Konten dari Pengguna

Tong Kosong Horeg Bunyinya

Cindy Muspratomo
Freelance Writer, Pengajar di Primary Student One Islamic School dan Zentrum Education Center
5 Agustus 2025 8:09 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tong Kosong Horeg Bunyinya
Esai reflektif tentang budaya sound horeg sebagai simbol masyarakat yang kehilangan empati, norma sosial, dan ketegasan hukum.
Cindy Muspratomo
Tulisan dari Cindy Muspratomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Warga menyiapkan peralatan saat gelaran Urek Urek Carnival yang diiringi perangkat audio kapasitas besar di Desa Urek-urek Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga menyiapkan peralatan saat gelaran Urek Urek Carnival yang diiringi perangkat audio kapasitas besar di Desa Urek-urek Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO
Saya dalam perjalanan pulang dari mengantar bapak mertua ke Bandara Soekarno Hatta. Di dalam mobil istri saya duduk di depan memangku anak kami yang pertama, yang tidur karena kelelahan. Di belakang, adiknya juga tertidur sendirian.
Kami hampir sampai di lampu merah bundaran Jam Gede Alam Sutera. Lalu lintas tersendat lumayan parah, tidak seperti biasanya. Setahu saya di sana jarang macet, apalagi macet parah. Di hari libur sekalipun jarang macet. Dan lagi pula saat itu saya melintas bukan di jam kerja.
Di jalur sebaliknya, yang berlawanan arah, saya melihat beberapa pengendara Rx King melintas pelan sambil menggeber-geber motornya, pamer atau entah apa. Mereka bergerombol seperti sedang konvoi perayaan kelulusan atau yang lainnya.
Anda semua tahu kan knalpot Rx King bising bukan main. Satu motor Rx King melintas di jalan raya saja, bisingnya bikin senewen, lha ini belasan.
Timbul perasaan tidak mengenakan. Dugaan saya macet itu akibat gathering komunitas Rx King. Dan benar saja. Lepas dari lampu merah lalu lintas makin tersendat. Dan tidak hanya itu, jalanan makin dipenuhi motor-motor Rx King dengan pengendara mereka yang punya perilaku sama, menggeber-geber motor dengan sekencang-kencangnya entah apa tujuannya.
Anak saya yang dipangku ibunya terbangun karena geberan motor yang melintas di kiri kanan mobil kami. Ia marah dan sigap menutup telinga. Saya berinisiatif menyalakan pemutar musik di mobil dan mengeraskan suaranya, tapi tetap tak berhasil menghalau suara bising knalpot Rx King.
Bukan lagi belasan, tapi ratusan, mungkin bahkan ribuan Rx King di pinggir jalan dan melintas wira-wiri seperti parade karnaval. Seperti atraksi seni jalanan.
Bukan, saya salah, itu sama sekali bukan seni, itu gangguan. Gangguan yang lewat tanpa permisi. Tanpa empati.
Kok tanpa empati? Lah iya, bagaimana tidak, empunya motor yang bising dan ngebul knalpotnya itu tampak tertawa-tawa sangat bangga dengan kelakuannya, seperti sedang merayakan kemenangan dan kesenangan.
Kalau dipikir-pikir, kemenangan apa sih yang mereka rayakan? Kesenangan siapa? Membuat macet jalanan dan meninggalkan trauma di telinga anak yang tidur kelelahan apa bisa dibilang kemenangan atau kesenangan?
Ah, itu kan nggak tiap hari, paling cuma setahun sekali. Palingan begitu dalih mereka yang nggak terima kritikan tajam saya.
Ya sudah kalau begitu besok saya pinjam motor kalian yang knalpotnya brong dan ngebul itu, saya geber-geber pas depan rumah kalian ketika anak kalian lagi tidur, nggak sering-sering kok, paling setahun sekali. Gimana?
Mau senang kok mengorbankan kenyamanan orang lain.
Saya penasaran, sebenarnya manusia macam itu masih punya empati tidak, ya? Membuat bising demi kesenangan sendiri, tidak peduli dengan orang lain. Akal sehatnya di mana? Sejak kapan budaya egosentris begini dirayakan?
Ya, perilaku manusia yang mencari kesenangan lewat knalpot brong yang nyaring bunyinya dan membuat bising telinga tetangga itu mirip sekali dengan sound horeg. Keduanya bukan sekadar soal kebisingan, tapi simbol dari masyarakat yang kosong: kosong akal sehat, kosong karakter, dan kosong empati.
Masyarakat yang kosong begitu akhirnya membuat ruang publik kita jadi seperti hutan belantara. Tidak jelas aturannya. Siapa paling kuat, dia yang menang.
Di Donowarih, sebuah desa di Kabupaten Malang, demi menguasai ruang publik panitia festival sound horeg meminta bayi, lansia, dan warga yang sakit mengungsi jauh-jauh dari desa. Tidak ada yang berani melawan karena sudah jadi kehendak mayoritas, katanya.
Akibatnya keheningan, ketentraman, dan kenyamanan jadi barang yang mahal. Masyarakat rentan yang semestinya butuh perhatian malah kalah dengan speaker raksasa dengan watt-nya yang ribuan, dan playlist-nya yang penuh remix nggak karuan.
Pendukung sound horeg yang budiman mungkin paham betul cara pairing bluetooth ke speaker, tapi sayangnya mereka nggak paham cara pairing diri mereka dengan norma sosial.
Ke mana perginya empati, tenggang rasa, dan kesadaran sosial di era serba digital dan media sosial seperti saat ini?
Dulu, kalau anak tetangga bikin kacau di gang, orang tuanya keluar sambil angkat sapu lidi segede gaban. Sekarang? Orang tuanya malah ikut goyang asyik di sebelah speaker yang menggelegar.
Kayaknya nilai-nilai luhur dan sopan santun yang dulu ditanamkan lewat omelan nenek dan tatapan ganas emak dan bapak sekarang mulai luntur lantaran orang tua sibuk β€œscroll terus” dan beranggapan biarin aja, namanya juga anak muda.
Komunitas juga tak punya daya. Masyarakat yang merasa terganggu balik kucing dan milih sembunyi tatkala ingin menegur karena nanti dibilang gak asik atau sialnya malah kena bogem mentah atau ancaman. Akibatnya, masyarakat jadi terlalu toleran pada ketidakbecusan.
Tidak jalannya fungsi edukasi dan pengawasan di lingkungan keluarga maupun masyarakat diperparah dengan tingkat sebagian orang di banyak tempat yang menganggap sound horeg itu keren dan gaul.
Ada semacam kepercayaan bahwa makin heboh sound horeg makin dianggap paling asik. Bahkan sound horeg dianggap budaya lokal yang patut dibanggakan.
Di beberapa lingkungan, sound horeg dipuja layaknya prestasi. Yang paling berisik, paling top. Akhirnya pegiat sound horeg diundang ke acara-acara penting seperti tujuh belasan, sedekah bumi, atau bahkan perayaan hari santri! Sound horeg dijadikan tamu spesial untuk memutar remix yang jujurly lagunya setengah mati sulit dikenali.
Entah betul atau tidak, saya rasa masyarakat kita saat ini tumbuh dalam budaya β€œmalu kalau tidak heboh.” Kalau tidak bikin sesuatu yang rame, berarti gak eksis. Kalau motornya gak brong, berarti bukan jagoan. Kalau tidak ikut rombongan sound horeg nggak gaul. Aduh!
Selain itu, sistem pendidikan nasional yang gagal melahirkan generasi cerdas dan berkarakter juga punya peran dalam melahirkan generasi yang kosong dan berisik itu. Gini deh, manusia normal yang berhasil dididik dengan benar saya yakin tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang nir-empati seperti geber-geber motor berknalpot brong maupun mengusir bayi, lansia, dan orang sakit demi festival sound.
Sound horeg juga jadi kompensasi dan cara bagi generasi yang tak punya karakter, atau prestasi, atau keterampilan yang bisa dibanggakan. Perilaku ini serupa perilaku pelaku vandalisme atau tawuran yang menghibur diri tanpa memikirkan dampak kepada orang lain, yang empati dan kepedulian sosialnya habis ditelan kebodohan.
Dan percayalah, generasi yang demikian mungkin lebih menakutkan daripada suara speaker puluhan ribu watt.
Kita tidak bisa berbuat banyak karena pemerintah dan aparatnya sulit diandalkan. Kita hidup di negeri yang punya banyak aturan, tapi minim penegakkan. Urusan kebisingan di ruang publik sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1996 yang secara jelas mengatur tingkat kebisingan di Indonesia. Peraturan ini menetapkan batasan tingkat kebisingan yang diperbolehkan di berbagai jenis lingkungan dan kegiatan. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif kebisingan terhadap kesehatan dan kenyamanan.
Silakan cek sendiri jika tak percaya. Dalam PP tersebut diatur jelas berapa desibel batas suara yang diperbolehkan di lingkungan-lingkungan tertentu. Pertanyaannya, apakah aturan tersebut ditegakkan?
Ketidaktegasan penegakkan hukum di Indonesia akhirnya mendorong masyarakat yang punya kepedulian menyerah. Bukan karena mereka setuju, tapi karena mereka tahu tidak akan ada yang menindak. Di negeri yang aparat penegak hukumnya tidak tegas ruang publik jadi penuh celah, di sinilah sound horeg menemukan habitatnya.
Akhirnya sound horeg bukan cuma soal selera buruk, tapi soal kepedulian sosial dan empati yang hilang. Popularitas sound horeg juga bukti kegagalan lingkungan keluarga, masyarakat, dan negara dalam membentuk isi kepala dan karakter warga negara.
Sound horeg tidak lahir di ruang hampa. Ia dibesarkan oleh lingkungan yang kehilangan kesakralan nilai dan aparat yang terlalu permisif dan malas menegakkan aturan.
Tong kosong memang nyaring bunyinya tapi kini ia disambung bluetooth, disetting echo, lalu di-viral-kan. gimana? Mantap kan?
Trending Now