Konten dari Pengguna
Kediri: Harmoni yang Berbudaya, Rasa yang Selalu Ngangeni
2 Desember 2025 16:00 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Kediri: Harmoni yang Berbudaya, Rasa yang Selalu Ngangeni
Kediri tumbuh dalam harmoni dan budaya yang dijaga warganya. Kota yang tidak bising tetapi menggetarkan, tidak memaksa tetapi membekas. Inilah Kediri: harmoni yang berbudaya, rasa yang selalu ngangeniChevy N Suyudi
Tulisan dari Chevy N Suyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sepuluh seri perjalanan Menelusuri Kediri, Menyulam Peradaban telah membawa kita menyelami kota yang tumbuh bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan harmoni dan budaya yang dijaga turun-temurun. Dari Sungai Brantas yang menyatukan, dari kearifan Jayabaya, dari kisah Panji yang menumbuhkan cinta, Aksara Kuadrat yang membuka cakrawala ilmu pengetahuan, hingga kemegahan yang tertanam dalam karakter warganya.

Kediri bukan kota yang mengejar publisitas. Ia tidak berlomba menjadi paling ramai atau paling viral. Tetapi dalam ketenangan itulah kekuatannya tumbuh. Kota Kediri dan Kabupaten Kediri bergerak seperti dua tangan yang bekerja dalam irama yang sama; saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
Kemegahan yang Tertanam
Sejak masa kerajaan Panjalu-Jenggala, masa Jayabaya, hingga masa modern hari ini, Kediri selalu menjadi ruang tumbuh peradaban yang bekerja dalam diam, seperti padi yang membungkuk ketika berisi.
Sejarah mencatat bahwa Kediri melahirkan pemimpin, penyair, pemikir, dan ahli strategi yang membawa kejayaan Nusantara. Tetapi warisan terbesar mereka bukan monumen fisik, melainkan nilai yang hidup hingga sekarang; kesederhanaan, kejujuran, kesetiaan, ketekunan, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara dunia lahir dan batin.
Warisan ini menumbuhkan karakter masyarakat yang tidak gemar bersilat lidah tetapi tekun bekerja. Masyarakat yang percaya bahwa setiap laku harus dilandasi ketulusan, bukan pencitraan. Masyarakat yang menjaga ruang hening sebagai ruang berpikir yang justru sering hilang di kota-kota besar.
Kemegahan Kediri tidak menampakkan diri lewat hiruk-pikuk metropolitan, tetapi lewat kedalaman rasa yang tumbuh dari generasi ke generasi. Dan di situlah letak kemegahan yang tertanam, bukan pada tinggi bangunan, tetapi pada dalamnya jiwa.
Monumen Simpang Lima Gumul berdiri sebagai gerbang modernitas, Bandara Dhoho membuka cakrawala baru bagi ekonomi Jawa Timur, sementara Jembatan Brawijaya dan Taman Brantas menjadi ruang publik tempat warga merayakan kebersamaan. Ruang belajar, ruang berlari, ruang bercengkerama, ruang pulang.
Di setiap sudutnya, Kediri memelihara kelembutan sosial yang tumbuh dari nilai lama dan mimpi baru. Tanpa disadari, kota ini membangun masa depan sambil menjaga keutuhan hati.
Pada akhirnya, Kediri membuktikan bahwa kemegahan bukan tentang tinggi dan teriak, tapi tentang rasa yang tinggal. Rasa yang menumbuhkan rindu, rasa yang membuat orang kembali. Rasa yang ngangeni.
Harmoni - Berbudaya - Ngangeni
Kediri tumbuh bukan dari perebutan ruang, melainkan dari kemampuan berbagi ruang. Harmoni bukan sekadar slogan di kota ini; ia hidup dalam cara masyarakat saling berinteraksi, saling menjaga, dan saling menguatkan. Dari desa-desa yang tenang hingga pusat kota yang bergerak dinamis, ada sesuatu yang menyatukan semuanya; rasa nyaman yang sulit dijelaskan, tapi mudah dirasakan.
Harmoni itu juga tercermin dalam budaya yang dirawat dengan ketulusan. Lihat bagaimana jaranan terus dipentaskan dengan bangga, bukan sebagai atraksi eksotis untuk turis, melainkan sebagai bagian dari napas masyarakat. Tenun ikat bukan sekadar kain, ia adalah cerita yang ditenun oleh tangan sabar yang percaya bahwa keindahan lahir dari ketelatenan. Pecel tumpang dan pecel punten bukan hanya makanan, ia adalah cara kota ini merawat rasa kebersamaan di meja sederhana.
setiap warganya seolah memahami satu nilai penting, bahwa kita bisa berbeda, namun tetap sebangku dalam kehidupan. Itulah fondasi harmoni Kediri; tenang, tidak meledak-ledak, tetapi terasa mengakar kuat dalam perilaku sehari-hari.
Harmoni itu lahir dari budaya yang dirawat, bukan dibiarkan tumbuh sendiri. Budaya bukan sekadar tontonan, melainkan cara warga Kediri mencintai kotanya. Di tangan anak-anak muda yang belajar karawitan, di langkah para ibu yang menjaga resep tumpang dan pecel punten, hingga di peluh para pelaku seni yang terus melatih gerak meski penonton hanya sekelompok kecil, di sanalah Kediri mempertahankan identitasnya.
Di banyak kota, orang sibuk mengejar masa depan sampai lupa bagaimana merasakan hidup. Di Kediri, masa depan dibangun tanpa kehilangan kesederhanaan yang membuat manusia tetap manusiawi. Itu sebabnya kota ini βngangeniβ. Bukan karena megah atau penuh kejutan, tetapi karena memberi ruang bagi hati untuk beristirahat.
Di bawah langit sore di Taman Brantas, di tepi sungai yang mengalir pelan, di warung pecel punten yang selalu mengucapkan βbenjing mriki malih nggehβ¦β, harmoni itu terasa utuh. Tidak dijual dalam brosur wisata, tidak dipromosikan dengan suara keras, tetapi mengikat siapa pun yang pernah merasakannya.
Di sanalah jiwa Kediri tinggal. Di kesederhanaan yang merangkul. Di ketenangan yang tidak pernah memaksa. Di rasa yang tidak bisa ditukar dengan apa pun.
Kota ini memeluk warganya dengan cara yang sederhana tetapi kuat; lewat sapaan hangat, lewat kerja bersama, lewat budaya yang tidak pernah berhenti menghidupkan.
Kediri mengajarkan bahwa kota bukan hanya soal bangunan tinggi dan angka pertumbuhan. Kota adalah soal rasa; rasa memiliki, rasa saling menjaga, dan rasa ingin kembali, berulang-ulang. Maka jika ada yang bertanya apa yang membuat Kediri istimewa, jawabannya bukan hanya sejarah yang panjang atau budaya yang kaya, melainkan cara semua itu dirawat dalam harmoni. Sebuah kota yang tumbuh dengan tenang, namun meninggalkan rindu yang bertunas. Kediri: harmoni yang berbudaya, rasa yang selalu ngangeni.
Akhir dari Sepotong Perjalanan Sepanjang Kediri
Jika Indonesia mengenal kota karena pusat ekonomi atau pusat gaya hidup, maka Kediri dikenal karena rasanya. Rasa kota yang tidak bisa dijelaskan dengan angka statistik atau grafik pertumbuhan. Rasa hadir dari aroma kretek yang menguar pagi hari, dari pecel tumpang yang membangunkan nostalgia, dari sapa hangat penjual pecel punten: βBenjing mriki malih nggehβ¦β
Rasa hadir dari jaranan yang membakar adrenalin sekaligus menyembuhkan rindu. Dari kain tenun ikat Bandar Kidul yang ditenun helai demi helai dengan kesabaran. Dari alunan gamelan, dari sunyi malam di Selomangleng, dari kesadaran bahwa kota ini tidak hanya tempat tinggal, tetapi tempat merawat jiwa.
Inilah yang menjadikan Kediri berbeda, ia tidak memaksa orang mencintainya. Ia membuat orang ingin kembali.
Perjalanan sepuluh seri ini membawa kita pada sebuah kesimpulan:
Kemegahan Kediri tidak berdiri dari sorotan lampu, tetapi tumbuh dari akar budaya, dari karakter manusianya, dari harmoni yang dijaga bersama. Dan dari akar itu, tumbuhlah sebuah rasa yang menempel lama di dada. Dan dalam setiap jeda perjalanan selalu menyelinap rasa yang Ngangeni.
Kediri adalah kota yang bertumbuh, kota yang bergerak, kota yang menyiapkan masa depan tanpa meninggalkan masa lalu. Kota yang tidak pernah kehilangan arah karena memiliki kompas batin: nilai, doa, dan rasa.
Semoga rangkaian tulisan ini menjadi saksi kecil bahwa Kediri adalah kota yang patut dirayakan; bukan karena ia berteriak keras, tetapi karena ia berbisik lembut dan menyentuh hati.
Dan bagi siapa pun yang pernah hidup, singgah, belajar, jatuh cinta, atau sekadar menapakkan kaki di tanah ini, kita semua tahu kebenaran sederhana itu:
Dalam setiap lembar membaca Kediri, kita dibuai dalam pengembaraan. Seperti menikmati secangkir kopi dengan aroma pekatnya yang diselimuti asap tembakau, rasanya membekas hingga lupa untuk terpejam.
---------------
Catatan:
Tulisan ini merupakan penutup dari seri edukatif "Menelusuri Kediri, Menyulam Peradaban". Upaya untuk meluruskan mitos dan menegaskan identitas budaya Kota Kediri sebagai kota yang menghubungkan sejarah, spiritualitas, dan masa depan.
Tulisan seri 1 -10 : https://kumparan.com/chevy-n-suyudi

