguna

Reset dan Rekonstruksi: Memaknai Kembali Hakikat Politik untuk Generasi Muda

Moehammad Bintang Aimar Andika
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
27 Oktober 2025 13:11 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Reset dan Rekonstruksi: Memaknai Kembali Hakikat Politik untuk Generasi Muda
Artikel yang membahas tentang hakikat politik yang sesungguhnya, bagaimana politik semestinya berjalan terutama sebagai warisan untuk generasi muda yang nantinya akan memimpin Indonesia.
Moehammad Bintang Aimar Andika
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika praktik politik terjebak dalam rutinitas yang tidak ideal dan diwarnai oleh berbagai "penyimpangan" makna, diperlukan sebuah lompatan paradigma, bukan sekadar perbaikan tambal sulam. Inilah saatnya untuk melakukan reset, sebuah upaya fundamental untuk memaknai kembali tujuan dan hakikat politik itu sendiri. Agar politik tidak diwariskan sebagai warisan yang "tercemar" kepada generasi yang akan datang.
Ilustrasi hakikat politik untuk kebaikan bersama (Foto dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hakikat politik untuk kebaikan bersama (Foto dibuat oleh AI)

Reset Filosofis: Kembali ke Pertanyaan Pokok

Reset harus dimulai dari level paling dasar, yaitu dengan menjawab kembali pertanyaan-pertanyaan fundamental yang sering terlupakan:
Menurut Aristoteles, politik ada karena manusia adalah zoon politicon (makhluk sosial) yang harus mengatur kehidupan kolektifnya. Hakikatnya adalah upaya bersama untuk mengatur tata kelola kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terciptanya kebaikan bersama (common good), bukan sekadar perebutan dan pemeliharaan kekuasaan.
Substansi politik bukanlah kekuasaan untuk dirinya sendiri, melainkan pelayanan dan pengabdian bagi terwujudnya keadilan sosial, kesejahteraan umum, dan martabat kemanusiaan. Inilah marwah politik yang sesungguhnya.
Politik semestinya berjalan di atas rel etika dan moral, di mana nilai-nilai kejujuran, keadilan, kesantunan, dan penghormatan pada perbedaan menjadi panduan utama setiap tindakan dan kebijakan.

Reset Sistemik: Merancang Ulang Struktur dan Insentif

Pemaknaan kembali harus diikuti dengan rekonstruksi sistem yang mendukung terwujudnya hakikat politik tersebut. Dimulai dari bangku pendidikan yang transformatif. Pendidikan kewarganegaraan dan politik harus diubah dari hafalan teori menjadi pendidikan karakter politik. Fokusnya adalah pada internalisasi nilai-nilai etika berpolitik, kemampuan analisis kritis terhadap realita, dan penanaman keberanian moral untuk menolak praktik-praktik yang menyimpang.
Penanaman nilai-nilai moral dan etika dalam berpolitik juga penting demi membersihkan praktik politik yang "kotor". Nilai-nilai yang baik seperti Pancasila harus dapat diterjemahkan secara operasioanl menjadi kode etik politik dan memiliki mekanisme penegakkan yang kuat. Setiap pelaku politik, dari level terendah hingga tertinggi, harus dibiasakan dengan akuntabilitas dan integritas, sehingga politik kembali menjadi profesi yang mulia, bukan sekadar lapangan pencarian nafkah atau akumulasi kekayaan.
Reformasi sistem-sitem politik juga menjadi kunci penting dalam memutus siklus politik yang tidak ideal. Transparasi dari dana dan kegiatan pejabat publik harus dapat diakses oleh masyarakat untuk meminimalisir tindakan korupsi atau penyelewengan dana oleh para pejabat publik. Partai-partai politik juga harus meneguhkan lagi ideologi-ideologinya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat, bukan hanya mempertahankan kekuasaan atau nilai turun temurun. Partai politik harus dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pejabat publik, terutama melalui anggota legislatif yang mewakili suara rakyat.

Reset Kultural: Membangun Kesadaran Kolektif

Reset tidak akan berhasil tanpa pergeseran budaya politik. Dalam hal ini, budaya yang dimaksud adalah:

Sebuah Warisan Politik yang Bermartabat

Memaknai kembali tujuan dan hakikat politik untuk generasi mendatang adalah sebuah proyek besar peradaban. Reset yang kita butuhkan adalah sebuah perjalanan kembali ke makna ruang politik yang paling otentik, kemudian membangun ulang sistem dan budaya yang selaras dengan ruang tersebut. Dengan demikian, kita tidak mewariskan siklus "kekacauan" dan "kekeruhan", melainkan sebuah fondasi politik yang bermartabat. Di mana politik kembali menjadi seni mulia untuk mengabdi pada kemanusiaan dan kebaikan bersama.
Trending Now