Konten dari Pengguna
Sering Mengulang Kebiasaan Buruk? Coba Tanyakan "5 Why" pada Diri Sendiri
21 Agustus 2025 16:36 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Sering Mengulang Kebiasaan Buruk? Coba Tanyakan "5 Why" pada Diri Sendiri
"Mulai besok, aku akan berhenti menunda pekerjaan," katamu di Minggu malam. Lalu di Selasa siang, kamu kembali menumpuk tugas dan hanya sibuk menggulir sosial media. Pernah begini? #userstoryYulfani Akhmad Rizky
Tulisan dari Yulfani Akhmad Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap Minggu malam, Anda berjanji pada diri sendiri: "Mulai besok, saya akan berhenti menunda-nunda pekerjaan". Namun, Selasa siang, Anda kembali menemukan diri Anda menggulir media sosial tanpa henti, sementara tumpukan tugas menatap tajam dari sudut layar. Rasa bersalah dan frustrasi pun datang lagi, seperti tamu tak diundang yang selalu kembali.
Kita semua pernah berada di roda hamster kebiasaan buruk ini. Kita mencoba melawannya dengan tekad baja, berjanji untuk "lebih disiplin" atau "lebih termotivasi". Tapi seringkali, tekad saja tidak cukup. Mengapa? Karena tekad itu seperti otot, ia bisa lelah. Ia hanya melawan gejalanya (misalnya, keinginan untuk menunda), bukan penyakitnya (penyebab kita menunda).
Bagaimana jika ada cara yang lebih cerdas? Bagaimana jika, alih-alih berperang, kita mencoba menyelidiki? Di sinilah kita perlu meminjam tools dari para insinyur dan detektif: Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis). Ini adalah pendekatan logis untuk berhenti menghakimi diri sendiri dan mulai memperbaiki sistem di balik kebiasaan kita.
Apa Itu Analisis Akar Masalah?
Analisis Akar Masalah, atau Root Cause Analysis (RCA), adalah metode untuk terus bertanya "Mengapa?" hingga kita menemukan sumber masalah yang sebenarnya, bukan hanya gejala yang terlihat di permukaan. Tujuannya adalah menemukan titik di mana kita bisa melakukan perbaikan yang akan mencegah masalah itu muncul kembali.
Salah satu alat utama dalam RCA adalah Teknik "5 Why". Teknik ini sangat sederhana namun luar biasa kuat. Idenya adalah dengan bertanya "mengapa" sebanyak lima kali (atau lebih), kita bisa menggali lapisan-lapisan masalah hingga ke intinya.
Mari kita gunakan analogi sederhana:
Lihat? Solusi permanennya bukan hanya terus-menerus mengganti bohlam (mengatasi gejala), tapi memeriksa dan memperbaiki instalasi listrik (mengatasi akar masalah). Pendekatan yang sama bisa kita terapkan pada kebiasaan buruk kita.
Membedah Kebiasaan Buruk Anda dengan "5 Why"
Mari kita praktikkan dengan studi kasus yang sangat umum: kebiasaan makan camilan tidak sehat di sore hari saat bekerja.
Masalah yang Terlihat: Setiap sekitar jam 3 sore, muncul keinginan kuat untuk mencari cokelat, keripik, atau minuman manis.
Langkah 1: Tanyakan "Why" Pertama.
Langkah 2: Tanyakan "Why" Kedua.
Langkah 3: Tanyakan "Why" Ketiga.
Langkah 4: Tanyakan "Why" Keempat.
Langkah 5: Tanyakan "Why" Kelima (Akar Masalah).
Dari analisis ini, kita menemukan bahwa akar masalahnya bukanlah "suka ngemil" atau "kurang tekad", melainkan pola pikir yang salah tentang pentingnya istirahat dan perencanaan makan siang yang buruk.
Merancang Solusi yang Menyerang Akar Masalah
Setelah mengetahui akar masalahnya, kita bisa merancang solusi yang jauh lebih efektif.
Solusi yang Salah (Menyerang Gejala): "Saya akan menyingkirkan semua camilan dari meja dan laci." Ini adalah pendekatan yang mengandalkan tekad. Ia mungkin berhasil untuk satu atau dua hari, tapi akan gagal total saat Anda benar-benar lelah dan lapar, karena pemicunya tidak pernah dihilangkan.
Solusi yang Benar (Menyerang Akar Masalah):
Berhenti Menghakimi, Mulai Merancang
Berhentilah menghakimi diri sendiri sebagai orang yang "malas", "tidak punya tekad", atau "gampang tergoda". Mulailah melihat kebiasaan buruk sebagai sinyal adanya sistem yang rusak yang perlu diperbaiki.
Anda kini memiliki alat diagnosis yang logis untuk memahami mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan. Anda bisa beralih dari menjadi korban kebiasaan menjadi seorang arsitek kebiasaan.
Pilih satu kebiasaan buruk yang paling mengganggu Anda minggu ini. Jangan coba melawannya. Coba, jadilah detektif dan tanyakan "5 Why". Temukan akar masalahnya, dan rancang solusi cerdas untuknya.

