Konten dari Pengguna

Liburan Tanpa Drama: Saat Manajemen Berperan di Tengah Keluarga

CHITRA LAKSMI RITHMAYA
Chitra Laksmi Rithmaya, S.E., M.M. adalah dosen Manajemen Keuangan dan Perbankan Universitas Hayam Wuruk Perbannas yang gemar menulis dan berbagi pengalaman praktis seputar manajemen dalam kehidupan sehari-hari.
7 Juli 2025 15:28 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Liburan Tanpa Drama: Saat Manajemen Berperan di Tengah Keluarga
Saat manajemen tak lagi sekadar teori di kantor, tapi jadi panduan menyatukan keluarga dalam liburan. Kisah sederhana namun penuh makna dari meja makan hingga jalan-jalan.
CHITRA LAKSMI RITHMAYA
Tulisan dari CHITRA LAKSMI RITHMAYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Liburan Tanpa Drama: Saat Manajemen Berperan di Tengah Keluarga
zoom-in-whitePerbesar
“Liburan, yuk!” Kalimat ini terdengar menyenangkan, tapi bagi banyak keluarga, justru menjadi awal dari kekacauan kecil—entah karena itinerary yang bentrok, barang tertinggal, atau anggaran yang jebol tanpa terasa. Saya dan keluarga pun pernah mengalaminya. Hingga suatu ketika, saya mencoba menerapkan sesuatu yang biasa saya ajarkan di kelas manajemen: fungsi manajemen dalam kehidupan keluarga.
Ternyata, itu bekerja! Sejak saat itu, liburan kami tak hanya menyenangkan, tapi juga bebas stres. Semua karena kami menjalankan empat fungsi manajemen: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Berikut pengalaman saya yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi keluarga lain.
1. Perencanaan (Planning): Dimulai dari Rapat Meja Makan
Kami memulai dengan menyepakati hal-hal dasar: mau liburan ke mana, kapan, berapa lama, dan berapa budget maksimal. Semua anggota keluarga duduk bersama—bahkan anak-anak pun ikut menyampaikan pendapat. Kami menyusun checklist: dari hotel dan transportasi, hingga makanan ringan favorit yang wajib dibawa.
Hasilnya? Setiap anggota merasa dilibatkan. Bahkan anak saya yang masih duduk di SD merasa bangga karena usulannya untuk menginap dekat pantai didengar.
2. Pengorganisasian (Organizing): Membagi Peran dan Keuangan Bersama
Tugas-tugas kecil kami bagi secara adil dan sekaligus mendidik anak untuk memahami peran dan tanggung jawab. Tak hanya tugas teknis, kami juga membagi pengelolaan keuangan:
• Suami saya bertanggung jawab atas pemesanan hotel, namun dengan budget yang sudah kami sepakati bersama.
• Anak pertama (laki-laki) bertugas mengatur transportasi. Ia menghitung jarak tempuh, estimasi bensin, biaya tol, dan parkir.
• Anak kedua, yang gemar memasak dan cukup teliti, saya tugaskan untuk menghitung anggaran konsumsi harian keluarga. Ia mencatat berapa kali kami makan di luar dan memastikan pengeluaran tidak melebihi batas harian.
• Anak terkecil, meski masih kecil, tetap diberi tanggung jawab: ia harus mematuhi aturan yang ditetapkan oleh masing-masing anggota keluarga.
Dengan cara ini, mereka belajar bahwa liburan bukan hanya soal bersenang-senang, tapi juga soal kerja sama, tanggung jawab, dan pengelolaan sumber daya bersama.
3. Pengarahan (Actuating): Menjalankan Rencana, Tapi Tetap Fleksibel
Setelah rencana dan tugas dibagi, saatnya menjalankan semuanya bersama-sama. Kami sepakat untuk patuh pada rencana, namun tetap fleksibel dan bijak dalam menyesuaikan keadaan di lapangan.
Misalnya, kami sudah menetapkan range harga untuk penginapan. Semua boleh memberi masukan soal hotel, tapi harus tetap berada dalam batas anggaran yang disepakati bersama. Jadi, keputusan tetap demokratis tapi tetap terukur.
Contoh lain, ketika tiba di kota yang macet dan sibuk, anak sulung saya—yang bertugas mengatur transportasi—menghitung bahwa akan lebih hemat dan efisien jika kami menggunakan taksi online atau bahkan berjalan kaki. Maka kami pun mengikuti sarannya.
Soal makan pun serupa. Jika pada satu sesi makan kami memilih menu yang lebih sederhana dan hemat, sisa anggarannya bisa dialihkan untuk makan berikutnya yang lebih istimewa. Kami belajar menukar “kemewahan sesaat” dengan “kebahagiaan bersama yang lebih panjang.”
Intinya, setiap keputusan diambil bersama dan berdasarkan pertimbangan logis. Anak-anak pun belajar bahwa patuh pada rencana bukan berarti kaku—justru di situlah nilai dari manajemen: bisa mengarahkan tanpa mematikan spontanitas dan rasa senang.
4. Pengendalian (Controlling): Evaluasi Bukan Cuma di Kantor
Setelah liburan, kami selalu menyempatkan waktu untuk mengevaluasi. Apa yang menyenangkan? Apa yang perlu diperbaiki? Ternyata, anak-anak suka tempat yang lebih santai dibanding jadwal yang padat. Tahun berikutnya, kami memilih destinasi yang lebih dekat tapi lebih fleksibel.
Dari evaluasi ini pula, kami bisa mengukur apakah anggaran kami realistis dan bagaimana mengaturnya lebih baik di liburan selanjutnya.
Manajemen Bisa Dimulai dari Rumah
Seringkali, kita berpikir manajemen hanya berlaku di ruang kantor atau bisnis besar. Padahal, keluarga adalah organisasi terkecil yang juga membutuhkan pengelolaan. Ketika fungsi manajemen dijalankan dengan tepat, kehidupan rumah tangga menjadi lebih tertata—dan bahkan liburan pun jadi lebih bermakna.
Karena sejatinya, yang membuat liburan berhasil bukan hanya pemandangannya, tapi bagaimana kita mengelolanya bersama-sama.
Tentang Penulis
Chitra Laksmi Rithmaya, S.E., M.M. adalah dosen Manajemen Keuangan dan Perbankan Universitas Hayam Wuruk Perbanas yang gemar menulis dan berbagi pengalaman praktis seputar manajemen dalam kehidupan sehari-hari. Ia percaya bahwa ilmu tidak harus rumit, tapi bisa dekat dan diterapkan di dalam rumah.
Trending Now