Konten dari Pengguna

Belajar dari Bencana: Peringatan Alam vs Kelalaian Manusia yang Perlu Diwaspadai

Cantika Suci Rahmadani
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Matematika
5 Januari 2026 14:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Belajar dari Bencana: Peringatan Alam vs Kelalaian Manusia yang Perlu Diwaspadai
Belajar dari bencana bukan hanya soal memahami peringatan alam, tetapi juga melihat kelalaian manusia sebagai penyebab terjadinya bencana alam.
Cantika Suci Rahmadani
Tulisan dari Cantika Suci Rahmadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Dampak bencana alam akibat kelalaian manusia (Sumber: iStock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dampak bencana alam akibat kelalaian manusia (Sumber: iStock)
Belajar dari bencana menjadi hal penting di tengah meningkatnya kejadian bencana alam di berbagai wilayah Indonesia. Bencana sering dianggap sebagai peringatan alam, padahal dalam banyak kasus terdapat kelalaian manusia yang ikut memicu kerusakan dan kerugian. Dengan memahami hal ini, kita bisa belajar dari bencana dan berupaya mencegah terulangnya hal serupa di masa depan.
Bencana selalu datang tanpa permisi. Tidak peduli kita sedang sibuk bekerja, bersekolah, atau sekadar menikmati akhir pekan. Dalam hitungan jam bahkan menit banjir bisa menenggelamkan rumah, longsor merobohkan bangunan, dan kebakaran melahap hutan yang butuh puluhan tahun untuk tumbuh. Setelah itu, kita terdiam. Lalu muncul satu kalimat yang hampir selalu sama: β€œIni peringatan dari alam.”
Kalimat itu terdengar bijak, tapi sering kali berhenti sebagai slogan. Pertanyaan yang jarang benar-benar kita jawab adalah: apakah peringatan itu pernah kita dengarkan, atau hanya kita ucapkan lalu kita lupakan?

Alam Bekerja, Manusia yang Mengusik

Alam tidak punya niat jahat. Ia tidak bangun pagi lalu memutuskan untuk menghukum manusia. Alam hanya berjalan mengikuti hukumnya sendiri. Air mengalir ke tempat rendah. Tanah membutuhkan akar untuk tetap kokoh, dan hutan berfungsi sebagai penyangga kehidupan, bukan sekadar lahan kosong yang menunggu ditebang.
Masalah muncul ketika manusia mulai menganggap alam sebagai objek yang bisa diatur sesuka hati. Sungai dipersempit demi bangunan, lereng dibuka tanpa perhitungan, dan hutan ditebang atas nama pembangunan. Semua dilakukan dengan keyakinan bahwa teknologi dapat mengatasi segalanya, hingga suatu hari alam menunjukkan bahwa ia memiliki batas.

Bencana yang Terasa "Tak Sengaja"

Hampir setiap bencana selalu disebut sebagai musibah yang tidak terduga. Padahal, jika ditelesuri, banyak di antaranya memiliki jejak panjang. Banjir bukan sekadar hujan deras, tetapi juga soal drainase buruk dan sungai penuh sampah. Longsor bukan hanya karena tanah labil, melainkan akibat penebangan yang menghilangkan penebangan yang menghilangkan penyangga alami. Kebakaran hutan pun bukan semata cuaca kering, tetapi juga pembukaan lahan yang ceroboh.
Banjir yang berulang di sejumlah wilayah perkotaan Indonesia, seperti Jakarta dan sekitarnya, sering kali dikaitkan dengan tingginya curah hujan. Namun, persoalannya jauh lebih kompleks. Alih fungsi lahan, penyempitan sungai, serta buruknya sistem drainase membuat air kehilangan ruang alaminya. Akibatnya, hujan yang seharusnya bisa dikelola justru berubah menjadi bencana tahunan.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menunjukkan bahwa sebagian besar bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, yang erat kaitnnya dengan kondisi lingkungan serta aktivitas manusia.

Pola yang Selalu Terulang

Setelah bencana terjadi, biasanya muncul fase empati. Bantuan berdatangan, relawan bekerja tanpa lelah, dan media ramai memberitakan. Ada rasa kebersamaan yang kuat. Namun, seiring waktu perhatian itu memudar. Kehidupan kembali berjalan, janji evaluasi tinggal arsip, dan kebiasaan lama pun dilakukan lagi.
Bencana berikutnya kemudian datang, sering kali ditempat yang sama atau dengan pola serupa. Kita kembali terkejut dan berduka, seolah lupa bahwa kejadian ini pernah terjadi sebelumnya. Di sinilah ironi terbesar muncul: kita mengingat bencananya, tetapi melupakan pelajarannya.

Mengapa Kita Sulit Belajar?

Salah satu alasannya adalah jarak. Selama bencana tidak menimpa kita langsung, ia terasa seperti cerita orang lain. Kita bersimpati, tetapi tidak merasa terlibat. Kesadaran baru benar-benar muncul ketika rumah sendiri terendam atau keluarga sendiri menjadi korban.
Alasan lain adalah cara kita memandang pembangunan. Kemajuan sering diukur dari beton, jalan tol, dan gedung tinggi. Dampak lingkungan dianggap sebagai harga yang harus dibayar. Padahal, harga tersebut sering kali jauh lebih mahal dari yang kita bayangkan, mulai dari hilangnya nyawa, rusaknya ekosistem, hingga penderitaan jangka panjang.

Belajar atau Sekedar Bertahan?

Jika alam adalah guru, maka ia adalah guru yang tidak pernah lelah mengulang pelajaran. Sayangnya setiap pengulangan selalu datang dengan konsekuensi yang lebih berat. Kerusakan semakin luas, dampak semakin besar, dan korban semakin banyak.
Belajar dari bencana seharusnya berarti berubah. Bukan hanya membangun kembali yang rusak, tetapi juga membangun dengan cara yang lebih bijak. Menata ulang ruang hidup, mendengarkan sains, serta menghargai batas alam. Hal-hal kecil pun memiliki arti, mulai dari cara kita memperlakukan lingkungan sekitar hingga cara kita mendukung kebijakan publik yang berpihak pada keberlanjutan.
Pada akhirnya, belajar dari bencana bukan soal menjadi takut pada alam, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya. Alam bukan lawan yang harus ditaklukkan, tetapi sistem yang perlu dipahami dan dihormati. Selama manusia terus mengulang kesalahan yang sama, bencana akan selalu menemukan jalannya kembali. Pertanyaannya kini bukan lagi kapan bencana datang, melainkan apakah kita bersedia berubah sebelum pelajarannya menjadi semakin mahal.
Trending Now