Konten dari Pengguna
Gacha dan Risiko Kecanduan: Mengapa Kontrol Diri Sangat Penting?
9 Desember 2025 23:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Gacha dan Risiko Kecanduan: Mengapa Kontrol Diri Sangat Penting?
Gacha bukan sekedar fitur game semata, ia memanfaatkan emosi dan ketidakpastian untuk mendorong para pemain untuk terus top up, tanpa pikir panjang, gacha dapat menjadi jebakan financial dan mental.Dafin Putra Anaphalis
Tulisan dari Dafin Putra Anaphalis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena gacha atau mekanisme untuk mendapatkan hadiah acak, seperti karakter atau item dalam permainan digital telah berkembang menjadi budaya baru di kalangan gamer, terutama kalangan anak muda.
Pada awalnya, sistem ini tampak sederhana: pemain membeli kesempatan untuk mendapatkan item langka yang dapat meningkatkan pengalaman bermain. Namun, di balik tampilan yang tampak menyenangkan, tersembunyi mekanisme psikologis yang sangat mirip dengan perjudian dan memiliki potensi menimbulkan kecanduan serta kerugian finansial yang serius.
Sistem gacha bekerja dengan 2 jenis rasio reward, yaitu variable ratio dan fixed ratio. Pada sistem variable ratio, hadiah yang diterima benar-benar acak, artinya pemain tidak pernah tahu kapan item yang diinginkan akan muncul.
Ketidakpastian inilah yang memicu antisipasi, harapan, sekaligus frustasi. Ketika akhirnya mendapatkan hadiah besar, muncul rasa euforia yang kuat dan membuat para pemainnya berharap merasakan sensasi itu kembali didalam dirinya. Pola inilah yang juga digunakan dalam mesin judi kasino. Semakin diacak, semakin memikat.
Sementara itu, sistem fixed ratio ini seperti memberikan jaminan akan mendapatkan hadiah kepada pemainnya setelah beberapa percobaan tertentu, seolah-olah menjadi bentuk βbasi-basi kasih sayangβ yang telah diharapkan para player dari pihak development game tersebut.
Namun pada kenyataannya, sistem ini tetap tidak mengurangi sifat ketidakpastian yang membuat pemain terus-terusan merasa bahwa perlu dan wajib untuk membeli kesempatan berikutnya dari event yang diselenggarakan. Permainan emosi ini memanfaatkan FOMO (fear of missing out), terutama ketika ada event terbatas atau item eksklusif yang hanya muncul dari event-event tertentu dan sesaat saja.
Yang sering luput disadari adalah bagaimana sebuah game memang sengaja memanfaatkan respons emosional untuk mempengaruhi keputusan finansial seseorang. Banyak player game menghabiskan uang tanpa perhitungan sejenak, bahkan sampai harus mengurangi kebutuhan dasar, seperti makan, hanya demi mengejar item virtual saja. Ini bukan lagi sekedar hiburan, tetapi ada tanda-tanda berbahaya yang menunjukkan adanya manipulasi psikologis yang terstruktur dari sebuah game.
Menariknya, motivasi membeli sebuah gacha antara pemain laki-laki dan perempuan pun berbeda. Contoh, pemain perempuan cenderung membeli untuk hanya untuk kebutuhan emosional sesaat saja, seperti ada rasa kedekatan dengan karakter sebagai jalan pelarian emosional (escapism).
Sedangkan pemain laki-laki cenderung lebih terdorong oleh sebuah kompetisi, seperti ingin unggul dari pemain lain, lalu meningkatkan performa di dalam game dan meraih sebuah kemenangan dan status sosial, seperti membeli item atau karakter langka sebagai simbol prestise, lalu pengakuan dan posisi dari sesama komunitas gamer. Perbedaan ini memberikan gambaran bahwa strategi pemasaran gacha di dalam sebuah game memang dirancang untuk menyasar aspek profil psikologis para player game.
Karena itulah, kesadaran diri (awareness) dan kontrol diri (self-regulation) menjadi kunci agar para pemain game tidak terjebak dalam siklus manipulasi gacha yang bisa menguras emosi dan finansial seseorang.
Salah satu strategi yang efektif untuk menghindari kecanduan dan melawan manipulasi sistem gacha di dalam game adalah dengan melatih delayed gratification, yaitu kemampuan menunda kepuasan instan demi tujuan dan manfaat jangka panjang yang lebih bermanfaat untuk masa depan.
Salah satunya, dengan mengatur anggaran khusus untuk game, lalu membatasi waktu untuk bermain game, dan berpikir kritis sebelum membeli sebuah item virtual yang sifat nya hanya hiburan semata, merupakan tindakan dan langkah-langkah yang bijak untuk menjaga kesehatan dan kewarasan mental serta finansial.
Dengan semakin kaburnya batas-batas antara gacha dan perjudian, perlunya regulasi yang lebih jelas dan kompeten untuk sistem perlindungan para pemain, karena sistem gacha ini beroperasi di βzona abu-abu hukumβ, artinya sistem gacha ini memiliki kemiripan dengan perjudian (karena berbasis peluang acak dan memicu perilaku yang impulsif).
Maka dari itu, diperlukan aturan yang lebih jelas untuk melindungi para pemain, terutama para generasi muda yang rentan menjadi korban dari sistem gacha tersebut. Salah satu regulasinya adalah di sistem pengembangan gamenya, idealnya mereka menyediakan fitur kontrol diri, seperti:
Meski ada regulasi dan fitur kontrol di dalam sebuah game. Namun, tanpa adanya kesadaran akan self-awareness, kita akan mudah menjadi korban dalam permainan gacha yang sebenarnya dirancang untuk mengeksploitasi emosi kita demi keuntungannya.
Pada akhirnya, game seharusnya menjadi ruang hiburan, bukan tempat jebakan psikologis yang menguras uang dan mental. Keseimbangan antara kesenangan dan kontrol diri adalah sebuah kunci agar ketika bermain game, tetap menjadi aktivitas yang sehat dan waras.

