Konten dari Pengguna

Dampak Ekonomi Kecanduan Digital: Ketika Waktu Produktif Berpindah ke Layar HP

Citra Lestari
Mahasiswi Aktif Universitas Pamulang
4 Juni 2025 14:58 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dampak Ekonomi Kecanduan Digital: Ketika Waktu Produktif Berpindah ke Layar HP
Kecanduan digital adalah fenomena yang nyata dan membawa dampak ekonomi luas, dari individu hingga tingkat nasional. Di tengah derasnya arus informasi dan hiburan digital, penting bagi masyarakat Indo
Citra Lestari
Tulisan dari Citra Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era digital saat ini, gadget telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, hingga hiburan, semua bisa diakses dengan mudah melalui layar ponsel. Namun, kemudahan ini membawa risiko serius: kecanduan digital yang secara perlahan menggerus waktu produktif kita dan menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan, baik bagi individu maupun negara secara keseluruhan.
Waktu Produktif yang Tersedot oleh Aktivitas Digital Non-produktif
seseorang di meja kerja yang terlihat fokus menatap ponsel dengan ekspresi kurang produktif https://www.istockphoto.com/id/foto/wanita-bisnis-muda-foto-stok-gm1309076999-398900899?searchscope=image%2Cfilm.
zoom-in-whitePerbesar
seseorang di meja kerja yang terlihat fokus menatap ponsel dengan ekspresi kurang produktif https://www.istockphoto.com/id/foto/wanita-bisnis-muda-foto-stok-gm1309076999-398900899?searchscope=image%2Cfilm.
Menurut laporan We Are Social dan Meltwater 2025, rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar 8 jam 17 menit setiap hari di depan layar. Angka ini naik sekitar 12% dibanding tahun sebelumnya. Sayangnya, sebagian besar waktu tersebut tidak digunakan untuk hal yang produktif, melainkan untuk aktivitas seperti scrolling media sosial, menonton video pendek, dan bermain game online.
Dari perspektif ekonomi, kebiasaan ini sangat merugikan. Ketika waktu kerja dan belajar tergantikan oleh konsumsi konten digital yang minim nilai tambah, produktivitas tenaga kerja menurun. Bank Indonesia melaporkan pada kuartal pertama 2025 terjadi penurunan produktivitas pekerja informal hingga 9,3% di wilayah urban, yang dikaitkan dengan peningkatan konsumsi konten digital non-produktif selama jam kerja.
Kerugian Finansial dan Potensi Ekonomi yang Terbuang
Kecanduan digital tidak hanya menyita waktu, tapi juga berdampak pada kondisi keuangan pribadi. Survei APJII tahun 2025 menunjukkan pengguna gadget rata-rata menghabiskan Rp650 ribu sampai Rp1 juta per bulan untuk kuota internet, aplikasi berbayar, dan pembelian item digital. Dana tersebut sebenarnya bisa dialihkan untuk investasi atau pengembangan usaha mikro yang memberikan dampak ekonomi nyata.
Selain itu, banyak orang yang masih berperan sebagai konsumen pasif di dunia digital, bukan sebagai pelaku ekonomi yang menghasilkan nilai tambah. Padahal, ekonomi kreator, freelance digital, dan social commerce tengah berkembang pesat di Indonesia. Sayangnya, kecanduan digital yang konsumtif membuat masyarakat cenderung tidak memanfaatkan peluang tersebut secara optimal.
Dampak Sosial Ekonomi yang Mulai Terasa
Dampak kecanduan digital juga merembet ke ranah sosial ekonomi. Penurunan kualitas kerja, keterlambatan penyelesaian proyek, dan masalah kesehatan mental menjadi isu yang semakin nyata. Kementerian Kesehatan RI melaporkan kenaikan kasus gangguan kecemasan dan burnout akibat paparan layar berlebihan sebesar 14% dibanding tahun 2023.
Kondisi ini menimbulkan biaya tambahan bagi perusahaan dalam bentuk program kesehatan mental karyawan, sekaligus menambah beban layanan kesehatan jiwa dari pemerintah. Dengan demikian, kecanduan digital bukan hanya persoalan individu, tapi juga masalah ekonomi makro yang memerlukan perhatian serius.
Membangun Keseimbangan: Digital Wellbeing dan Produktivitas Ekonomi
Solusi bukanlah dengan memutus koneksi digital sepenuhnya, melainkan dengan pengelolaan waktu layar yang lebih bijak dan pemanfaatan teknologi secara produktif. Banyak platform kini menyediakan fitur pengaturan waktu layar dan mode fokus agar pengguna dapat mengatur penggunaan gadget secara lebih sehat.
Pemerintah dan pelaku industri juga perlu mendorong masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam ekonomi digital, mulai dari menjadi content creator, membuka toko online, hingga menggunakan aplikasi freelance guna memperoleh penghasilan tambahan. Dengan demikian, potensi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai US\$130 miliar pada 2025 bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir orang.
Kecanduan digital adalah fenomena yang nyata dan membawa dampak ekonomi luas, dari individu hingga tingkat nasional. Di tengah derasnya arus informasi dan hiburan digital, penting bagi masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam menggunakan gadget. Dengan pengelolaan waktu produktif yang tepat, potensi ekonomi digital negara ini bisa dioptimalkan demi kemajuan bersama.
Trending Now