Konten dari Pengguna
Life After Breakup: Hidup Tetap Jalan
27 November 2025 20:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Life After Breakup: Hidup Tetap Jalan
Putus bukan berarti hidup berakhir. Kadang memang sakit, tapi waktu bareng keluarga pelukan kecil, nasihat jujur, dan jalan-jalan ringanCARREN WIJAYA
Tulisan dari CARREN WIJAYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Putus hubungan sering terasa seperti momen paling berat dalam hidup seolah semua yang sudah dibangun runtuh dalam sekali napas. Tapi setelah fase paling emosional itu lewat, kamu akan menyadari satu hal yaitu hidup tetap berjalan, dan kamu pun pelan-pelan mulai bisa bergerak lagi. Life after breakup bukan tentang pura-pura kuat, tapi belajar menerima bahwa perpisahan bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang baru.
Hari-hari pertama mungkin dipenuhi rasa hampa, bingung, atau sedih tanpa alasan jelas. Itu wajar. Di fase ini, tubuh dan pikiranmu sedang menyesuaikan diri untuk hidup tanpa seseorang yang dulu jadi rutinitas. Tapi perlahan, kamu mulai menemukan ritme baru bangun tanpa pesan pagi, menghabiskan waktu tanpa harus mempertimbangkan dua kepala, dan memprioritaskan diri sendiri tanpa rasa bersalah.
Breakup juga sering membuka pintu untuk mengenal diri lebih dalam. Kamu mulai sadar hal-hal kecil akan apa yang kamu suka, apa yang ternyata kamu korbankan, apa yang selama ini kamu tahan demi hubungan. Kadang dari patah hati justru muncul versi dirimu yang lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih jujur pada kebutuhan emosionalmu sendiri.
Di luar rasa sakitnya, perpisahan memberi ruang untuk tumbuh. Kamu bisa mencoba hobi baru, memperbaiki hubungan dengan teman, fokus ke studi atau karier, atau sekadar menikmati waktu tanpa tekanan. Satu per satu kamu menyadari bahwa kesepian itu bukan musuh, tapi proses.
Healing Setelah Putus Rumah Ada di Pelukan Keluarga
Jalan-jalan bareng di tempat sederhana kayak Kampoeng Batik ini pun berubah jadi momen yang penuh ketenangan warna-warni payungnya kayak ngingetin kalau hidup tetap punya sisi cerahnya.
Healing setelah putus itu nggak pernah lurus. Ada hari di mana kamu ngerasa kuat banget, bisa ketawa, bisa produktif. Tapi ada juga hari yang tiba-tiba jatuh tanpa alasan, cuma karena satu kenangan kecil lewat di kepala. Dan itu wajar. Luka yang dalam memang butuh waktu, bukan paksaan.
Di fase ini, kamu belajar untuk nerima bahwa patah itu bukan kelemahan. Kamu belajar memaafkan diri sendiri atas hal-hal yang kamu pikir “harusnya bisa lebih baik”. Kamu belajar berdiri lagi tanpa tangan seseorang yang dulu kamu percaya akan selalu ada.
Perlahan, kamu mulai balik menemukan hal-hal yang bikin hati kamu hangat teman yang selalu ada, hobi yang lama kamu tinggalin, rutinitas kecil yang bikin kamu merasa utuh lagi. Dan dari situ, kamu sadar bahwa hidup tetap bisa indah tanpa dia.
Kadang setelah putus, dunia kerasa sempit. Tapi anehnya, satu perjalanan kecil bareng keluarga bisa buka ruang napas lagi. Kayak di momen ini jalan di tempat yang penuh warna, sambil sadar kalau ternyata hidup masih punya banyak hal yang bikin hati lega.
Healing nggak selalu butuh pelarian jauh kadang cukup ditemani orang yang dari dulu selalu jadi rumah. Mereka yang nggak pernah nanya “kapan move on?”, tapi diam-diam nyembuhin kamu lewat hal-hal sederhana dengan ajak jalan, ketawa bareng, atau cuma berdiri di sampingmu supaya kamu nggak ngerasa sendirian.
Pelukan dan Nasehat Hangat dari Keluarga
Walaupun dunia terasa berat. Tapi satu pelukan hangat dari keluarga bisa bikin dada yang sesak jadi sedikit lega.
Di tengah langkah pelan, ada nasihat-nasihat lembut yang nggak menghakimi, cuma menguatkan. Mereka nggak bilang “harus move on cepat”, mereka cuma ada… dan itu sudah cukup.
Healing ternyata sesimpel ini ditemani orang yang sayang sama kamu tanpa syarat, yang pelukannya bisa nyembuhin hal-hal yang nggak bisa kamu bilangin ke siapa pun.
Putus Bukan Berarti Hidup Akan Berakhir
Rasanya memang berat, apalagi di hari-hari awal ketika semuanya masih berantakan. Tapi justru di titik itu kamu akhirnya sadar bahwa hidup tetap jalan, dan kamu masih punya orang-orang yang jadi tempat kembali. Waktu bareng keluarga entah itu jalan-jalan santai atau sekadar ngobrol jadi momen yang menenangkan. Pelukan mereka membuat kamu merasa aman, dan nasihat sederhana mereka membantu kamu melihat situasi dengan kepala yang lebih jernih.
Perlahan, kamu mulai belajar kalau kehilangan bukan akhir dari segalanya, tapi bagian dari proses tumbuh. Ada masa depan yang tetap menunggu, ada hal-hal baik yang belum kamu temukan, dan ada kekuatan yang selama ini mungkin kamu nggak sadar kamu punya. Putus memang menyakitkan, tapi hidup kamu jauh lebih besar dari satu hubungan yang selesai.
Penulis,
Carren Wijaya

