Konten dari Pengguna

Kuliah di Luar Negeri: Impian atau Gengsi?

CARREN WIJAYA
A third-semester student at Bunda Mulia University with a strong interest in communication, media, and writing.
27 November 2025 19:30 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kuliah di Luar Negeri: Impian atau Gengsi?
Kuliah demi gengsi percuma, karena nggak akan kuat menghadapi realitanya.
CARREN WIJAYA
Tulisan dari CARREN WIJAYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam beberapa tahun terakhir, kuliah di luar negeri jadi salah satu topik yang paling sering muncul di obrolan anak SMA, mahasiswa, sampai orang tua. Media sosial pun ikut memperkuat tren ini mulai dari vlog study abroad, unboxing dorm, aesthetic café buat belajar, sampai konten salju-salju yang bikin iri. Banyak yang akhirnya mulai mempertanyakan kuliah di luar negeri ini benar-benar impian akademik atau cuma gengsi yang dikemas cantik? Untuk sebagian orang, kuliah di luar negeri adalah cita-cita murni. Mereka mengejar kualitas pendidikan yang lebih maju, kesempatan riset yang luas, akses ke profesor internasional, sampai peluang kerja global yang terbuka lebar. Bagi mereka, study abroad adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar label keren.
Foto kampus Monash University, foto dari penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Foto kampus Monash University, foto dari penulis.
Kenapa Banyak Remaja Mau Berkuliah ke Luar Negeri?
Banyak remaja ingin berkuliah ke luar negeri karena melihatnya sebagai peluang untuk mendapatkan pendidikan dengan kualitas lebih baik. Universitas di luar negeri sering menawarkan fasilitas modern, lingkungan riset yang kuat, dan kurikulum yang lebih relevan dengan perkembangan dunia. Hal ini membuat mereka merasa bisa berkembang lebih maksimal secara akademik dan profesional. Selain itu, pengalaman tinggal di negara lain dianggap bisa membentuk kemandirian, memperluas cara pandang, serta memberikan kesempatan untuk belajar budaya dan bahasa baru yang tidak mereka dapatkan di lingkungan sebelumnya.
Di sisi lain, media sosial juga berperan besar dalam membentuk persepsi remaja. Konten-konten “study abroad” yang estetis dan seru membuat kehidupan kuliah di luar terlihat menyenangkan, sehingga banyak yang merasa terinspirasi atau bahkan FOMO. Beasiswa yang semakin beragam ikut membuat impian ini terasa lebih realistis untuk dicapai. Namun, ada juga remaja yang termotivasi oleh faktor gengsi atau tekanan sosial karena kuliah luar negeri sering dianggap sebagai simbol prestise.
Singkatnya, keinginan remaja untuk kuliah di luar negeri biasanya muncul dari kombinasi antara ambisi akademik, peluang masa depan, dorongan eksplorasi diri, dan pengaruh sosial. Dari semua faktor itu, yang paling penting adalah remaja memahami alasan pribadi mereka sendiri agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan dan tujuan hidup mereka.
Mengapa Australia Menjadi Salah Satu Pilihan Untuk Berkuliah ke Luar Negeri?
Australia menjadi salah satu pilihan favorit untuk berkuliah di luar negeri karena menawarkan kombinasi antara kualitas pendidikan, lingkungan yang aman, serta budaya yang mudah diterima oleh mahasiswa internasional. Negara ini dikenal memiliki universitas-universitas kelas dunia dengan reputasi kuat dalam riset, teknologi, kesehatan, bisnis, hingga creative industry. Kurikulumnya dirancang praktis dan relevan dengan kebutuhan kerja global, sehingga mahasiswa merasa benar-benar dipersiapkan untuk dunia profesional. Selain itu, fasilitas kampus di Australia juga modern dan lengkap, mulai dari laboratorium, ruang kreatif, hingga pusat karier yang aktif membantu mahasiswa mencari magang dan pekerjaan.
Faktor lain yang membuat Australia menarik adalah lokasinya yang relatif dekat dengan Indonesia, jadi biaya perjalanan lebih terjangkau dan waktu tempuhnya tidak sepanjang studi ke Amerika atau Eropa. Lingkungan hidupnya juga aman, multikultural, dan ramah pelajar. Banyak komunitas internasional, termasuk komunitas Indonesia, yang membuat adaptasi terasa lebih mudah. Iklimnya pun tidak terlalu ekstrem sehingga mahasiswa merasa lebih nyaman tinggal dalam jangka panjang.
Selain itu, Australia dikenal menawarkan banyak peluang kerja part-time yang legal untuk mahasiswa. Hal ini membantu meringankan biaya hidup sekaligus memberikan pengalaman profesional. Setelah lulus, peluang kerja pasca-studi (post-study work visa) juga terbuka lebar, sehingga mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman kerja internasional sebelum kembali ke negara asal.
Secara keseluruhan, Australia jadi pilihan populer karena kualitas pendidikannya tinggi, jaraknya dekat, lingkungannya nyaman, peluang kerjanya luas, dan proses adaptasinya relatif mudah bagi mahasiswa Indonesia. Ini membuatnya terasa sebagai pilihan yang realistis namun tetap menjanjikan untuk masa depan.
Realita Kuliah di Luar Negeri?
Realita kuliah di luar negeri sering kali jauh dari gambaran aesthetic di media sosial. Banyak yang datang dengan ekspektasi hidupnya bakal penuh café hopping, salju yang romantis, dan kuliah santai, padahal kenyataannya justru penuh tantangan. Salah satu realita paling terasa adalah beban akademik yang jauh lebih berat. Banyak universitas luar negeri mengharuskan mahasiswa aktif diskusi, riset mandiri, membaca jurnal panjang, dan mengerjakan tugas yang ketat deadline-nya. Tidak ada budaya “ditungguin dosen", sehingga semua harus dikejar sendiri.
Selain akademik, kesepian dan homesick adalah hal yang hampir pasti dialami. Tinggal jauh dari keluarga dan teman bikin mental harus ekstra kuat. Adaptasi dengan budaya baru, bahasa sehari-hari, bahkan kebiasaan kecil seperti cara komunikasi atau makanan bisa membuat stres. Banyak mahasiswa mengaku fase paling sulit justru di bulan-bulan awal ketika semuanya masih asing.
Dari sisi finansial, realitanya biaya hidup jauh lebih tinggi dari yang dibayangkan. Mulai dari sewa tempat tinggal, transportasi, groceries, sampai kebutuhan kecil yang kalau dikumpulkan bisa jadi besar. Karena itu banyak mahasiswa mengambil kerja part-time tapi ini juga menguras tenaga karena harus membagi waktu antara kerja dan kuliah.
Hubungan sosial juga tidak selalu semudah yang terlihat. Meskipun lingkungannya multikultural, mencari teman yang benar-benar dekat butuh waktu. Terkadang mahasiswa internasional merasa terisolasi atau dianggap “outsider” dalam beberapa situasi.
Namun di balik semua realita berat itu, ada sisi positif yang membuat pengalaman ini sangat berharga. Tinggal di luar negeri membuat seseorang jadi lebih mandiri, lebih dewasa, dan lebih kuat secara mental. Banyak mahasiswa akhirnya bisa mengelola keuangan, mengatur hidup sendiri, memecahkan masalah tanpa bantuan keluarga, dan mendapatkan cara pandang baru terhadap dunia.
Jadi, realita kuliah di luar negeri bukan cuma soal jalan-jalan dan konten aesthetic, tapi perjalanan panjang penuh adaptasi, kerja keras, dan pembelajaran hidup. Tapi justru karena itulah proses ini membentuk pribadi yang jauh lebih matang.
Kuliah itu proses panjang, bukan konten. Kalau motivasinya kuat dan personal, hasilnya terasa. Tapi kalau cuma buat pamer, suatu saat pasti capek sendiri. Gengsi itu nggak bisa bantu kamu ngerjain tugas, nggak bisa bikin kamu betah pas kesepian, dan nggak bisa nolong saat kamu stress sama budaya baru atau finansial. Begitu realita kuliah di luar negeri mulai terasa berat, motivasi yang cuma didasari “biar keliatan keren” bakal cepat runtuh.
Trending Now