Konten dari Pengguna

Cofiring dan Retrofitting: Cara Indonesia ‘Turun Berat Badan’ Emisi Karbon

Ruslan Effendi
Lulusan S3 Akuntansi Universitas Gadjah Mada.
16 September 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cofiring dan Retrofitting: Cara Indonesia ‘Turun Berat Badan’ Emisi Karbon
Cofiring dan retrofitting jadi strategi Indonesia menurunkan emisi tanpa mematikan PLTU. Langkah bertahap ini menjaga listrik tetap stabil, tarif terjangkau, dan mendukung target NZE 2060.
Ruslan Effendi
Tulisan dari Ruslan Effendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Diet karbon (Ilistrasi)/Gambar dari AI
zoom-in-whitePerbesar
Diet karbon (Ilistrasi)/Gambar dari AI
Bayangkan tubuh kita yang selama ini terbiasa makan berlebihan. Tiba-tiba kita disarankan untuk “crash diet” — berhenti makan sama sekali — demi tubuh sehat. Tubuh bisa kaget, metabolisme berantakan, bahkan aktivitas sehari-hari terganggu. Begitu juga dengan sistem kelistrikan kita. Indonesia tidak bisa serta-merta menutup Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara yang hingga kini masih memasok sekitar 60 persen listrik nasional. Penutupan mendadak akan mengakibatkan listrik padam, harga listrik melonjak, dan industri terguncang.
Alih-alih memilih diet ekstrem, Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional mengambil jalan tengah dengan pola diet bertahap untuk emisi karbon. Dua strategi utama yang dipilih adalah cofiring dan retrofitting. Cofiring adalah langkah awal seperti mengurangi porsi makanan tidak sehat. Pada PLTU, sebagian batubara diganti dengan biomassa, misalnya pelet kayu, sekam padi, atau sampah kota yang diolah.
Rasio cofiring saat ini umumnya masih 5–10 persen, tetapi perlahan dapat ditingkatkan hingga 20–30 persen. Cara ini memungkinkan emisi karbon turun tanpa harus mematikan PLTU, sementara biaya investasi relatif rendah karena modifikasi teknis pada boiler tidak terlalu besar.
Setelah cofiring berjalan, langkah berikutnya adalah retrofitting, yang dapat diibaratkan seperti operasi besar bagi PLTU. Dalam proses ini, pembangkit dimodifikasi agar dapat memakai 100 persen bahan bakar bersih seperti amonia hijau atau hidrogen. Pada beberapa kasus, bahkan dipasangi teknologi carbon capture and storage (CCS) sehingga emisinya bisa ditekan hampir nol.
Biaya retrofitting memang lebih tinggi daripada cofiring, tetapi masih lebih ekonomis daripada menutup PLTU secara permanen dan membangun pembangkit baru dari nol. RUKN juga menegaskan bahwa retrofitting dilakukan ketika nilai buku pembangkit sudah nol atau kontrak PPA berakhir, sehingga tidak menimbulkan beban tambahan yang besar pada biaya pokok penyediaan listrik.
Pendekatan bertahap ini juga menjawab pertanyaan mengapa pemerintah tidak langsung “suntik mati” PLTU. Ada alasan ekonomi karena PLTU merupakan aset besar, dan menutupnya mendadak akan menimbulkan kerugian finansial yang tidak kecil. Ada alasan sosial karena penutupan mendadak berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja massal dan mengguncang ekonomi di daerah penghasil batubara. Selain itu, ada alasan teknis karena PLTU masih diperlukan untuk menjaga kestabilan listrik nasional. Pembangkit energi terbarukan seperti surya dan angin belum sepenuhnya bisa menyediakan inersia sistem yang dibutuhkan agar jaringan tetap stabil.
Strategi cofiring dan retrofitting ini memungkinkan PLTU tetap berperan dalam sistem kelistrikan, tetapi dengan wajah baru yang lebih ramah lingkungan. Seperti tubuh yang berangsur sehat karena pola makan diatur dengan bijak, strategi ini menurunkan “berat badan” emisi karbon tanpa mengorbankan ketahanan energi.
Strategi ini sejalan dengan target Net Zero Emission 2060. Cofiring berperan sebagai jembatan awal, sementara retrofitting menjadi tahap transformasi penuh menuju pembangkit bebas emisi. Pemerintah bahkan membuka peluang pensiun dini bagi PLTU jika ada dukungan pendanaan internasional, dengan syarat tidak menaikkan biaya listrik dan tidak mengganggu keandalan sistem.
Transisi energi Indonesia bukanlah sprint, melainkan maraton. Dengan cofiring dan retrofitting, kita tidak sekadar mematikan PLTU, melainkan mengubahnya menjadi lebih sehat. Ini adalah diet energi yang realistis, menjaga listrik tetap menyala, tarif tetap terjangkau, dan bumi tetap punya harapan.
Trending Now