Konten dari Pengguna

(Seri 7) Kediri Bercerita: Kisah Panji yang Menyatukan

Chevy N Suyudi
ASN Kota Kediri
18 November 2025 16:00 WIB
ยท
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
(Seri 7) Kediri Bercerita: Kisah Panji yang Menyatukan
Kisah Panji lahir dari Kediri, tumbuh dari perpecahan menjadi simbol persatuan. Dari legenda kerajaan hingga tarian dan topeng, Panji hidup sebagai jiwa dan jati diri Kediri.
Chevy N Suyudi
Tulisan dari Chevy N Suyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di setiap masa, Kediri selalu menemukan cara untuk bercerita. Pada seri sebelumnya, kita melihat bagaimana Kediri dibangun oleh lapisan sejarah dari kerajaan, kolonial, hingga industri modern. Sekarang perjalanan ini masuk ke ranah yang lebih dalam, ke inti jiwa budaya yang membuat Kediri tetap hidup. Bahwa sebuah kota tidak hanya berdiri di atas bangunan fisik atau angka ekonomi, tetapi juga ruang batin yang terus hidup melalui cerita yang diwariskan. Dan dari semua cerita yang mengalir di tanah ini, tidak ada yang lebih kuat ikatannya dengan jiwa masyarakat Kediri selain kisah Panji.
Sebutan โ€œPanjiโ€ yang digunakan sebagai tokoh utama dalam cerita Panji sudah dikenal sejak Kerajaan Kediri. Panji sudah disebutkan dalam Prasasti Banjaran (1053 M) dan Prasasti Hantang (1135 M), merupakan nama gelar atau jabatan yang masih berhubungan dengan lingkungan istana yang mengacu kepada tokoh ksatria laki-laki.
Relief yang diyakini sebagai bagian dari sepenggal fragmen cerita panji Semirang. Salah satu bukti sejarah yang saat ini tersimpan di Museum Airlangga Kediri. Foto: Dok. Disbudparpora Kota Kediri.
zoom-in-whitePerbesar
Relief yang diyakini sebagai bagian dari sepenggal fragmen cerita panji Semirang. Salah satu bukti sejarah yang saat ini tersimpan di Museum Airlangga Kediri. Foto: Dok. Disbudparpora Kota Kediri.
Panji bukan sekadar tokoh dalam hikayat lama, tetapi simbol penyembuh luka, penenun harapan, dan penuntun arah bagi masyarakat yang pernah terbelah dan kemudian bangkit kembali sebagai satu kesatuan. Bukan hanya dongeng bagi rakyat Kediri, ia adalah cermin peradaban, menggambarkan cara orang Jawa memaknai hidup.

Panji: Legenda dari Tanah Kediri

Dalam berbagai versi naskah kuno, Panji disebut sebagai Pangeran dari Jenggala yang mencari kekasihnya, Dewi Sekartaji dari Panjalu. Namun di balik alur romansa itu, terkandung filsafat hidup orang Jawa, bahwa setiap perpisahan adalah jalan menuju kesatuan yang lebih dalam.
Legenda Panji muncul dari masa pasca Airlangga, ketika dua kerajaan, Panjalu dan Jenggala hidup berdampingan namun sering bersaing. Rakyat yang lelah pada perebutan kekuasaan menuturkan kisah cinta Panji dan Sekartaji sebagai penawar luka sejarah. Melalui kisah itu, mereka menanamkan harapan akan kembalinya keseimbangan dan harmoni.
Naskah-naskah Panji ditulis dalam berbagai bentuk; Serat Panji Jayakusuma, Panji Angreni, Panji Semirang, hingga Panji Kuda Narawangsa. Masing-masing memiliki nuansa lokal, tetapi semuanya mengandung inti yang sama, tentang perjalanan manusia mencari cinta sejati sekaligus jati diri.
Kediri tidak hanya menjadi tempat lahirnya cerita, tetapi juga tanah yang menjaga moralitas di balik kisah itu. Dari sinilah Kediri dikenal bukan hanya sebagai tanah raja, melainkan juga tanah cerita. Tempat mitos dan nilai hidup berpadu menjadi kearifan.
Hingga kini, kisah Panji masih hidup di percakapan rakyat Kediri. Ia bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan cermin yang menuntun manusia untuk kembali pada asal, pada keseimbangan antara ngerti, ngrasa, dan nglakoni.

Panji Lahir dari Perpecahan, Tumbuh untuk Menyatukan

Sejarah Panji berakar dari perpecahan dua kerajaan besar, Panjalu dan Jenggala. Airlangga membagi kerajaannya kepada dua putra untuk menghindari pertumpahan darah, tetapi justru dari perpecahan itu tumbuh benih-benih cerita tentang kerinduan untuk bersatu kembali. Panji Asmarabangun dan Sekartaji menjadi simbol rekonsiliasi, dua jiwa yang mencari satu sama lain di tengah kekacauan politik dan spiritual.
Kediri yang kemudian berdiri di atas warisan Panjalu membawa memori itu hingga kini. Di tengah modernisasi, masyarakat Kediri tetap memiliki naluri untuk menjaga keseimbangan dan persaudaraan. Mereka percaya, seperti Panji dan Sekartaji, setiap perpecahan bisa disembuhkan oleh kesetiaan dan rasa saling menghargai.
Di sinilah keindahan Panji, ia mengajarkan bahwa penyatuan bukan hasil perintah raja, melainkan kesadaran manusia akan cinta dan tanggung jawab. Nilai ini terasa hidup dalam berbagai tradisi Kediri, mulai dari gotong royong di kampung hingga rasa tepa selira dalam pergaulan sehari-hari.
Panji menjadi jembatan antara masa lalu yang getir dan harapan masa depan yang damai. Nilai-nilainya selaras dengan prinsip hidup orang Kediri; bijak, sabar, setia, dan lembut dalam tindakan.
Mitos Kediri sebagai tanah yang wingit juga menemukan keseimbangannya di sini. Wingit bukan berarti menyeramkan, melainkan suci. Tanah wingit adalah tanah yang dijaga oleh nilai luhur. Panji hadir sebagai pelipur bagi tanah yang disucikan, simbol keseimbangan antara dunia lahir dan batin.
Kini, di saat banyak kota tumbuh dengan wajah seragam dan dingin, Kediri masih menyimpan kehangatan khasnya. Karena Kediri dibangun di atas ingatan cinta yang menumbuhkan, bukan ambisi yang memecah-belah.

Kediri Mendunia: Jejak Panji yang Menyebar

Sedikit yang tahu bahwa cerita Panji adalah warisan Indonesia yang paling banyak tersebar di luar negeri. Jejaknya ditemukan di naskah-naskah kuno Thailand (Inao), Kamboja (Inav), Laos, Myanmar, hingga Malaysia. Bahkan dalam kesusastraan Thailand, kisah Panji menjadi salah satu dasar pendidikan moral dan estetika di istana. Ini membuktikan bahwa dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, lahir narasi yang mampu menembus lintas bahasa, budaya, dan zaman.
Cerita Panji memiliki autentisitas karya pujangga pada masa Kerajaan Majapahit dengan latar tempat yang benar-benar ada seperti Jenggala, Kediri, Urawan, dan Gagelang. Cerita Panji juga merefleksikan kreativitas dan kearifan orang Jawa zaman itu.
UNESCO pada tahun 2017 mengakui Cerita Panji sebagai bagian dari Memory of the World karena nilai kemanusiaan dan kedalaman filosofinya. Cerita ini menembus batas karena berbicara tentang hal paling universal; cinta, pengabdian, dan pencarian diri. Di tengah perbedaan budaya, dunia menemukan dirinya dalam wajah Panji.
Kediri pun mendapatkan tempat terhormat dalam peta kebudayaan dunia. Ia bukan lagi sekadar kota industri atau kota tua di Jawa Timur, tetapi titik lahir sebuah narasi global yang mempertemukan Timur dan Barat, masa lalu dan masa depan.

Panji dalam Gerak Warna, dan Napas Warga

Pertunjukan Wayang Topeng Panji dengan lakon โ€œPanji Larasโ€ di Gedung Taman Krida Budaya, Kota Malang (2025). Para penari mengenakan topeng berwarna-warni yang melambangkan karakter dan watak dalam kisah Panji. Sebuah warisan sastra klasik yang hidup dalam gerak, ritme, dan napas seni rakyat. Foto: Dok. Disbudpar Prov. Jatim.
Kisah Panji tidak berhenti di naskah, ia hidup dalam gerak tari, rupa topeng, dan warna kain tenun. Tari Topeng Panji adalah ekspresi paling halus dari kebudayaan Kediri dan Jawa Timur. Gerak Panji lembut, tertata, dan mengalir seperti air Brantas. Menggambarkan pribadi yang teduh, bijak, dan penuh kasih.
Setiap topeng Panji yang dibuat perajin Kediri memiliki karakter tersendiri. Mata yang merunduk, senyum yang samar, dan warna putih bersih menjadi lambang kesucian hati. Wajah Panji yang teduh menggambarkan watak satwika, lembut namun berwibawa. Sementara topeng Sekartaji menampilkan kelembutan perempuan yang tegas dan sabar. Di tangan para seniman, keduanya menjadi pasangan abadi, dan sebagai pengingat, bahwa keseimbangan selalu hadir dari dua kekuatan yang saling menghormati.
Kini, generasi muda Kediri mulai menafsir ulang kisah Panji. Beberapa sanggar seni membuat pertunjukan kontemporer dengan elemen digital, film pendek, hingga instalasi visual. Bahkan komunitas kreatif karang taruna memproduksi film berlatar Panji untuk memperkenalkan kembali kisah ini kepada penonton muda.
Dari jaranan, batik, hingga topeng Panji, semua berpangkal pada satu hal; kreativitas adalah cara warga Kediri menjaga ingatan leluhur. Budaya bukan beban masa lalu, melainkan bahan bakar untuk masa depan.

Panji sebagai Cermin Jiwa Kediri

Bagi banyak orang Jawa, Panji bukan sekadar tokoh, melainkan laku hidup. Ia mengajarkan manusia untuk mencari tanpa melupakan asal, berkelana tanpa kehilangan arah. Dalam setiap kisahnya, Panji selalu kembali. Bukan sebagai pemenang perang, tapi sebagai manusia yang menemukan makna.
Bila Kediri adalah tubuh, maka Panji adalah jiwanya. Dalam kisah Panji, kita menemukan seluruh karakter masyarakat Kediri; bijak, sabar, romantis, namun tetap teguh. Panji mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu datang dari kemenangan, tetapi dari kesetiaan dan ketulusan hati.
Kisah ini juga menyinggung mitos Kediri yang sering dianggap โ€œtanah beratโ€ bagi penguasa. Namun, dalam perspektif Panji, tanah ini justru berat karena sarat makna dan nilai. Hanya mereka yang menghormati harmoni dan keselarasan yang bisa menapaki tanah Kediri dengan ringan.
Kini, saat dunia bergerak cepat, kisah Panji hadir sebagai penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa kemajuan sejati bukan tentang berlari meninggalkan, tetapi berjalan pulang menuju akar kebijaksanaan yang telah lama menunggu.
Trending Now