Konten dari Pengguna

Farmakologi Cinta: Dari Dopamin hingga Efek Samping Patah Hati

Dandy Ramdhan Yahya
Eks Asisten Peneliti Pusat Studi Kebijakan Nasional Universitas Ahmad Dahlan
24 Agustus 2025 7:46 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Farmakologi Cinta: Dari Dopamin hingga Efek Samping Patah Hati
Artikel ini membedah cinta dengan kacamata farmakologi: dari dopamin hingga patah hati, berpadu filsafat dan analogi ekonomi, ilmiah sekaligus puitis.
Dandy Ramdhan Yahya
Tulisan dari Dandy Ramdhan Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi | Sumber: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi | Sumber: Dok. Pribadi
Cinta adalah fenomena universal, yang sejak dentuman Big Bang tiga belas miliar tahun lalu, senantiasa hadir sebagai bahan renungan para filsuf, penyair, dan ilmuwan. Plato menuliskannya sebagai kerinduan jiwa untuk kembali pada kesempurnaan, sementara Kierkegaard melihat cinta sebagai pilihan eksistensial yang menentukan kualitas keberadaan manusia. Namun di luar bahasa metafisika itu, kultur sains kontemporer justru menyingkap cinta dengan pisau bedah yang tajam: ia ternyata beroperasi layaknya sebuah obat. Dalam perspektif farmasi, cinta punya zat aktif, mekanisme aksi, distribusi dalam tubuh, metabolisme yang rumit, hingga efek samping yang kadang lebih destruktif daripada penyakit. Maka menulis tentang cinta dengan kacamata farmakologi (sederhana) adalah sebuah upaya merangkul paradoks—membaca yang paling puitis dengan bahasa yang paling klinis, dan menemukan bahwa keduanya saling berdekapan, bukan saling meniadakan.

Farmakodinamik: Mekanisme Aksi dalam Orkestra Neurotransmiter

Jika seorang farmakolog bertanya apa itu mekanisme aksi cinta, jawabannya adalah simfoni molekul di otak. Pada fase awal, dopamin membanjiri sistem reward hingga menimbulkan euforia yang menyerupai efek amfetamin. Penulis ingat persis, ketika bagaimana tubuh bergetar saat merasakan jatuh cinta, sebuah pengalaman yang membuat logika seakan runtuh oleh derasnya neurotransmiter. Oksitosin lalu datang seperti jembatan kepercayaan, mengikat dua manusia dalam rasa intim yang halus namun kokoh. Vasopresin menambahkan nuansa proteksi, menjadikan cinta bukan hanya hasrat, tetapi juga kebutuhan untuk menjaga. Ironisnya, serotonin justru menurun pada fase ini, menciptakan gejala obsesif yang membuat pikiran terus-menerus berputar pada satu sosok.
Menurut seorang "ahli farmasi" yang belum genap semester lima, fase ini adalah kondisi paling rapuh dalam fisiologi manusia, karena tubuh seakan melupakan homeostasisnya sendiri. Lucunya, penulis lebih percaya pada penjelasan sederhana itu ketimbang ulasan jurnal kedokteran mana pun—mungkin karena senyum yang menyertainya lebih meyakinkan daripada data statistik.
Jika dipandang dari sudut filsafat, inilah bukti bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh, tunduk pada hukum biologi meski merasa tengah menjalani takdir metafisik. Sementara dari analogi ekonomi makro, mekanisme ini bisa dipandang sebagai stimulus fiskal: pada awalnya pemerintah (otak) menggelontorkan likuiditas berlebih (dopamin), menciptakan pertumbuhan cepat, tapi berisiko memicu inflasi emosional yang tak terkendali.

Farmakokinetik: Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Eliminasi

Cinta, layaknya obat, juga memiliki farmakokinetik yang dapat dianalisis. Ia memasuki tubuh melalui tatapan pertama, senyuman, atau sekadar percakapan yang tampak sepele. Itulah fase absorpsi, saat reseptor hati terbuka untuk menerima molekul-molekul kecil bernama perhatian. Begitu cinta terserap, ia terdistribusi ke seluruh sistem tubuh: detak jantung meningkat, telapak tangan berkeringat, dan tidur menjadi tidak teratur. Distribusi ini ibarat arus modal yang menyebar dalam perekonomian, menciptakan stimulus di berbagai sektor, dari produktivitas kerja hingga kualitas tidur yang mendadak memburuk.
Metabolisme cinta berlangsung dalam pengalaman sehari-hari. Ia diproses oleh waktu, oleh keintiman, oleh konflik, dan oleh rekonsiliasi. Ada cinta yang cepat terurai, kehilangan efektivitasnya karena kurangnya stabilitas; ada pula cinta yang dimetabolisme dengan baik, dan menghasilkan kestabilan jangka panjang. Eliminasi pun tak dapat dihindari. Saat hubungan berakhir, cinta perlahan dikeluarkan dari sistem. Namun seperti residu obat yang meninggalkan metabolit aktif, cinta sering kali menyisakan kenangan yang tetap memengaruhi perilaku meski hubungan itu sendiri sudah tiada.

Dosis, Toleransi, dan Overdosis

Seperti obat, cinta pun tunduk pada hukum dosis. Pada awalnya, ada dosis inisial yang meledak-ledak—fase honeymoon yang membuat dunia seolah lebih terang. Namun hubungan jangka panjang menuntut dosis pemeliharaan, semacam terapi kronis yang harus terus dijaga dengan konsistensi dan perhatian.
Lagi dan lagi, mengacu pada informasi yang diberikan oleh "ahli farmasi" yang belum genap semester lima itu, setiap dosis besar pasti menuntut adaptasi. Tubuh akan mencari keseimbangannya sendiri, sama seperti hati yang perlahan belajar menurunkan ekspektasi. Penulis tidak bisa untuk tidak mengakui bahwa kalimat sesederhana itu terasa lebih dalam daripada teori farmakodinamik mana pun.
Tanpa adaptasi, tubuh mengembangkan toleransi. Efek euforia memudar, dan cinta bisa kehilangan daya terapeutiknya jika tidak disertai usaha memperbarui pengalaman. Pernah pula cinta berubah menjadi overdosis: ketika hasrat yang berlebihan menjelma obsesi posesif, ia tidak lagi menyembuhkan, melainkan meracuni. Filsafat mengajarkan bahwa cinta tanpa kendali adalah bentuk keterikatan yang meniadakan kebebasan. Dan jika ditilik melalui kacamata ekonomi, hubungan yang overdosis menyerupai economic bubbles: awalnya tampak menjanjikan, penuh gairah, tetapi ketika gelembung pecah, kerugian yang ditinggalkan jauh lebih besar daripada keuntungan sesaat.

Interaksi dan Kontraindikasi

Tidak ada terapi tunggal yang bekerja dalam isolasi, demikian pula cinta. Ia selalu berinteraksi dengan variabel lain: pekerjaan, keluarga, bahkan kesehatan mental. Interaksi positif menciptakan sinergi, di mana cinta menjadi katalisator yang meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Sebaliknya, interaksi negatif dapat memunculkan efek antagonis. Hubungan toksik misalnya, bagaikan kombinasi obat yang saling meniadakan manfaat, bahkan menciptakan efek samping yang lebih parah.
Dalam konteks kontraindikasi, cinta kadang berbahaya jika diberikan pada kondisi yang salah: hati yang belum pulih dari luka lama, atau jiwa yang belum stabil. Memberikan cinta pada kondisi ini bagaikan memberikan imunosupresan pada pasien yang sedang terinfeksi: alih-alih menyembuhkan, ia memperburuk keadaan.

Efek Samping Patah Hati

Tidak ada obat tanpa efek samping, demikian pula cinta. Saat cinta berakhir, tubuh mengalami gejala yang mirip withdrawal syndrome. Penurunan dopamin dan serotonin menyebabkan perasaan hampa, kehilangan motivasi, hingga depresi. Insomnia menjadi teman malam, nafsu makan menurun, dan sistem imun melemah. Bahkan dunia medis mengenal istilah broken heart syndrome atau takotsubo cardiomyopathy, kondisi di mana stres emosional memengaruhi fungsi jantung secara nyata.
Filsafat melihat patah hati sebagai pengingat bahwa manusia tak pernah sepenuhnya berdaulat atas dirinya sendiri. Ia tunduk pada getaran kecil yang datang dari luar dirinya. Jika ditilik dari analogi ekonomi makro, patah hati menyerupai resesi: sebuah kontraksi tajam setelah periode ekspansi yang berlebihan. Pemulihan mungkin memakan waktu, tetapi sistem akhirnya belajar menciptakan mekanisme pertahanan baru.

Cinta sebagai Terapi: Placebo, Nocebo, dan Imunomodulasi

Namun cinta tidak melulu penyakit. Dalam banyak kasus, ia bekerja sebagai terapi. Efek placebo cinta dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang, bahkan tanpa alasan biologis yang jelas. Kehadiran pasangan mampu menurunkan tekanan darah, mengurangi hormon stres, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sebaliknya, efek nocebo terjadi ketika cinta justru memperburuk kondisi psikologis karena prasangka dan kecurigaan yang berlebihan.

Konklusi Sederhana

Membaca cinta dari perspektif farmakologi adalah upaya menyingkap wajah lain dari perasaan yang selama ini dianggap murni spiritual. Ia memiliki mekanisme yang dapat dijelaskan secara biologis, tetapi tetap menyisakan ruang misteri yang tak tersentuh oleh sains. Penulis percaya, justru di persimpangan antara ilmu dan filsafat itulah cinta menemukan maknanya yang paling utuh.
Seperti terapi, cinta menuntut dosis yang tepat, pemahaman akan interaksi, kewaspadaan terhadap efek samping, dan kesabaran dalam proses penyembuhan. Dan sebagaimana ekonomi global yang selalu mencari keseimbangan antara ekspansi dan resesi, cinta pun bergerak dalam siklusnya sendiri: kadang penuh gairah, kadang jatuh, tetapi selalu memberi pelajaran tentang bagaimana manusia belajar bertahan.
Trending Now