Konten dari Pengguna
Skeptisisme Sebagai Pedoman Dalam Menjaring Hoax dan Disinformasi
4 September 2025 11:11 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Skeptisisme Sebagai Pedoman Dalam Menjaring Hoax dan Disinformasi
Skeptisisme merupakan sebuah inisiatif untuk tidak mudah memercayai suatu informasi. Hal ini selaras dengan maraknya informasi palsu atau hoax di era sekarangMoehammad Bintang Aimar Andika
Tulisan dari Moehammad Bintang Aimar Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah hiruk-pikuk aksi unjuk rasa, tuntutan kepada pemerintah, dan maraknya insiden represivitas aparat, masyarakat Indonesia dibombardir oleh banjir informasi yang seringkali kontradiktif dan tidak terverifikasi. Dalam situasi seperti ini, sikap skeptis menjadi tameng penting untuk menyaring kebenaran dari lumpur hoax dan disinformasi.
Apa Itu Skeptisisme dan Mengapa Penting?
Skeptisisme merupakan sikap tidak mudah percaya atau meragukan sesuatu tanpa bukti yang cukup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skeptis adalah "sikap kurang percaya, ragu-ragu terhadap keberhasilan ajaran dan sebagainya". Namun, skeptisisme bukanlah sikap negatif sebagaimana sering dipersepsikan, melainkan sebuah pendekatan kritis untuk mendapatkan kebenaran yang valid. Dalam konteks kekinian, skeptisisme adalah bentuk pertahanan diri terhadap arus informasi yang deras. Hal ini mengingat akan di era digital ini, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat, termasuk informasi yang tidak terverifikasi.
Tantangan Laju Informasi Digital di Indonesia
Kecepatan penyebaran informasi di era digital telah menciptakan sebuah tantang krusial. Sebagai contoh ialah:
Skeptisisme Sebagai Senajata Yang Wajib Dimiliki
Bersikap skeptis bukan berarti anti-pemerintah atau anti-aparat, tetapi merupakan sikap bijak dalam menyikapi informasi. Bersifat skeptis disini menekankan bahwa hal tersebut adalah sikap penting yang harus dimiliki semua orang, baik konsumen maupun produsen media.
Dalam konteks kekinian, skeptisisme membantu kita untuk:
Strategi Praktis Menerapkan Skeptisisme Digital
Untuk menerapkan skeptisisme secara praktis dalam mengonsumsi informasi, penting untuk selalu melakukan verifikasi berita dengan mencari referensi dari sumber terpercaya sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Hindari mempercayai akun media sosial yang tidak jelas identitasnya dan sering menyebarkan informasi tanpa sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan terburu-buru dalam memberikan komentar terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Akan lebih baik untuk diam daripada menyebarkan spekulasi yang menyesatkan. Bertanggung jawablah dengan tidak membagikan informasi yang masih diragukan, bahkan di ruang privat seperti grup chat. Apabila kebenaran suatu informasi belum terungkap, usahakan untuk tetap bersikap netral tanpa terjebak pada satu narasi tertentu.
Peran Institusi dan Otoritas dalam Membangun Kepercayaan
Skeptisisme masyarakat seringkali berakar pada kurangnya transparansi dari institusi-institusi publik. Dalam beberapa kasus, ketertutupan ini memicu semakin derasnya informasi simpang siur. Contoh nyata adalah kekhawatiran mengenai penggunaan alat sadap Pegasus buatan Israel yang diduga digunakan oleh aparat Indonesia. ICW dan sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak Polri terbuka tentang pengadaan alat sadap dengan metode "zero-click" yang berpotensi mengancam demokrasi dan kebebasan sipil.
Transparansi dari institusi-institusi publik merupakan kunci penting mengurangi skeptisisme yang tidak sehat dan membangun kepercayaan masyarakat. Ketika institusi publik terbuka dan akuntabel, masyarakat cenderung tidak terjebak dalam lingkaran skeptisisme yang berlebihan terhadap setiap informasi yang beredar.
Membangun Skeptisisme Sehat: Antara Keraguan dan Kepercayaan
Skeptisisme yang sehat berbeda dengan sikap sinis. Skeptisisme sehat mendorong kita untuk mencari kebenaran melalui verifikasi, sementara sikap sinis membuat kita menutup diri pada segala informasi, bahkan dari sumber yang terpercaya.
Untuk menghindari skeptisisme yang berlebihan, penting untuk membiasakan diri berdiskusi dengan berbagai pihak agar perspektif kita semakin kaya dan tidak terjebak pada informasi satu sisi. Sikap terbuka terhadap berbagai sudut pandang memungkinkan kita memahami alasan di balik suatu pendapat tanpa harus selalu menyetujuinya. Selain itu, membiasakan perilaku positif seperti tidak meragukan segala sesuatu secara berlebihan tanpa dasar yang jelas dapat membantu menjaga keseimbangan dalam berpikir kritis. Terakhir, belajar menerima ketidakpastian adalah langkah bijak, karena dalam banyak kasus, kebenaran mutlak sulit ditemukanโmaka teruslah mencari verifikasi sambil tetap bersikap terbuka terhadap kemungkinan yang ada.
Menjadi Konsumen Media yang Cerdas di Tengah Krisis
Di tengah arus informasi yang kian deras dan situasi yang tak menentu, menjadi konsumen media yang cerdas bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Langkah pertama adalah membiasakan diri untuk selalu menelusuri asal-usul informasi. Siapa yang menyampaikan, dari mana sumbernya, dan apa kepentingan di baliknya. Penting pula untuk mampu membedakan antara fakta dan opini, sebab tak sedikit narasi yang dikemas seolah-olah faktual padahal hanya interpretasi pribadi. Konsistensi dari suatu informasi juga patut untuk diperiksa kebenarannya. Informasi yang valid biasanya merupakan informasi yang selaras di berbagai sumber, sementara hoaks kerap menunjukkan celah dan kontradiksi. Terakhir, utamakan sumber-sumber yang telah terbukti kredibel dan menjunjung tinggi proses verifikasi sebelum menyebarkan berita. Dengan sikap seperti ini, kita turut menjaga ekosistem informasi yang sehat dan beradab.
Skeptisisme sebagai Jalan Menuju Masyarakat Informasi yang Sehat
Dalam kondisi Indonesia yang sedang mengalami gejolak sosial dan politik, sikap skeptis merupakan kebutuhan demokrasi. Namun, skeptisisme harus dibarengi dengan kesediaan untuk mencari kebenaran dan keterbukaan terhadap informasi yang terverifikasi.
Di era di mana kebenaran sering menjadi korban kepentingan, skeptisisme bukanlah pilihan melainkan keharusan. Namun, mari jadikan skeptisisme sebagai jembatan menuju kebenaran, bukan tembok yang mengurung kita dalam sangkar keraguan abadi. Dengan menerapkan skeptisisme sehat, kita tidak hanya melindungi diri dari hoax dan disinformasi, tetapi juga berkontribusi pada ekosistem informasi yang lebih sehat dan demokrasi yang lebih kuat.

