Konten dari Pengguna

One Day Trip Mengunjungi Warisan Adat Leluhur dan Kulineran di Kota Palembang

Regita Cahyani
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia
5 Juni 2025 16:51 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
One Day Trip Mengunjungi Warisan Adat Leluhur dan Kulineran di Kota Palembang
Pertama kali mengikuti City Tour di Kota Palembang, bukan sekedar City Tour biasa mengunjungi destinasi wisata tetapi juga kulineran dan belajar adat dari para leluhur
Regita Cahyani
Tulisan dari Regita Cahyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
City tour kulineran keliling kota palembang menggunakan perahu ketek menyusuri sungai musi. Sumber dokumentasi pribadi 2025
zoom-in-whitePerbesar
City tour kulineran keliling kota palembang menggunakan perahu ketek menyusuri sungai musi. Sumber dokumentasi pribadi 2025

Pertama kali mengikuti City Tour di Kota Palembang, bukan sekedar City Tour biasa mengunjungi destinasi wisata tetapi juga kulineran dan belajar adat dari para leluhur

Perjalanan dimulai dari titik lokasi kumpul di Benteng Kuto Besak, yaitu Benteng yang berada di pelataran sungai Musi berdekatan dengan Jembatan Ampera. Dari sana kami berlayar menggunakan perahu ketek menuju destinasi pertama yaitu Kampung Pempek.
Estimasi sekitar 3 menit melalui jalur sungai kami pun sampai ke tujuan. Di kampung pempek ini kami menuju kesebuah tempat produksi pempek yang sudah sangat Legend dan terkenal yaitu Pempek Koyek. Mereka bisa memproduksi 400kg pempek dalam satu hari. Disini kita tidak hanya makan pempek, tetapi juga langsung melihat proses pembuatan mulai dari pencampuran bahan, pembuatan adonan, hingga proses rebus dan goreng.

Mempelajari asal muasal dan proses pembuatan

Kami pun ikut andil untuk membuat pempek tersebut hingga akhirnya bisa kami makan. Kami pun makan dengan view yang sangat cantik yaitu icon kota palembang Jembatan Ampera.
Berkunjung ke kampung pempek dan ikut andil membuat pempek khas palembang. Sumber dokumentasi pribadi 2025.

Kampung Kapitan, Arsitektur Bangunan Bersejarah Berumur Lebih Dari 100 Tahun

Kampung Kapitan adalah kawasan bersejarah yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang. Merupakan permukiman etnis Tionghoa pertama di kota ini, Kampung Kapitan berdiri sejak abad ke-17 dan menjadi saksi penting akulturasi budaya Tionghoa, Palembang, dan kolonial Belanda.
Tak jauh dari kampung pempek tadi kami pun langsung mengunjunginya. Terdapat 2 Rumah yang saling bergandengan dan berumur lebih dari 100 tahun. Tidak ada biaya masuk ke sini tapi kita dapat menyumbang seikhlasnya untuk membantu pemeliharan Rumah ini.
Berkunjung ke Rumah Kampung Kapitan. Sumber dokumentasi pribadi 2025

Sate Cucuk Manis Khas Palembang sudah ada sejak 70 Tahun Yang Lalu.

Tak jauh dari Kampung Kapitan kami pun mencicipi sate khas Palembang yaitu Sate Cucuk Manis Wak Din yang sudah Legend berdiri sejak 70 Tahun yang lalu. Bahkan Almarhum Pak Bondan Food Kritikus ternama Indonesia sudah pernah datang kesini.
Sate ini memiliki bumbu khas yang tidak dimiliki sate lain. Disiram dengan kuah hitam yang mirip seperti cuko siap di santap. Harganya 6000 per tusuk. Disajikan dengan acar, sambel embem, kuah soto, dan kuah pindang dimakan bersama nasi hangat.

Rumah Baba Boentjit Berusia 300 Tahun dan Masih Kokoh Berdiri

Destinasi selanjutnya kami mengunjungi rumah yang sudah berdiri sejak 300 Tahun yang lalu yaitu Rumah Baba Boentjit yang juga dikenal sebagai Rumah Ong Boen Tjit. Terletak di Lorong Saudagar Yucing No. 55, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, rumah ini berdiri kokoh di tepi Sungai Musi dan telah berusia lebih dari 300 tahun. Dibangun oleh saudagar kaya keturunan Tionghoa, rumah ini menjadi saksi akulturasi budaya Tionghoa dan Palembang yang harmonis.
Sekarang di rumah ini sudah dikelola oleh generasi ke-6 menjadi objek wisata untuk dijadikan tempat Makrab (Malam Keakraban), acara pemerintahan, acara kampus, dan masih banyak lagi.

Tradisi Ngidang di Rumah Kembar Tuan Kentang

Destinasi terakhir kami mengunjungi rumah kembar Tuan Kentang untuk melakukan tradisi Ngidang
Ngidang di Rumah Kembar Tuan Kentang. Sumber dokumentasi pribadi 2025
Ngidang adalah salah satu warisan budaya khas Palembang yang memilik nilai kebersamaan yang kuat dan sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu. Biasanya tradisi ngidang ini mengajikan masakan khas Palembang yaitu seperti nasi minyak, daging malbi, ayam kecap, ikan asin, pentol, sambal hati ampela, acar dan sambel embem. Namun masakan juga bisa divariasikan sesuai selera.
Dari tour ini banyak hal yang dapat dipelajari, salah satunya adalah kesadaran akan wisata heritage, pengenalan adat daerah masih sangat minim dilakukan sekarang, karena City Tour seperti ini sangat jarang ditemui. Selain itu juga kita bisa mengenal kota Palembang lebih dalam dan bertemu orang-orang abru.
Trending Now