Konten dari Pengguna
Hadiah Kemerdekaan Indonesia Menggema Hingga Palestina
21 Agustus 2025 12:28 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Hadiah Kemerdekaan Indonesia Menggema Hingga Palestina
Kemerdekaan dirayakan, solidaritas ditebarkan. Indonesia kirim hadiah 80 tahun untuk PalestinaBudi Harianto
Tulisan dari Budi Harianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap negara memiliki cara merayakan kemerdekaan. Ada yang menggelar parade militer, ada pula yang merayakan dengan pesta rakyat. Indonesia tentu tidak asing dengan dua hal itu. Namun, pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia tahun 2025 perayaan kemerdekaan diberi dimensi baru yaitu solidaritas lintas batas. Alih-alih hanya merayakan dengan gegap gempita di dalam negeri, Indonesia juga mengulurkan tangan untuk rakyat Palestina yang masih hidup di tengah konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.
Aksi pengiriman bantuan kemanusiaan ini bukan hanya sekadar rutinitas diplomasi, tetapi mengandung simbolisme yang kuat. Bantuan sebanyak 17,8 ton dijatuhkan dari langit Gaza oleh Satgas Garuda Merah Putih-II tepat pada tanggal 17 Agustus 2025. Angka itu jelas dipilih untuk melambangkan 17-8, hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) juga menyalurkan 80 ton bantuan, sejalan dengan usia kemerdekaan Indonesia. jika ditotal, bantuan yang berhasil dihimpun Indonesia mencapai 800 ton.
Aksi Nyata di Langit Gaza
Misi kemanusiaan ini dilaksanakan dengan sangat terukur. Dua pesawat C-130J Super Hercules milik TNI Angkatan Udara diterbangkan dari Pangkalan Udara King Abdullah II di Yordania. Pada pukul 10.37 waktu setempat pesawat lepas landas dan dua jam kemudian mereka berhasil menjatuhkan paket bantuan di berbagai titik Gaza. Bantuan ini berupa bahan pangan, obat-obatan, selimut, dan perlengkapan darurat lain yang sangat dibutuhkan warga sipil di tengah blokade.
Menurut Kolonel Penerbangan Puguh Yulianto, Komandan Satgas Garuda Merah Putih-II misi ini berjalan lancar meski penuh risiko. “Tidak ada kendala berarti dalam operasi, semua berlangsung sesuai rencana," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan profesionalitas militer Indonesia dalam menjalankan misi kemanusiaan lintas negara.
Tak hanya soal teknis, aksi ini juga sarat dengan simbolisme nasional. 17,8 ton bantuan jelas mengacu pada tanggal kemerdekaan Indonesia, sementara 80 ton bantuan BAZNAS merepresentasikan usia kemerdekaan. Angka-angka ini memperlihatkan bagaimana perayaan nasional dapat dimaknai sebagai wujud solidaritas secara global.
Sejarah Solidaritas Indonesia Palestina
Solidaritas Indonesia untuk Palestina bukan hal yang baru. Sejak awal kemerdekaan, Presiden Soekarno menegaskan bahwa “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel”. Sikap ini bukan sekadar retorika, melainkan bagian dari politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, di mana isu kolonialisme dan penjajahan selalu menjadi perhatian.
Pada era pasca reformasi, Indonesia konsisten menyuarakan dukungan bagi Palestina di forum internasional seperti PBB, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Gerakan Non-Blok. Namun, pengiriman bantuan langsung dengan skala sebesar ini menandai babak baru dari retorika diplomatik menuju diplomasi aksi.
Menurut pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana, diplomasi kemanusiaan merupakan salah satu bentuk soft power yang dapat meningkatkan citra internasional Indonesia. ia menilai bahwa “ketika Indonesia hadir di Gaza bukan hanya dengan kata-kata, akan tetapi dengan bantuan nyata, maka posisi Indonesia di mata dunia semakin dihormati.
Makna dan Simbolisme Bantuan
Bantuan Indonesia ke Gaza HUT ke-80 RI memiliki beberapa lapisan makna. Pertama dimensi kemanusiaan. Palestina adalah salah satu wilayah yang paling berdampak konflik dunia. Akses bantuan sangat terbatas karena blokade militer, sehingga bantuan udara menjadi vital. Kedua dimensi simbolik. Pemilihan angka 17,8 ton dan 80 ton adalah cara kreatif untuk menghubungkan perayaan kemerdekaan dengan aksi nyata solidaritas.
Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang menyebutkan sebagai “hadiah istimewa” bukan hanya bagi rakyat Palestina, tetapi juga bagi bangsa Indonesia, karena menegaskan nilai kemerdekaan yang sejati. Ketiga dimensi politik luar negeri. Aksi ini mempertegas konsisten Indonesia dalam memperjuangkan isu Palestina di panggung internasional. Dengan bantuan nyata, Indonesia mengirim pesan bahwa ia tidak hanya hadir dalam forum diplomatik, tetapi juga dalam situasi lapangan yang nyata.
Respons Internasional dan Relevansi Global
Media internasional pun menyoroti aksi ini. The Australian mencatat bahwa Indonesia berhasil menyalurkan bantuan berupa makanan dan obat-obatan langsung ke Gaza, memperlihatkan peran aktif negara Asia Tenggara dalam isu Timur Tengah. Hal ini menarik karena biasanya, perhatian dunia terhadap Gaza lebih banyak datang dari negara-negara Timur Tengah atau barat.
Kehadiran Indonesia memperluas spektrum solidaritas internasional. Selain itu, aksi ini memperkuat identitas Indonesia sebagai negara demokrasi besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dalam konteks politik global, langkah ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai “bridge builder” atau jembatan antara dunia Islam dan dunia internasional.
Kritik dan Tantangan
Meski mendapat banyak apresiasi, aksi ini tidak lepas dari kritik. Sebagian pihak menilai bahwa Indonesia masih memiliki banyak masalah domestik yaitu kemiskinan, pengangguran, dan bencana alam. Mereka mempertanyakan prioritas pemerintah dalam mengalokasikan sumber daya ke luar negeri. Namun, kritik ini dapat dijawab dengan perspektif yang lebih luas.
Bantuan ke Palestina bukan berarti melupakan persoalan dalam negeri. Justru, aksi ini memperlihatkan bahwa Indonesia mampu menjalankan solidaritas global tanpa mengorbankan kepentingan nasional. Lagi pula, bantuan kemanusiaan adalah bagian dari tanggung jawab moral bangsa yang pernah mengalami penjajahan.
Refleksi Makna Kemerdekaan yang Melampaui Batas
Kemerdekaan Indonesia tidak hanya bermakna bagi bangsa sendiri, tetapi juga menjadi inspirasi bagi bangsa lain. Seperti yang pernah dikatakan Bung Karno, kemerdekaan Indonesia “tidak akan berarti apa-apa jika bangsa lain masih dijajah”. Kata-kata itu kini menemukan wujudnya dalam aksi nyata di Gaza.
Tindakan Indonesia mengirim bantuan ke Palestina pada HUT ke-80 RI adalah pengingat bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang dibagikan. Solidaritas ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi juga pengingat bahwa penderitaan bangsa lain adalah bagian dari penderitaan umat manusia.
Dalam rangka panjang, aksi ini diharapkan menjadi tradisi baru bahwa setiap perayaan kemerdekaan Indonesia bukan hanya dirayakan dengan pesta, tetapi juga dengan kontribusi nyata bagi dunia. Dengan begitu, kemerdekaan Indonesia bukan hanya milik bangsa ini, melainkan juga cahaya bagi bangsa lain yang masih berjuang.
Penutup
Bantuan Indonesia ke Palestina pada HUT ke-80 RI adalah peristiwa bersejarah yang memadukan dimensi kemanusiaan, simbolisme nasional, dan diplomasi internasional. Ia memperlihatkan bahwa kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus hidup dalam aksi nyata.
Indonesia membuktikan bahwa menjadi bangsa merdeka berarti juga bertanggung jawab pada sesama. Semoga langkah ini tidak hanya menjadi “hadiah ulang tahun” semata, tetapi juga menjadi tonggak baru diplomasi kemanusiaan Indonesia. Karena seperti kata Nelson Mandela, “Kebebasan sejati bukan hanya membebaskan diri sendiri, tetapi juga membebaskan orang lain”.

