Konten dari Pengguna

(Seri 10) Warga Kota, Penjaga Peradaban

Chevy N Suyudi
ASN Kota Kediri
27 November 2025 0:00 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
(Seri 10) Warga Kota, Penjaga Peradaban
Kediri tumbuh karena warganya. Dari akar Jayabaya hingga industri kreatif, mereka menjaga peradaban dengan etika, budaya, dan kecerdasan yang berpijak pada harmoni.
Chevy N Suyudi
Tulisan dari Chevy N Suyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jejak Jayabaya dalam Jiwa Warga

Setiap kota besar memiliki tokoh simbolik yang membentuk jati dirinya. Bagi Kediri, nama itu adalah Jayabaya. Seorang raja dari abad ke-12 yang bijak, dan menanamkan pandangan dunia berbasis keseimbangan dan kebijaksanaan. Di balik kisah ramalannya yang populer, Jayabaya sejatinya mewariskan etika hidup: eling lan waspada; sadar dan berhati-hati, agar manusia tidak lupa pada asal dan arah.
Filosofi ini masih hidup di masyarakat Kediri hari ini. Warga kota dikenal tenang, tidak reaktif terhadap perubahan, tetapi justru mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Dalam setiap aktivitas sosial, tersirat sikap ngeli tanpa keli, mengikuti arus zaman tanpa hanyut di dalamnya. Mereka tidak terburu-buru menjadi modern, tetapi juga tidak tetinggal oleh modernitas.
Dalam lingkar doa yang menyatukan keberagaman, warga Kota Kediri kembali meneguhkan jati dirinya sebagai penjaga peradaban. Harmoni dijaga, persaudaraan dirawat, dan masa depan disemai bersamaβ€”agar kota ini terus menjadi rumah yang penuh rasa, damai, dan ngangeni. Foto: kedirikota.go.id
Sikap itu bukan kebetulan. Ia tumbuh dari kawruh kasampurnan, pengetahuan Jawa klasik yang menekankan keselarasan lahir dan batin. Warga Kediri belajar bahwa kemajuan sejati bukan soal gedung tinggi, tetapi keseimbangan antara materi dan makna. Antara bekerja dan berdoa, antara berpikir dan merenung.
Dan mungkin karena itulah, Kediri menjadi kota yang jarang gaduh tetapi selalu hidup. Ia tumbuh pelan, mantap, dan pasti. Seperti air Brantas yang mengalir tanpa pernah tergesa.

Warisan yang Dihidupkan, Bukan Diabadikan

Budaya Kediri tidak membatu di museum. Ia terus bergerak, menyesuaikan diri dengan denyut zaman. Jaranan misalnya, kesenian rakyat yang dahulu menjadi ritual spiritual kini berkembang menjadi pertunjukan panggung, festival kota, hingga ekspresi kreatif anak muda. Para seniman lokal menggabungkan unsur musik elektronik dengan ritme gamelan, menciptakan jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Begitu juga dengan tenun ikat Bandar Kidul, yang kini menjelma jadi bagian dari industri fashion. Motif klasik yang dulu hanya dikenakan pada upacara adat kini tampil di runway, dipadukan dengan desain modern oleh desainer nasional dan lokal Kediri. Nilai yang sama tetap dijaga; ketekunan, keindahan, dan kesabaran.
Kediri juga dikenal dengan kekayaan kuliner lokalnya. Dari tahu takwa, getuk pisang, pecel tumpang, hingga nasi goreng anglo. Di balik cita rasa itu tersimpan kearifan ekonomi warga; menciptakan produk yang bertahan lintas generasi tanpa kehilangan ciri lokal. Bahkan dalam bisnis kuliner, rasa gotong royong dan etika berdagang tetap menjadi fondasi.
Inilah kekuatan sejati Kediri; budaya bukan sekadar warisan, tapi sumber energi sosial. Ia hidup karena warga terus memberi napas baru tanpa mengubah jiwanya.
Gerak yang mengalir, irama yang menggema, dan semangat yang diwariskan lintas generasi. Jaranan bukan sekadar tari, tetapi identitas dan martabat budaya yang dijaga dengan cinta oleh anak-anak Kediriβ€”agar warisan leluhur tetap hidup, tumbuh, dan tak pernah padam. Foto: kedirikota.go.id

Dari Kampung ke Kota: Gerakan dari Akar Rumput

Modernitas di Kediri tidak lahir dari menara gedung, melainkan dari kampung dan komunitas. Di gang-gang kecil, karang taruna dan komunitas muda mulai menyalakan semangat industri kreatif. Mereka membuat film pendek, menggelar pameran seni, menulis naskah, dan bahkan mengelola kanal YouTube yang menampilkan potret kota mereka sendiri.
Fenomena ini menunjukkan sesuatu yang mendalam. Bahwa warga Kediri memiliki sense of production, bukan sekadar konsumsi. Mereka tidak menunggu hiburan datang dari luar, tapi menciptakan ruang ekspresi sendiri. Bahkan, beberapa film layar lebar memilih Kediri sebagai lokasi syuting karena reputasinya; kota yang aman, ramah, dan masyarakatnya terbuka terhadap kru film.
Bioskop modern hadir, tapi teater rakyat juga tidak mati. Media digital berkembang, namun pengajian dan pertemuan kampung tetap ramai. Dua dunia itu hidup berdampingan, seperti dua sisi mata uang yang sama.
Dari akar sosial inilah lahir kepercayaan sosial (social trust), menjadi modal terpenting bagi tumbuhnya peradaban kota. Kediri menjadi contoh bahwa kreativitas tak selalu butuh modal besar, tapi butuh suasana hati yang tenteram.

Etika Warga Kota: Modal Sosial Kediri

Di tengah arus digital yang serba cepat, warga Kediri masih menjaga etika sosial yang menjadi karakter utama kota ini. Prinsip unggah-ungguh, tepa selira, dan guyub rukun bukan sekadar nilai lama, tapi mekanisme sosial yang hidup. Mereka menjadi "aturan tak tertulis" yang menjaga harmoni di tengah perubahan
Dalam kehidupan sehari-hari, rasa hormat dan kesopanan menjadi norma yang dipegang teguh. Di warung pecel punten, misalnya, penjual selalu mengucapkan "benjing mriki malih nggeh" (besok mampir lagi ya), kepada pembeli yang hendak meninggalkan warung tersebut. Ucapan sederhana itu menggambarkan keramahan khas Kediri yang tidak dibuat-buat. Hubungan antara penjual dan pembeli tidak sekadar transaksi, melainkan pertemuan sosial yang hangat.
Etika ini menumbuhkan rasa aman sosial yang sulit dijelaskan dengan angka. Ia adalah suasana, di mana orang merasa dihargai, bukan dihakimi. Di mana diskusi bisa keras tapi tidak kasar, dan perbedaan pandangan tetap dijembatani oleh empati.
Selain ramah, warga Kediri dikenal cerdas dan terbuka pada ilmu. Banyak tokoh nasional lahir dari kota ini; seniman, birokrat, akademisi, dan profesional yang berkiprah di berbagai daerah di Indonesia. Kecerdasan mereka adalah warisan panjang tradisi literasi dan spiritualitas dari masa Jayabaya; perpaduan antara logika dan rasa, antara pikir dan nurani.

Warga Kota, Penjaga Peradaban

Kediri bukan kota yang tumbuh karena instruksi dari luar, melainkan karena daya hidup dari dalam. Di sinilah letak kekuatan sejatinya, warga sebagai penjaga peradaban. Mereka adalah penghubung antara masa lalu yang bijak, masa kini yang dinamis, dan masa depan yang terbuka.
Warisan kerajaan menanamkan nilai kebijaksanaan dan harmoni. Warisan kolonial membentuk keteraturan ruang dan administrasi. Warisan industri menumbuhkan etos kerja dan kemandirian ekonomi. Ketiganya berpadu dalam karakter warga Kediri hari ini; tenang tapi produktif, sederhana tapi berwawasan luas, lembut tapi tegas menjaga nilai.
Kini, di tengah arus modernitas yang serba cepat, warga Kediri menjadi jangkar moral bagi kotanya sendiri. Mereka tidak menolak kemajuan, tapi memastikan agar setiap langkah tetap berpijak pada akar budaya. Dalam diam, mereka menjaga ritme kota agar tetap selaras; tidak terlalu cepat, tidak pula berhenti.
Peradaban bukanlan gedung tinggi atau jalan lebar, tetapi rasa percaya dan kebersaman yang tumbuh di antara warga. Dan, Kediri, dengan segala lapis sejarahnya, menunjukkan bagaimana masyarakat bisa menjadi benteng nilai di tengah perubahan.

Menjaga Kota, Menjaga Diri Sendiri

Menjaga kota bukan hanya tugas pemerintah, tetapi cermin dari cara kita menghargai diri sendiri. Jalan yang bersih, taman yang terawat, dan sungai yang tidak tercemar adalah pantulan kesadaran kolektif warganya. Di Kediri, kesadaran itu tumbuh dari budaya guyub yang telah diwariskan turun-temurun.
Merah putih terangkat tinggi karena diusung bersama. Pemerintah dan warga: satu barisan, satu semangat, satu tujuan. Foto: dok. prokompin kota kediri
Kediri telah menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan akar. Di tengah perubahan gaya hidup modern, nilai-nilai lama seperti gotong royong, sopan santun, dan rasa malu sosial masih menjadi rem yang efektif agar kota ini tidak kehilangan jiwanya.
Nilai-nilai itu mungkin tidak tertulis dalam dokumen perencanaan kota, tetapi terasa nyata dalam keseharian; dalam senyum penjual pecel, dalam cara warga saling membantu tanpa pamrih saat ada hajatan dan bencana.
Menjaga diri sendiri berarti juga mengelola ambisi dan ego kolektif agar selaras dengan kesejahteraan bersama. Kota yang sehat bukan hanya kota yang kaya secara ekonomi, tetapi juga yang berimbang antara nalar dan nurani. Kediri tumbuh secara manusiawi, karena masyarakatnya mampu menjaga harmoni antara tradisi, spiritualitas, dan inovasi.
Akhirnya, menjaga Kediri berarti menjaga rumah besar yang telah memberi identitas bagi banyak generasi. Dari Jayabaya hingga era digital, dari jaranan hingga sinema, dari Brantas hingga pusat kota, semuanya terhubung oleh semangat yang sama. Peradaban tidak dibangun sekali jadi, melainkan dirawat terus menerus.
Maka, menjaga kota sejatinya adalah latihan menjaga diri, agar Kediri tetap menjadi ruang hidup yang ramah, cerdas, dan berjiwa.
Trending Now