Konten dari Pengguna

Afeksi Multisemesta dan Kembalinya Probabilitas Jatuh Cinta

Dandy Ramdhan Yahya
Eks Asisten Peneliti Pusat Studi Kebijakan Nasional Universitas Ahmad Dahlan
15 Juli 2025 13:18 WIB
Ā·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Afeksi Multisemesta dan Kembalinya Probabilitas Jatuh Cinta
Eksplorasi kalkulus kerinduan & multisemesta afeksi: studi probabilitas jatuh cinta kembali setelah trauma, dalam kerangka psikologi & fisika teoretis.
Dandy Ramdhan Yahya
Tulisan dari Dandy Ramdhan Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Seorang Laki-laki yang Sedang Menghayati Makna Afeksi Multisemesta dan Kembalinya Probabilitas Jatuh Cinta | Sumber: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seorang Laki-laki yang Sedang Menghayati Makna Afeksi Multisemesta dan Kembalinya Probabilitas Jatuh Cinta | Sumber: Dokumen Pribadi
Cinta, dalam lanskap eksistensial manusia, bukan sekadar pengalaman emosional yang hanya dikategorikan sebagai sentimen lunak belaka. Sesungguhnya ia adalah entitas multidimensional yang dapat dengan berani menembus batas filosofis, psikologis, ilmu-ilmu fisik, matematika, dan bahkan logika pasar. Ketika seseorang yang pernah mencinta kemudian diseret oleh badai kehilangan, bukan hanya jalinan emosionalnya yang patah, struktur ontologis batinnya pun retak menjadi serpih-serpih tak terhingga. Dalam keadaan demikian, jatuh cinta kembali akan menyerupai suatu paradoks—sebuah kalkulus kerinduan yang lebih kompleks daripada persamaan Navier-Stokes, lebih rapuh daripada teori probabilitas yang tak pernah bisa menyentuh kepastian absolut, dan jauh lebih banyak membutuhkan anggaran daripada program Makan Bergizi Gratis.

Bagian Pertama: Trauma Afektif dan Neuroplastisitas Emosional

Psikologi modern memandang patah hati sebagai trauma afektif yang menyerupai luka jaringan otak. John Bowlby dalam Attachment Theory memformulasikan gagasan internal working models—peta kognitif dan emosional yang terbentuk dari pengalaman relasional masa lalu. Ketika hubungan intim runtuh secara mendadak, peta ini bukan hanya terguncang, melainkan bisa tercabik. Individu yang pernah menginvestasikan "modal afeksi" dalam ikatan emosional mengalami kebangkrutan psikologis, di mana struktur harapan, kebiasaan, dan persepsi akan diri tereduksi menjadi neraca defisit.
Apa yang ditemukan dalam riset Daniel Siegel mengenai neuroplastisitas memperlihatkan bahwa luka relasi tidak selamanya permanen. Otak manusia adalah entitas dinamis yang sanggup mereorganisasi jalur sinaptik. Trauma cinta ibarat koreksi drastis dalam portofolio afeksi—menghapus saham-saham kenangan yang jatuh nilainya, memaksa seseorang merestrukturisasi "aset emosional" menjadi bentuk baru. Proses penyembuhan memerlukan time-weighted exposure—paparan perlahan terhadap keakraban, keberanian, dan kemungkinan keintiman. Maka jatuh cinta kembali adalah proyek rekonstruksi neuropsikologis yang tidak instan, melainkan menuntut keberanian menangguhkan prasangka, membuka likuiditas rasa, dan menerima volatilitas hubungan yang tak stabil.

Bagian Kedua: Cinta sebagai Keputusan Eksistensial secara Filosofis

Dalam horizon filsafat kontinental, cinta bukan sekadar respons naluriah, melainkan keputusan eksistensial yang paling berisiko. SĆøren Kierkegaard dalam Works of Love menyebut cinta sebagai paradoks tertinggi: "yang kekal dalam kefanaan". Artinya, cinta adalah perjanjian antara manusia dengan kemungkinan terluka. Gilles Deleuze dalam Difference and Repetition melengkapi tesis itu dengan pandangan bahwa cinta yang datang setelah kehilangan tidak pernah identik dengan cinta lama. Ia bukan pengulangan, melainkan diferensiasi—singularitas yang berdiri di atas reruntuhan harapan sebelumnya.
Cinta pascakehancuran menuntut kebesaran jiwa untuk menampung yang tak pasti, menerima bahwa relasi baru bukan perbaikan keretakan lama, melainkan penciptaan entitas afektif yang betul-betul lain. Dari sudut pandang Emmanuel Levinas, jatuh cinta kembali adalah "kesediaan menghadapi wajah yang tak bisa direduksi"—suatu etika kerentanan yang tak pernah bisa dijamin untung-ruginya. Dalam bingkai ini, cinta adalah investasi emosional dengan volatilitas ekstrim, di mana satu-satunya jaminan hanyalah keberanian eksistensial untuk terus mengada.

Bagian Ketiga: Teorema Bayes dan Kalkulus Kerinduan

Dalam perspektif matematis, jatuh cinta kembali bisa dikaji melalui teori probabilitas Bayes. Dalam kerangka ini, trauma relasi membentuk prior belief yang negatif: hipotesis awal bahwa cinta berisiko lebih besar daripada manfaatnya. Setiap pengalaman baru—perkenalan, sapaan, sentuhan kecil—merupakan likelihood yang memberi data empiris. Probabilitas posterior akan cinta yang tulus diperbarui secara iteratif, seiring bertambahnya bukti keandalan atau kebohongan orang baru. Rumus Bayes secara simbolik memetakan dinamika dengan P(H|E) = [P(E|H) Ɨ P(H)] / P(E), di mana posterior diperoleh dari hasil perkalian likelihood dengan prior, lalu dibagi peluang eviden, yang mana H merupakan "Hipotesis Bahwa Cinta Masih Mungkin" dan E merupakan "Eviden Berupa Perilaku Orang Lain".
Namun, kalkulus kerinduan tidak pernah steril dari emosi. Dalam kenyataan psikis, variabel E tak pernah objektif, melainkan disaring oleh luka lama. Maka probabilitas jatuh cinta kembali lebih menyerupai distribusi probabilitas Fuzzy yang gradual, bukan sekadar biner antara "mungkin" atau "tidak".

Bagian Keempat: Superposisi Afeksi dalam Teori Multisemesta

Fisika kuantum menawarkan kerangka paling puitis dan paling menantang akal sehat untuk memahami patah hati. Hugh Everett, pencetus teori multisemesta, menegaskan bahwa realitas terpecah dalam cabang-cabang kemungkinan yang eksis simultan. Dalam analogi eksistensial, hati yang pernah patah berada dalam keadaan superposisi: mencintai sekaligus membenci, ingin membuka diri sekaligus menutup rapat. Semua probabilitas afeksi mengalami kebangkitan pada saat yang sama hingga tindakan pengamatan—keputusan membuka hati—membuat satu cabang realitas kolaps menjadi kenyataan definitif.
Ketika seorang sahabat, Sahdan Bansos misalnya, bersenandung, ā€œkan ku telan isi bumi hanya untukmuā€, itu sebenarnya bukan sekadar penggalan lirik dari lagu "Bunga Maaf" milik The Lantis, atau hanya metafora yang bombastis. Lirik tersebut secara tidak sadar merepresentasikan hipotesis multisemesta: "Dalam satu semesta, sang aku mungkin telah menyerah total; dan dalam semesta lain, ia sedang melahap seluruh variabel ketidakpastian demi membuktikan afeksi yang tak terukur." Pernyataan itu menyerupai singularitas dalam fisika—titik di mana hukum normal realitas runtuh, dan semua rasio menjadi tak relevan.

Bagian Kelima: Likuiditas Emosional dan Derivatif Cinta

Dalam logika ekonomi, cinta sering kali dianalogikan sebagai investasi dengan rasio return-risk yang ekstrem. Ketika seseorang kehilangan pasangan, maka modal afeksi akan terdepresiasi secara drastis. Pasar emosi memasuki fase bear market, di mana harga kepercayaan ambruk, likuiditas rasa mulai mengering, dan volatilitas melambung. Proses jatuh cinta kembali menyerupai rekonstruksi derivatif—produk keuangan kompleks yang nilainya diturunkan dari variabel lain. Dalam konteks relasi, derivatif cinta lahir dari bayangan potensi masa depan, bukan hanya rekam jejak masa lalu.
Kita juga bisa meminjam konsep moral hazard: ketika hati pernah mengalami rasa sakit, individu cenderung mengasumsikan bahwa risiko kerugian akan selalu lebih besar daripada potensi keuntungan. Maka upaya mencinta ulang membutuhkan stimulus berupa keberanian eksistensial dan insentif psikologis—keyakinan bahwa probabilitas kebahagiaan lebih tinggi daripada kebangkrutan batin. Dengan demikian, jatuh cinta kembali bukan sekadar keputusan emosional, melainkan kalkulasi portofolio afeksi yang kompleks.

Bagian Keenam: Bahasa Luka dan Retorika Kerinduan

Paul Celan menulis bahwa cinta adalah sesuatu yang paling tak kasatmata, ia hanya bisa disentuh dalam diksi yang genting. Roland Barthes dalam A Lover’s Discourse menegaskan bahwa jatuh cinta adalah diskursus soliter, usaha terus-menerus menamai yang tak bernama. Penggalan lirik "kan ku telan isi bumi hanya untukmu" sebagaimana disentuh pada bagian sebelumnya menjadi salah satu puncak retorika kerinduan. Pernyataan itu bukan hiperbola kosong, melainkan representasi keputusasaan total sekaligus determinasi mutlak untuk melampaui entropi emosi. Ia menandakan kesiapan menanggalkan batas rasionalitas, layaknya singularitas yang menyedot seluruh materi dalam lanskap perasaan.
Dalam bentangan horizon sastra, cinta pascatrauma bukan hanya pengulangan bab lama, tetapi penulisan ulang kosmologi makna. Kata-kata menjadi jembatan menuju afeksi baru, sementara metafora menjadi instrumen rekonsiliasi antara ingatan luka dan potensi kebahagiaan.

Konklusi Sederhana

Cinta, dalam seluruh dimensi multidisipliner ini, menolak direduksi menjadi sentimen remeh. Ia adalah kalkulus kerinduan yang menuntut keberanian eksistensial, probabilitas yang tak pernah pasti, entropi psikologis yang tak kunjung reda, dan retorika yang tak pernah selesai. Perspektif psikologi memberi peta luka dan neuroplastisitas penyembuhannya, filsafat memperlihatkan bahwa cinta adalah keputusan ontologis paling rapuh, matematika memetakan dinamika probabilitas jatuh cinta kembali, fisika menunjukkan superposisi afeksi yang tak terelakkan, ekonomi membantu memahami risiko, likuiditas, dan derivatif emosi, serta kacamata sastra merangkum semuanya dalam bahasa yang retak namun abadi.
Pada akhirnya, barangkali cinta dapat dikatakan sebagai satu-satunya entitas di mana seluruh disiplin ilmu bertemu untuk merumuskan paradoks yang tak bisa disederhanakan. Ketika seseorang pernah patah hati, lalu suatu hari berbisik pada dirinya sendiri, ā€œkan ku telan isi bumi hanya untukmuā€, ia sedang menegaskan satu hal: bahwa dalam probabilitas multisemesta, selalu ada semesta di mana cinta baru mungkin tumbuh, meskipun seluruh hukum pasar batin berkata sebaliknya. Dan pada semesta itulah, kalkulus kerinduan menemukan titik temu antara luka dan keindahan yang tetap layak diperjuangkan.
Trending Now